Kata Mutiara

Tidak akan kembali hari-hari yang telah berlalu

Senin, 06 Maret 2017

TIDAK ADA ALASAN UNTUK TIDAK BER-MUHAMMADIYAH

Ita Ssmita,
Kabid Advokasi PR IPM SMK 4 Jeneponto
Sebenarnya sungguh sangat sulit bagi saya untuk menciptakan sebuah karya erita, apalagi cerita yang bersangkutan dengan “Muhammadiyah” mengapa saya katakana demikian, karena sebenarnya saya belum terlalu mendalami Muhammadiyah yang sesungguhnya. Saya masih kader yang direkrut pada bulan januari lalu. Saya baru kurang lebih satu bulan di Muhammadiyah yang bias dikatakan seorang kader baru yang masih memiliki tingkat pengetahuan yang minim. Namun, sebagai kader baru itu tak menjadi sebuah penghalang bagi saya untuk berkarya. Tak apalah mencoba dahulu daripada tidak sama sekali. Bismillah semoga karya saya bermanfaat.
Sudah berbagai organisasi Islam yang kupelajari entah mengapa Muhammadiyah menjadi begitu special dihatiku. Mungkin karena aku dilahirkan walau bukan warga NU tapi melaksanakan amalan-amalan NU seperti tahlilan, qunut pada shalat subuh, kerap mengirim surat Al-Fatihah pada saudara-saudara yang sudah meninggal serta tidak gampang mengkafirkan saudara yang berbeda aliran. Kedekatanku dengan Muhammadiyah semakin mesra ketika mulai mengikuti sebuah kajian yang diisi oleh ayahanda-ayahanda Muhammadiyah. Muhammadiyah mengajariku banyak hal, menjadikan aku tegas dalam bersikap, mengajariku ilmu agama yang begitu berharga, menjadikan diriku seorang yang pandai mensyukuri sesuatu hal apapun itu dan masih banyak lagi, Aku juga menyukai sifat-sifat mulia Muhammadiyah seperti :
1.      Dalam aqidah, berpedoman pada tauhid murni. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad saw adalah utusan Allah dengan tauhid murni ini. Muhammadiyah memerangi perbuatan syirik, termasuk tahayul yang sangat mengakar di masyarakat. Sejak awal berdirinya hingga saat ini, banyak perbuatan syirik yang diberangus oleh Muhammadiyah. Syirik selain merupakan perbuatan dosa besar yang tiada ampun, juga merupakan salah satu perbuatan yang dapat menghalangi umat manusia untuk membangun peradaban. Syirik menjadikan manusia terikat dengan benda, dan bukan tunduk hanya kepada Allah semata. Perbuatan ini tentu bertentangan dengan tugas utama di muka bumi, yaitu sebagai khalifatullah, tugas utama manusia adalah membangun peradaban yang sesuai dengan jalur syariat. Muhammadiyah mempunyai cita-cita mulia, baldatun tayyibatun wa rabbun ghafur yang diterjemahkan oleh Muhammadiyah dengan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
2.      Dalam Ibadah, Muhammadiyah sangat hati-hati selalu mencari dalil sahih agar ibadah yang dijalankan sesuai dengan tuntutan syariat. Muhammadiyah tidak mau terjatuh kedalam jurang bid’ah dengan melakukan ibadah yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah saw. Muhammadiyah sanat menyadari bahwa bid’ah merupakan perbuatan tercela dengan ancaman neraka bagi pelakunya. Muhammadiyah selalu berpegang kepada kaidah usul, bahwa seluruh ibadah adalah haram, kecuali ada dalil yang menunjukkan mengenai perintah agama tersebut.
3.      Dalam Akhlaq, Muhammadiyah sangat menjunjung tinggi sifat amanah, berapapun dana yang dititpkan ke Muhammadiyah hamper bias dipastikan akan disalurkan sesuai dengan amanah umat. Dengan jiwa amanah yang tinggi itu, berbagai amal usaha Muhammadiyah bias berdiri sebagai wujud dorongan terhadap nilai amanah ini, Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih dan Tajdid menulis buku pedoman yang sangat urgen bagi bangsa kita saat ini “Fikih Anti Korupsi” buku ini merupakan dorongsn moral dari Muhammadiyah untuk bangsa dan Negara.
4.      Dalam Muamalah, Muhammadiyah selalu kreatif. Muhammadiyah melihat bahwa muamalah duniawiyah urusan manusia dan melihat maslahat manusia sesuai dengan jalur syariat. Dengan sikap kreatif itu Muhammadiyah mampu membangun amal usaha, baik rumah sakit, sekolah/madrasah, panti asuhan, dan perguruan tinggi. Melalui media seperti TVMU, radio, website, majalah dan lainnya, koperasi dan masih banyak lagi. Semua itu dijalankan karena kesadaran yang mendalam mengenai tugas manusia sebagai wakil Tuhan di muka bumi. Muhammadiyah selalu berpegang kepada kaidah ushul, bahwa urusan muamalah kita harus melihat kepada spirit dan maqashid.
Masih banyak lagi sifat-sifat mulia Muhammadiyah yang dimiliki oleh Muhammadiyah minimal empat hal tadi menjadi kesyukuran tersendiri bagi saya menjadi bagian dari Muhammadiyah. Semoga Muhammadiyah ke depannya semakin maju dan berkembang. Semoga cita-cita mulia Muhammadiyah untuk membentuk masyarakat utama segera terwujud.
Kita sudah mengetahui beberapa sifat mulia yang dimiliki oleh Muhammadiyah. Namun apakah sebenarnya pengertian, latar belakang terbentuknya Muhammadiyah dan sejarah dari Muhammadiyah?
Muhammadiyah yaitu suatu organisasi Islam yang besar di Indonesia. Nama Muhammadiyah diambil dari kata nama nabi Muhammad. Muhammadiyah dari kata estimologis arab yakni Muhammad yang berarti nabi/rasul sedangkan yah berarti pengikut atau mengikuti. Jadi, nama Muhammadiyah berarti umatnya nabi Muhammad saw atau pengikut nabi Muhammad saw. yaitu semua orang-orang yang meyakini bahwa Muhammad adalah hamba dan pembawa pesan Allah yang terakhir untuk menyebarkan ajaran Islam tauhid dengan demikian bukanlah kita sudah mengetahuinya dengan sangat jelas. Untuk itu siapapun yang merasa bahwa dia adalah seorang yang beragama Islam maka dia adalah orang Muhammadiyah tanpa dilihat dari dan dibatasi oleh perbedaan organisasi, bangsa, golongan, etnis, dan geografis. Ini merupakan arti dan makna Muhammadiyah apabila dilihat dari segi perspektif kata. Kemudian arti istilah atau terminologis Muhammadiyah dalam kacamata atau lingkup organisasi Muhammadiyah adalah gerakan dakwah Islam yang bersifat amar makruf nahi mungkar, berasaskan Islam bersumber Al-Qur’an dan Sunnah Maqbulah.
Muhammadiyah didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 H bertepatan pada tanggal 18 November 1912 M di kampong Kauman Yogyakarta. Gerakan ini diberi nama Muhammadiyah dengan maksud untuk berta’faul (berpengharapan baik) dapat mencontoh dan meneladani jejak perjuangan nabi Muhammad saw dalam menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam semata-matademi terwujudnya izzul Islam wal muslimin,  kejayaan Islam sebagai idealita dan kemuliaan hidup umat Islam sebagai realita.
Muhammadiyah tidak lepas dari peranan KH.Ahmad Dahlan di Yogyakarta pada tahun 1869 dan wafat 1923 dengan nama asli Muhammad Darwis anak seorang kiai H. Abu Bakar bin Sulaiman khatib Masjid Kauman atau kesultanan Yogyakarta. Lantas ia pergi ke Makkah pada tahun 1890 dan belajar dengan seorang guru syekh Ahmad Khatib dari Minangkabau, salah seorang ulama yang kharismatik dan besar di Masjid Al-Haram.
Sepulang dari Makkah, KH. Ahmad Dahlan mendalami Al-Qur’an dan menelaah, membahas, meneliti, dan mengkaji kandungan isi Al-Qur’an. Sikap KH.Ahmad Dahlan ini sebagaimana sesungguhnya dalam rangka melaksanakan firman Allah dan surat Muhammad ayat 24 yang pada dasarnya adalah melakukan tadabbur atau memperhatikan dan mencermati dengan penuh ketelitian terhadap apa yang tersirat dalam ayat Al-Qur’an.
Sikap inilah yang dilakukan KH. Ahmad Dahlan ketika menatap surat Ali Imran ayat  104 yang artinya “Dan hendaklah ada diantara kamu sekalian segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyeru kepada yang makruf dan mencegah yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung”.
Memahami seruan di atas, KH.Ahmad Dahlan tergerak hatinya untuk membangun sebuah perkumpulan organisasi atau persyarikatan yang teratur dan rapi dimana tugasnya melaksanakan misi dakwah Islam amar makruf nahi mungkar di tengah masyarakat Indonesia. Mula-mula ajaran awal yang menjadi embrio sejarah beridirinya organisasi Islam Muhammadiyah ini ditolak, namun berkat ketekunan dan kesabaran hati KH. Ahmad Dahlan akhirnya mendapat sambutan dari keluarga dan teman dekatnya meskipun berat dengan perjuangan yang berat “berdarah-darah”. Profesinya sebagai pedagang sangat mendukung ajakan beliau yang mengingatkan kita kepada sosok nabi Muhammad saw.
Dalam waktu singkat ajaran ideology Muhammadiyah yang dibawa KH.Ahmad Dahlan menyebar keluar kampong Kauman bahkan sampai keluar daerah dan luar pulau Jawa. Untuk mengorganisir kegiatan tersebut, maka didirikanlah Persyarikatan Muhammadiyah. Berawal dari pembentukan perkumpulan Muhammadiyah sebagai bentuk manifestasi ideology yang dibawa KH. Ahmad Dahlan, kini Muhammadiyah telah ada diseluruh pelosok tanah air dan menjadi organisasi Islam berpengaruh di Indonesia.
Namun sejarah atau dibentuknya organisasi Muhammadiyah ini karena adanya latarbelakang ketidakmurnian ajaran Islam. Hasrat dari KH. Ahmad Dahlan ketidakmurnian ajaran Islam dimengerti oleh beberapa umat Islam di Indonesia. Untuk wujud penyesuaian tak tuntas pada kebiasaan local nusantara dalam awal bermuatan faham animism serta dinamisme hingga pemurnian ajaran Islam jadi pilihan mutlak untuk umat Islam Indonesia.
Kelatarbelakangan umat Islam Indonesia dalam sisi kehidupan jadi sumber keprihatinan untuk mencarikan jalan keluar supaya bias keluar dari kelatarbelakangan. Maraknya kristenisasi di Indonesia sebagai dampak domino dari imperialism Eropa di Indonensia ke dunia timur sebagian besar beragama Islam proyek kristenisasi satu paket dengan proyek imperialism serta modernisasi bangsa Eropa, tak hanya hasrat untuk memperluas daerah koloni untuk pasarkan beberapa produk hasil revolusi industry yang melanda Eropa. Modernisasi yang terhembus melewati jenis pendidikan barat (Belanda) di Indonesia mengusung paham-paham yang melahirkan modernisasi Eropa, seperti sekularisme, individualism, liberalism, dan rasionalisme. Bila penetrasi itu tak dihentikan maka bakal lahir generasi baru Islam yang rasional tetapi liberal serta sekuler.
Ternyata dari sini kita bias mengetahui bahwa begitu gelap sisi latarbelakang terbentuknya Muhammadiyah dan begitu besar perjuangan KH.Ahmad Dahlan, Masya Allah sungguh sangat-sangat luar biasa. Hadirnya Muhammadiyah memang membawa sebuah perubahan yang sangat bagi banyak orang terutama pada diri saya. Hadirnya Muhammadiyah dalam hidup saya memberikan perubahan yang sangat berarti, walau dulunya saya adalah seorang yang seringkali melalaikan segala perintah Allah, namun Alhamdulillah kebiasaan itupun hilang sedikit demi sedikit, yang dulunya saya juga sering keluar cari hiburan, refreshing, tanpa tujuan yang jelas, sekarang Alhamdulillah diisi dengan kajian-kajian yang sangat bermanfaat.
Terima kasih kepada orang-orang yang tetap men-support saya hingga menjadi bagian dari Muhammadiyah, walaupun semasa perkaderan saya masih mengelak, keras kepala, dan banyak komentar tentang apa sih Muhammadiyah itu, apa manfaatnya, tapi sekarang saya sadar Muhammadiyah banyak member perubahan dalam hidup saya. Saya bangga jadi bagian dari Muhammadiyah.
Nah, untuk itu tidak ada alasan lagi untuk tidak menjadi bagian dari Muhammadiyah. Mengapa demikian? Ini dikarenakan sebagaimana yang saya jelaskan dalam pengertian Muhammadiyah tadi yang pada intinya siapapun yang merasa beragama Islam maka dia adalah orang Muhammadiyah. Apalagi yang Anda tunggu mari menjadi bagian dari Muhammadiyah. Bersama Muhammadiyah bertindak optimis dan bertindak menyongsong perubahan warga masyarakat amar makruf nahi mungkar.

Sekian, Wassalamu ‘Alaikum wr.wb.

Jumat, 06 Januari 2017

MENGAPA BANYAK ORANG TIDAK JENIUS


Boleh jadi karena penjara pikiran atau keyakinan yang salah. Anda bisa membayangkan bebas masih bisa dipenjara. Apalagi fisik yang hanya “budaknya” pikiran tentu akan mudah di penjara. Betapa manusia makhluk paling “binging” dengan pikirannya sendiri. Manusia dengan kemampuan pikirannya mampu menciptakan peradaban di muka bumi demi kepentingan sendiri. Begiti menciptakan peradabannya manusia tidak berkutik dengan baarang ciptaannya. Manusia harus patuh dengan segala aturan, norma, etika, hingga aturan protokoler yang seringkali kembali memenjara pikirannya.
Akan tetapi kebingungan itu, manusia terus mencari dan mencari celah-celah kosong dari ketatnya “norma” peradaban demi penyempurnaan hidup. Dengan bingung manusia menjadi belajar, penjara pikiran manusia tidak terbatas jumlahnya. Pikiran manusia yang binal dan liar, yang cenderung ingin bebas sebebas burung yang terbang harus berhadapan dengan budaya hasil ciptaannya. Bahasa adalah budaya tertua manusia agar antar manusia bisa saling menyiapkan pesan. Celakanya, bahasa juga penjara pikiran.
Penjara pikiran ada di sekitar kita. Penjara pikiran berasal dari lingkungan keluarga, sekolah, tempat kerja, dan dari masyarakat umum, tempat kita kita hidup. Semua membelenggu pikiran sehingga pikiran tidak bisa tumbuh secara bebas. Lingkungan keluarga adalah lingkungan pertama yang mengisi pikiran kita. Pikiran bebas kita mulai dibentuk oleh orang tua kita. Pada saat dalam pikiran mulai tumbuh rasa ingin tahu dan mencoba membongkar-bongkar mainan baru, orang tua kita akan melarangnya.
Di sekolah ketika kita tidak bisa menjawab dengan benar, kita akan dihukum, ketika sedikit berbeda pendapat dengan guru kita juga tidak akan dapat apresiasi. Jawaban benar seolah-olah milik guru, padahal benar dan salah dalam dunia kreatifitas nilainya sama.
Di tempat kerja juga sama, pikiran kita mendapat “perlakuan” hukuman. Begitu kita masuk kerja, sudah ada program konduksi. Pikiran kita harus berhadapan dengan budaya organisasi, aturan senoritas, dan lainnya. Pegawai muda yang berprestasi harus mengalami kenyataan adanya “Manajemen Urut Kacang” pikiran berliannya kurang mendapat tempat untuk berkreasi. Jika kita telusuri, pikiran kita sesungguhnya penuh sesak dengan program pikiran orang lain yang muncul karena adanya sosialisasi lingkungan. Kita adalah “penghuni” penjara mental buatan orang lain dan kita tidak berdaya menghadapinya.
Penjara mental adalah system keyakinan yang salah dan memaksa diri kita untuk melahirkan sesuatu dengan normanya. Contoh semenjak di sekolah pikiran kita telah direkomendasikan dengan “gagal itu suatu yang harus dihindari”. Oleh karena itu, kita pun menjadi takut gagal dan tidak berani mencoba hal-hal yang baru.
Adalagi bahwa “gelar akademik lebih penting daripada kualitas diri”, entah pihak mana yang sengaja atau tidak. Memprogram pikiran semacam itu yang jelas system keyakinan yang salah itu menjadikan sebagian besar di antara kita mementingkan gelar (palsu) daripada kualitas diri.
 Penjara mental kurang lebih sama dengan “hantu” pikiran. Begitu mengingatnya pikiran merasa takut terlebih dahulu sebelum mencoba. Takut bayangan terlebih dahulu, kalah sebelum bertanding, cermen mental tempe (mudah menyerah).
System keyakinan salah bisa mengalahkan pikiran sadar, bisa kita bayangkan seandainya pikiran kita dipenuhi oleh banyak keyakinan yang salah. Pikiran autentik di penjara oleh pikiran yang salah. Apapun program yang saya tawarkan kepada Anda, misalnya anda akan sulit menerimanya karena system yang salah akan segera menghakimi dan menvonis bahwa program baru yang saya tawarkan tidak menarik.
Kalau demikian, kapan anda bisa berubah? Sepanjang tidak ada kesadaran dan keberanian untuk bertindak semua hambatan (keyakinan yang salah) jangan harap ada perubahan dalam diri Anda. Perubahan dalam diri Anda. Perubahan hanya bisa terjadi kalau ada ada tindakan “Action is Power”.
Opini umum begitu ditanya apa genius itu asosiasinya pasti mengarah pada satu kecerdasan dengan kondisi IQ tinggi. Tetapi, dalam Genius Learning Revolution ini, genius disini bukan berarti hanya mereka yang punya IQ tinggi, tetapi lebih berarti kepada kesuksesan hidup yang luar biasa. Sebab kalau hanya punya IQ yang tinggi banyak orang yang tidak punya kesempatan untuk menjadi kelompok ini, padahal banyak orang sukses tidak selalu mempunyai IQ yang tinggi. Genius lebih berarti kepada keadaan seseorang dalam menyikapi hidupnya secara holistic.
Hasil penelitian Daniel Goleman dalam bukunya “Emosional Intelegensi” sesungguhnya manusia mempunyai dua otak, yaitu otak kiri dan otak kanan. Keselarasan kedua otak itu sangat diperlukan. Dan kalau kita bisa memberdayakan secara seimbang, sebenarnya kecerdasan manusia akan timbul secara dahsyat. Struktur otak kiri kita berkaitan dengan hal-hal yang logis, linear, dan rasional, aktif, penilaian, kenvergen, dan nomerik. Sedang otak kanan sarat dengan hal-hal yang berkaitan dengan sifatnya eksperimental, difergen, metaforikal, subjektif, nonverbal, intuitif diffuse, holistic, dan reseptif.
Fakta menunjukkan bahwa selama ini dalam system pendidikan kita selalu menekankan otak kiri dan IQ tinggi. Kita lebih banyak dianjurkan untuk selalu berpikir dengan otak kiri padahal hal tersebut ada kelemahannya. Kita tidak dapat mengguanakannya bila data tak lengkap atau sukar diperoleh data. Maka, jika kita termasuk kategori otak kiri dan tidak melakukan upaya tertentu dengan mengaktifkan otak kanan maka kan menimbulkan ketidakseimbangan. Dengan demikian, GENIUS disini saya maksimalkan satu upaya memaksimalkan perberdayaan otak kiri dan otak kanan secara seimbang. Genius bukan dilahirkan tetapi diciptakan.
Genius adalah suatu hasil pencapaian yang luar biasa dahsyat. Pencapaian yang luar biasa ini merupakan sebuah kemauan X dan strategi X action. Untuk bisa menggapai super sukses/genius, orang harus berani keluar dari kebiasaan yang ada, baik berpikir ataupun bertindaknya.
Benar kata Johan Eliot dalam bukunya “Super Performance” anda tidak akan pernah unggul kalau masih berpikir dan bertindak normal. Jadi untuk menjadi orang sukses atau menjadi kelompok genius yang pertama diperlukan adalah kemauan yang kuat untuk merubah dan siap membayar harganya. Orang tidak akan pernah berhenti memperjuangkan impian besarnya. Karena baginya yang berhenti adalah yang mati, yang abadi hanya perubahan untuk mencapai sukses.
Perubahan bisa dicapai dengan disadari, diinginkan, dan diperjuangkan dengan sepenuh hati. Orang-orang genius mempunyai kemauan yang kuat, tidak mudah menyerah, tidak cengeng walaupun mungkin kegagalan selalu menyertainya. Bukan berapa kali gagalnya tetapi yang penting adalah berapa kali bangkitnya untuk berhasiil. Saat ini gagal bukan berarti besok akan tetap gagal selama masih ada tekad dan kemauan yang kuat baginya selalu ada peluang untuk sukses, sukses selalu terbuka.
Begitu sebaliknya, saat ini berhasil bukan berarti besok otomatis akan berhasil lagi. Tanpa ada kesiapan yang lebih matang dan berjuang lebih keras lagi, sangat mustahil untuk mempetahankan keberhasilan. Hidup ini adalah kemauan untuk berubah itulah proses perjuangan, life is stuggle.
Ada empat tipe manusia yang memengaruhi keberhasilan dalam hidupnya begitu kata Andrie Wongso mativasi no. 1 di Indonesia.
*      Orang yang tidak punya strategi dan tidak ada kemauan untuk berparaktek, ini jelas akan gagal dalam hidupnya.
*      Orang yang punya teori dan tidak mau praktek ini juga akan gagal dalam hidupnya.
*      Orang yang tidak punya teori tapi mencoba untuk praktek, walaupun lambat orang tipe ini akan berhasil karena paling tidak punya syarat personal excellent, baginya action is power.
*      Orang yang punya teori dan menerapkan. Inilah tipe genius yang akan super sukses dalam hidupnya.
Dan orang sering mengatakan strategi atau knowledge is power, pengetahuan adalah kekuatan namun apabila pengetahuan ini tidak diaplikasikan maka tidak ada hasil yang didapat. Maka kata-kata di atas lebih tepat bila kita katakana “knowledge is potensial power” bisa berhasil apabila digunakan dalam hidupnya, action is power..!!
Pada kelas IX, saat itu muncul satu pertanyaan “apa rahasia keberhasilan seseorang”? dalam upaya mencari tahu jawaban, kami menghabiskan waktu untuk belajar secara otodidak.
Orang yang genius adalah orang yang super sukses, orang yang bertanggungjawab belajar dan bertindak. Bila kita rajin tapi tak pernah bertindak, pembelajaran kita akan sia-sia Karena tindakanlah yang membawa hasil. Sebaliknya, bila kita bertindak tanpa belajar, kita akan menabrak-nabrak dan akan memakasa kita untuk belajar lebih menyakitkan.
Akhirnya manfaat dan perubahan akan timbul ketika ada tindakan! Ambil keputusan sekarang juga untuk membuat diri lebih berdaya “personal Excellent” serta bertanggungjawab untuk pencapaian maksimal. Meskipun tersedia pengetahuan dan alat bantu yang luar biasa, pengetahuan dan alat bantu itu sendiri tidak akan menciptakan perubahan. Kitalah yang harus melakukan perubahan tersebut dengan bertindak.! SALAM GENIUS
Jeneponto, 23 Juli 2016
Nama : Nur Intang
Kelas : IX



ARTI SEBUAH PERSAHABATAN


Seperti biasa Aku pergi ke sekolah naik Angkutan Sekolah yang bisa menampung tiga puluh orang. Warna mobil yang biasa Aku tumpangi berwarna biru langit. Di atas mobil tersebut berjejer tempat duduk dan bahkan jika tempat duduk sudah muat ada juga yang berdiri terutama laki-lakinya. Aku bersama dengan Mirna, Risna, Rahmia, Basma dan yang lainnya. Tak berapa lama kemudian kami semua telah sampai di sekolah sebuah Pesantren yang letaknya sangat strategis. Pada saat turun dari mobil angkutan sekolah diikuti oleh siswa dan siswi yang lainnya.. Ada suara yang memanggilku setengah berteriak. Kulihat dia memakai rok abu-abu baju putih dengan jilbab putih datang menghampiriku.
“Risa” Teriak Dani datang dari sebelah utara Pesantren dengan lari-lari kecil.
“Eh, Dani baru sampai juga yah” jawabku menyambut kedatangan Dani.
“Tumben, cepat datang” Mirna juga ikut menyahut dan menoleh ke Dani.
“Iya, kan anak rajin” Seru Dani sambil tersenyum tipis.
            Merekapun melangkah masuk di sebuah Pesantren yang bernama Darul I’tishan Embo. Letaknya sangat strategis karena berada di perempatan di Desa Embo. Pesantren yang tergolong baru. Di Pesantren ini ada beberapa kelas dan tempat asrama yang disediakan bagi yang rumahnya jauh dan ingin nyantri ketika malam harinya. Masyarakat setempat sangat antusias memasukkan anaknya ke Pesantren ini untuk memperdalam ilmu agama disamping itu juga ada ilmu-ilmu umum yang diajarkan dengan metode dan kurikulum yang ada disini Pesantren ini.
“Gimana jika  sebelum pulang kita ngumpul bareng” jawabku
“Ngapain, kira-kira apa rencanamu, Sa” desah Dani
“Ada aja, nanti kalian semua tahu jika kalian mau” jawabku lagi.
“Ok, deh” jawabnya dengan serempak.
“Aku duluan masuk ke kelas yach” kata Mirna sambil berlalu jalan menuju ke kelasnya.
“Aku juga duluan masuk ke kelas, Bu guru sudah datang” seru Risna
            Aku, Risna, Dani, dan Mirna adalah sahabat semenjak kami pertama kali masuk di Pesantren ini. Juga masih ada beberapa orang lagi. Persahabatan yang berlangsung selama tiga tahun ini. Kami harus saling memahami antara satu dengan yang lainnya. Walau kami juga harus tahu bahwa tidak selamanya kami semua harus selalu bersama. Namun, silaturahim tetap menjadi prioritas kami. Jika tidak, entahlah apa yang akan terjadi.
            Kata orang lebih baik diputuskan sama pacar dibanding putus hubungan dengan sahabat. Sebab pacar belum tentu setia dan mau berbagi seperti sahabat. Dan untuk menjalin sebuah persahabatan akan lebih kuat dan sejati jika dilhat sebagai sesama makhluk spiritual yang sama-sama ingin berdamai. Persahabatan tidak akan dapat abadi jika hanya melihat aspek fisik belaka. Persahabatan akan lebih bernilai dan abadi apabila di dasari oleh kesadaran spiritual. Sebuah kesadaran yang menempatkan manusia pada derajat yang sama. Perbedaan tidak diukur dengan kedudukan atau harta. Ukurannya adalah amal perbuatan. Bersahabatlah karena perbuatan bukan karena hartanya.
            Aku pun berharap seperti itu persahabatan kami tetap langgeng hingga ajal menjemput kami. Aku tak ingin hanya karena masalah sepele persahabatan kami terancam bubar. Itulah yang selalu Aku hindari. Kami satu sama lain merasa saling kesepian jika tak bertemu dengan mereka semua.
              Tak terasa tiga tahun kami disini sekolah di Pesantren ini ada banyak canda, tawa, sedih, senang dan lainnya. Dinamika kehidupan terus berjalan tanpa henti. Bel pulang telah berbunyi seperti janjiku tadi pagi untuk menyuruh mereka berkumpul di kelas. Mereka semua telah datang.
“Terima kasih teman-teman telah menyempatkan untuk berkumpul” jawabku datar saja.
“Aku punya rencana gimana kalau sebelum kita berpisah dari sekolah ini untuk mengadakan pesta kecil-kecilan, lagian kita kan hampir tamat dan boleh jadi setelah lepas sekolah kita semua jarang bertemu” Aku kemudian utarakan dan menjelaskan kepada sahabat-sahabatku tentang rencanaku.


  

بَÙŠْتِÙŠْ جَÙ†َّتِÙŠْ


Rumah adalah sebuah tempat untuk bernaung dan sebagai tempat kita untuk berlindung baik dari hujan dan terik matahari. Rasulullah sendiri pernah menyabdakan bahwa rumahku surgaku. Kita tahu bahwa Rasulullah saw mempunyai tempat tinggal yang sangat sederhana untuk beliau tinggali. Namun karena ia merasa nyaman dan penuh dengan kebahagiaan mestinya juga menjadi contoh bagi umatnya yakni umat muslim seluruhnya. Rumah adalah sebuah tempat idaman bagi seseorang bahwa sekarang banyak yang membangun rumah untuk mereka tinggali sebagai tempat untuk anak dan istri mereka bagi yang telah berkeluarga. Hal ini adalah sebuah keniscayaan bagi yang telah memiliki sebuah rumah. Tetapi, ada juga yang hanya sebuah gubuk kumuh yang dimilikinya bahkan juga ada yang tidak punya rumah sama sekali dan menjadi gelandangan dijalanan dan tak tentu arahnya. Hingga akhirnya mereka mungkin tinggal di kolong jembatan atau dimana saja sebagai tempat untuk berlindung. Rumah tempat dimana sebuah keluarga dapat bercanda tawa, gembira,senang, sedih dan lain sebagainya sebagai wujud akan rasanya. Tentu ini menjadi sebuah hal yang senantiasa di dambakan oleh orang-orang mereka tinggali. Namun, tidak sedikit juga yang hanya karena sebuah rumah hancur berantakan akibat ada yang ingin memiliki rumah tersebut dengan sewenang-wenang dan ingin menang sendiri. Sehingga tak jarang mereka berakhir dengan kemarahan yang besar dan mereka kemudian pergi dari rumahnya lantaran mereka di usir dan tak akan kembali lagi. Miris rasanya, jika hal itu terjadi, tetapi kiranya itu menjadi sebuah refleksi bagi kita mengintrospeksi diri bahwa tempat kita nantinya adalah sebuah tempat dimana hanya kita sendiri yang akan menghuninya yaitu kuburan. Dengan demikian, untuk apa rumah yang megah jika tak ada kebahagiaan bagi kita. Namun mereka yang memiliki rasa untuk meninggalinya dengan penuh kasih dn cinta yang tulis tentunya itulah sesungguhnya menjadi idaman setiap orang. Rumah memang seharusnya menjadi hal yang prioritas bagi kita sebab itu adalah salah satu kebutuhan primer yang mesti harus ada dan menjadi tumpuan harapan setiap orang. Inilah kiranya menjadi sesuatu yang mesti dipikirkan oleh siapa saja ketika hendak membangun sebuah tempat untuk berlindung.

Seperti halnya juga dengan ka’bah, yang merupakan tempat berkumpul atau berlindung, atau tempat memperoleh pahala atas ibadah haji, umrah, atau ibadah lainnya dengan pahala yang berlipat ganda dibandingkan dengan ibadah di tempat-tempat lain. Ka’bah dinamakan bait yang berarti rumah. Karena rumah adalah tempat kembali untuk beristirahat. Jika seseorang lelah atau gelisah dalam perjalanan, maka ia kembali ke rumahnya. Di sana kelelahan dan kegelisahan akan hilang atau berkurang. Demikian pula dengan rumah Allah. Hati manusia akan terpanggil untuk berkunjung kesana (M. Quraisy Shihab, Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an, Volume 1, hal.304).
Rumahku surgaku, dimana di dalamnya terdapat ketenangan jiwa dan kebahagiaan tersendiri bagi yang punya rumah termasuk penulis sendiri. Itulah kiranya kata yang tepat untuk rumahku yang penulis tinggali selama ini sebelum hijrah ke Makassar kuliah. Rumah tersebut salah satu rumah yang sudah sangat lama dan belum pernah di renovasi bahkan sekarang telah roboh disebabkan angin yang bersamaan dengan hujan yang menimpanya. Tetapi apa yang mesti dikecewakan semua telah terjadi dan kini rumah tersebut tidak ditinggali lagi. Harapan untuk memiliki rumah sendiri masih ada sebab ibu dan penulis sendiri telah memikirkan itu sejak lama juga ada usaha untuk membangun rumah membeli beberapa tiang dan penyangga itupun belum cukup dan masih memerlukan lagi untuk bisa membangun sebuah istana untuk ditinggali tetapi bukan ditempat rumah tersebut lagi atau di kampung itu namun jauh dari sana yakni di kampung orang tua suami dari ibu penulis. Sebenarnya penulis dan sekeluarga untuk tetap tinggal disana oleh keluarga lain. Kendalanya tidak ada tanah dan sesuatu yang bisa dikelola disana seperti kebun sedangkan di kampung bapak penulis ada tanah dan kebun untuk ditinggali. Penulis biasa berseloroh bahwa rumah itu bagaikan rumah kuno yang ada di zaman modern tanpa lampu. Namun satu hal yang meski diketahui bahwa walaupun rumah seperti sekarang ini penulis merasa tetap bisa menikmati akan nikmat kebahagiaan dan ketenangan walapun rumah sebelum roboh itu kami tempati untuk istirahat dan berlindung dalam kelelahan dan lainnya.

   

Kesabaran Yang Tinggi

KEKUATAN DOA
Seandainya Allah tidak menciptakan langit dan bumi beserta isinya.
Apakah mungkin kubisa seperti apa yang aku inginkan ku melangkah dengn kakiku sendiri dan aku berbicara lewat mulutku sendiri.
Namun kumerasa itu sangat berarti karena aku bias melakukan sesuatu dengan caraku sendiri dan semua itu berhasil karena-Nya
Doaku slalu kupanjatkan kepadamu ya Allah karena hanya engkaulah tempat aku meminta dan memohon ampunan ya Allah
Izinkan diri yang lemah ini menjadi kuat dan tagas agar bias memimpin umat Islam ke jalan yang benar
By : CADEL
IKHLAS DAN SABAR
Selalu baik buat kepada orang lain tetapi terkadang orang itu membuat perasaan kita tidak pernah dihargai
Akan tetapi kita harus selalu sabar sebab orang yang sabar pasti akan menemukan jalan keluarnya sendiri
Namun terkadang juga kesabaran kita juga berkurang karena emosi tergoda syetan
Dan jika kita melawannya dengan penuh rasa keikhlasan karena Allah bersama kita maka orang yang selalu bersabar maka Allah akan bersemi didalam hati para hambanya
Itu adalah cobaan bagi orang yang ingin bertaqwa kepada Allah, cintailah Allah maka Allah akan ada dalam hati bagi yang selalu bersabar jikalau menerima cobaan atau masalah.

By : CUMALA’

Minggu, 27 Maret 2016

FITNAH LEBIH KEJAM DARIPADA MEMBUNUH



  
Entah mengapa kali ini Aku di fitnah lagi, sesuatu yang tidak pernah Aku lakukan. Ini adalah bagian dari ujian Tuhan kepadaku untuk tetp tegar dan kuat menghadapi segala hambatan dan liku kehidupan yang Aku alamai. Tak mudah memang jika  kembali difitnah untuk bisa diterima. Bahkan ini menjadi beban dalam hidup Aku. Kepalaku sakit tak tertahankan disambut hati yang sering berkecamuk dalam menanggapi setiap tuduhan yang dilontarkan kepadaku. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa fitnah itu adalah semacam ujian dan fitnah itu lebih kejam daripada sebuah pembunuhan. Jika ingin merenung mengapa Allah menyatakan hal tersebut di dalam firmannya. Ini menyuruh kita untuk berpikir bahwa ini sesuatu yang sangat besar hikmahnya dalam kehidupan sehari-hari manusia. Fitnah itu sendiri menuduh orang lain tanpa ada bukti yang nyata dan itu harus mendatangkan saksi sebanyak empat orang.
            Siapapun tidak ingin ada orang yang difitnah apalagi dituduh melakukan sesuatu yang tidak dilakukannya. Sebab itu akan berpengaruh luas terhadap diri dan orang lain. Hati ini seakan gundah dan tubuhku menjadi lemas serta tak semangat lagi. Akan tetapi, Aku mencoba untuk tetap berpikir positif agar Aku kuat dan bisa tahan mental dari siapapun juga. Aku senantiasa berdoa kepada Tuhan agar selalu dikuatkan dalam menghadapi setiap cobaan dan ujian dari-Nya. Jika ada manusia mengatakan mereka telah beriman maka Allah akan memberi mereka berupa ujian sebagimana Allah sendiri telah berfirman, “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan: “Kami telah beriman,” sedang mereka tidak diuji?.”
            Tentunya setiap manusia yang hidup di dunia akan mendapat ujian dari Allah baik mereka yang beragama Islam maupun selain yang dari agama Islam. Oleh karena itu, telah jelas kepada mereka bahwa Allah akan memberikan kepada mereka berupa ujian apa saja. Entah itu kerugian bagi pengusaha, pegawai yang dipecat, petani rugi dari hasil panennya, dan lain-lain ujian yang Allah beerikan kepada manusia. Tak terkecuali kepadaku. Ada manusia yang diberikan ujian berupa harta yang berlimpah banyaknya seperti Qarun, ada manusia yang diberikan kekuasaan yang ingin menjadikan dirinya Fir’aun, ada juga manusia yang diberikan ujian berupa ilmu seperi Raja Namrud tetapi menyombongkan diri. Dan akhirnya mereka dibinasakan oleh Allah swt.
            Aku terus merenungi hidup ini bahwa manusia pada akhirnya akan kembali kepada Tuhannya untuk bertemu dengannya. Namun, tentunya sebelum bertemu dengan kita memerlukan persiapan yang matang untuk bisa bertemu. Laksana ajudan yang sedang ingin bertemu dengan Presiden. Kematian akan datang setiap saat dan manusia tak akan pernah tahu dimana mereka akan mati dan tak akan pernah tahu dimana mereka akan dikuburkan. Kematian itu akan menjadi peringatan bagi manusia yang masih mempunyai nafas dihidungnya.
            Alangkah indahnya bila kematian itu dijemput dengan khusnul khatimah dan tidak dengan su’ul khatimah. Mudah-mudahan dengan selalu mengingat kematian menjadikan manusia cerdas sebab Rasulullah mengatakan orang yang selalu mengingat kematian menjadikan dirinya cerdas. Cerdas dalam artian mempersiapkan segala sesuatunya menjadi bekal untuk dalam menyambut kematian tersebut. Jangan berpikir bagaiamana kita akan mati tetapi yang perlu adalah suadah adakah bekal kita. Jika Aku ditanya tetang hal itu maka Aku akan menjawabnya bahwa bekalku masih belum cukup dan sering kalinya aku melakukan kemaksiatan yang dibenci dan dilarang oleh Allah. Namun, Aku akan senantiasa berusaha untuk melakukan perbaikan-perbaikan untuk ber-fastabiqul khairat berlomba-lomba dalam kebaikan. Berusaha untuk berjamah di Masjid setiap waktu shalat, mengaji selama 15 menit dan menghapal Al-Qur’an, membaca buku –buku yang bermanfaat dan satu lagi menulis.
            Sekali lagi, sebagai manusia jangan mudah menfitnah orang lain jika tak ada bukti dan saksi serta jagalah lidah yang tak bertulang ini karena lidah lebih tajam dari pisau dan fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan. Mari kita saling bermuhasabah merenung diri atas apa yang telah kita lakukan jangan sampai membuat kita lalai dari mengingat Allah. Semua urusan kita kembalikan kepada-Nya jika apa yang kita usahakan telah maksimal kita laksanakan. Bertawakkala kepada Alllah adalah jalan satu-satunya untuk kita agar hati ini menjadi tenang dan mari kita terus bercermin dari hati kita masing-masing.
            Janganlah kita mudah menfitnah orang lain, apalagi Aku tak pernah sekalipun melakukannya. Prinsipku jika Aku yang melakukan kesalahan maka dengan jujur akan katakan, tetapi jika aku tak melakukan kesalahan maka dengan jujur aku katakan bahwa bukan aku yang melakukan kesalahan tersebut.

Rabu, 13 Januari 2016

MENUNGGU YANG TAK PASTI



 
Seorang Ibu yang memegang tangan anaknya di sore hari.
Nun jauh dalam lubuk hatinya yang sudah lama terpendam, ia telah menunggu seorang yang ditunggu-tunggu kedatangannya. Namun, tak kunjung datang ia hanya terus menunggu sesuatu yang tak pasti. Dan itulah dirinya kini ia telah memasuki usia paruh baya. Ia ditinggal suaminya sudah sejak lama sekitar 20 tahun lebih. Namun ia tak pernah goyah sedikitpun untuk mencari yang lain walaupun sebenarnya ada juga yang bermaksud baik datang kepadanya. Akan tetapi, ia menolak lantaran menunggu sesosok manusia yang mengarunia empat orang anak dan anak laki-laki keduanya telah lama tiada sekitar 14 tahun yang lalu. Kini ia ditemani tiga orang anaknya. Anak pertamanya sedang menyelesaikan kuliahnya di Makassar di salah satu perguruan tinggi Muhammadiyah. Anak keduanya juga telah masuk di sebuah universitas negeri di Makassar. Dan yang bungsu masih duduk dibangku Sekolah Dasar di kampungnya. Dan di antara semua saudaranya hanya ia yang mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga perguruan tinggi. Walaupun keadaan ekonominya pas-pasan tetapi karena kedua anaknya tersebut boleh jadi punya bakat masing-masing sehingga mereka mampu untuk melanjutkan sekolah hingga ke jenjang yang lebih tinggi. Tak pelak, ia sangat bersyukur dan sangat menyayangi anak-anaknya. Ia berharap anak-anaknya kelak berguna baginya dan orang lain. Kini ia tinggal di rumah yang sudah tak layak ditinggali namun apa boleh buat tempat yang ia tinggali belum pernah direnovasi selama rumah tersebut dibangun dan itupun adalah satu-satunya rumah peninggalan ayahnya. Dan sekarang ia dan anak-anaknya tinggal disitu sedangkan saudaranya yang lain ada yang sudah punya rumah dan ada juga yang Cuma numpang di rumah saudaranya.
Ia adalah seorang perempuan yang menjadi ibu dan ayah bagi anak-anaknya. Ini terbukti anak bungsunya yang didengar langsung anak sulungnya bahwa ibunya juga sekaligus ayahnya. Karena anak sulungnya laki-laki, anak bungsunya tersebut sangat akrab sekali dengan kakaknya tersebut boleh jadi karena tidak mendapat kasih sayang dari ayahnya sehingga anak bungsunya tersebut ketika datang dari Makassar untuk liburan anak bungsunya tersebut selalu bersama bahkan sangat ditunggu kedatangannya ketika baru pulang dari Makassar. Sebagai orang tua ia kemudian berwirausaha apa saja yang bisa dijual dan itu dilakukan telah mendapat pelajaran juga dari orang tuanya yang juga biasa berdagang di pasar dan ia pun mengambil alih profesi tersebut. Dan setiap menjelang subuh ia bergegas dan menyiapkan segala keperluannya untuk dibawah ke pasar. Ia biasa pergi ke pasar dengan jalan kaki dan terkadang juga dia menumpang ojek yang akan ke pasar. Dari hasil dagangannya itu hanya mampu untuk membeli keperluan sehari saja seperti ikan, sayur dan lainnya. Belum lagi anak bungsunya yang kuat sekali jajan sampai-sampai ketiak anak bungsunya tidak diberikan uang jajan ia trerus merengek untuk diberi uang. Terkadang iapun pusing tujuh keliling sebab dagangannya belum ada orang yang membeli sudah minta jajan. Ia biasa memarahinya bahkan tak segan-segan memukulnya. Iapun tersadar bahwa ia sangat menyayangi anaknya namun karena rewel dan tak bisa diam ia pun biasa melampiaskan kepadanya dan juga semua anaknya biasa kena kemarahannya. Namun sebenanrnya itu dilakukannya karena ia begitu cinta kepada anak-anaknya.
            Ia biasa merenung diri memikirkan nasibnya, yang dililit kemiskinan dan biasa menyalahkan suaminya mengapa ia tega ditinggal pergi. Ia biasa dikatakan telah gila, stres, sinting oleh orang-orang dikampungnya dan termasuk saudara-saudaranya. Namun anaknya sangat salut kepadanya ia tak mengubris ketika ada yang mengatakan seperti itu. Wajar saja, mana ada orang yang ikhlas dimadu oleh suaminya. Selama dua puluh tahun lebih tidak diberikan nafkah lahir dan batin oleh suaminya. Orang-orang mengatakan bahwa suaminya dikatakan hidup tetapi mati dan dikatakan mati tetapi masih hidup. Inilah kata mungkin pantas bagi suaminya yang rela meninggalkan begitu saja. Harapannya tak pupus ditelan masa ia senantiasa mengingatkan kepada anaknya yang kuliah di Makassar untuk datang kepadanya untuk meminta uang sebagai tanggungjawabnya. Harapan untuk bersama lagi dengan suaminya tinggi sekali dan tak pernah padam oleh apapun itu, ia mengalami gangguan psikologi kejiwaan karena ulah suaminya. Menunggu yang tak pasti mungkin sebuah kalimat yang tepat untuknya. Tulisan ini mencoba menggambarkan betapa ia sangat kesepian dalam kesendiriannya mencoba untuk terus bersabar menanti, menanti dan terus menanti sampai kapanpun hingga harapannya dapat terwujud. Salah satu harapannya adalah ia ingin membangun rumah untuk dirinya dan anak-anaknya. Besar harapannya untuk bisa tinggal layak seperti kebanyakan orang dapat tidur dengan nyenyak. Ia biasanya tidak dapat tidur dengan nyenyak akibat suara bising seng yang diakibatkan oleh angin bersamaan dengan hujan. Ia tak takut tidur di rumah yang hanya ditemani lampu kaleng sinanya tak mampu menyinari suasana rumah hampir roboh tersebut. Baru-baru ini ini ia terpaksa tidak bermalam lagi di rumah tersebut karena rumah itu sujud kebelakangan (baca: roboh). Kini ia tinggal bersama dengan anak bungsunya sebab kedua anaknya tinggal di Makassar untuk melanjutkan kuliahnya. Ia sebenarnya tak membiarkan kedua anaknya tersebut untuk kuliah. Namun kedua anaknya memberikan pengertian bahwa mudah-mudahan dengan anaknya kuliah di Makassar nantinya dapat mengurangi bebanya di kemudian hari.
            Ia biasa dipanggil oleh orang dengan sebutan “sia” itu nama panggilannya baginya sedang nama yang tertera di ijasahnya adalah syamsiah dan terkadang juga dipanggil degan sebutan salasia. Namanya ayahnya bernama Jumaka dan Ibunya bernama Sala’. Ia adalah anak ketiga dari lima bersaudara. Juga ia mempunyai saudara tiri lima orang dari ayah yang sama dengan ibu yang berbeda yang tak lain adalah saudara dari ibunya yang bernama Hanang. Ia tinggal di salah satu kabupaten di Sulawesi selatan tepatnya di Jeneponto kecamatan Tamalatea kelurahan Bontotangnga lingkungan Bumbungloe. Semua saudaranya dengan ia akur-akur saja namun terkadang pertikaian antar saudara tidak bisa dihindari itu wajar saja. Siapa pun akan mengalami hal seperti itu disetiap keluarganya. Sebagai contoh antara ia dan saudara kandung sendiri yakni kakak pertamanya yang perempuan tidak akur hingga beberapa tahun lamanya. Namun sekarang sudah berbaikan dengannya dan juga antara saudara bungsunya juga pernah berselisih. Kini saudara bungsunya telah tiada meninggalkan seorang suami dan juga empat orang anak. Tiga laki-laki dan satu perempuan. Walaupun begitu ia seakan derajatnya di mata orang terutama di kampungnya  terangkat dengan anaknya yang kuliah di Makassar. Ada orang bijak mengatakan bahwa orang tua itu sebenarnya tak mengharapkan apa-apa dari anaknya. Namun ketika anaknya telah berhasil ia hanya akan mendapatkan namanya dihargai di mata orang yang ada disekelilingnya. Suatu ketika ia pernah menangis meronta-ronta oleh akibat ulah anaknya sendiri yakni anak sulungnya ketika itu ia tak tahu sama sekali anaknya tersebut menggadaikan kebunnya selama sepuluh dengan mengambil uang dua juta untuk diinvestasikan dari bisnisnya. Ia diiming-imingi dengan impian yang amat tinggi untuk bisa sejahtera dalam waktu yang relatif singkat. Tak dinanya, malah ia ditipu. Akhirnya impiannya tinggal kenangan saja. Dan anaknya tersebut mendapat berbagai cibiran dan cemohan dari orang-orang yang tak menyukainya. Dan menjadikan hal tersebut sebagai senjata dari orang-orang yang bertanggungjawab untuk melumpuhkan semangatnya. Namun, hal itu bagi anak sulungnya tersebut dijadikan sebagai cambuk untuk tidak mengulanginya lagi dan akan selalu untuk berbuat yang wajar-wajar saja. Hingga kini, masalah itu selalu saja diungkit-ungkit bagi mereka yang tak senang padanya dan menjadikan itu sebagai hinaan baginya. Anak sulungnya tersebut menganggap bahwa ia selalu diperhatikan dan dipikirkan bagi yang membencinya. Seakan terasing di kampung sendiri. Anak sulungnya tersebut bagi kalangan sebayanya bukan bermaksud riya’ tetapi hanya sebagai bentuk kesyukurannya. Ia disebut orang mempunyai kelebihan tersendiri bagi kalangan sebayanya.
            Dari sebuah kata menjadi kalimat sederhana kemudian beralih menjadi paragraf yang mempunyai makna tersendiri. Dari makna itu mudah-mudahan ditemukan hikmah yang dalam paragraf tersebut setelah itu menjadi selembar halaman dalam sebuah kertas yang akan beruntai menjadi lembar demi lembar dan akhirnya menjadi sebuah bacaan yang punya sarat akan makna dan hikmah di dalamnya. Tulisan ini ditulis hanya sebuah refleksi dari dari anak akan ibundanya yang amat disayanginya agar semua orang tahu bahwa betapa sulitnya mengaringi samudra kehidupan yang dihadapi oleh seorang ibu dari anaknya dan seorang istri yang lama ditinggal oleh suaminya yang kurang lebih duapuluh tahun lamanya. Dan tulisan ini muncul begitu saja dibenak penulis untuk ditulis dalam lembaran kosong yang sangat bersedia sekali dicoret-coreti dan tangan ini asyik dalam tariannya di atas lembaran kosong ini. Penulis berharap dengan ditulisnya sedikit serpihan kehidupan membawa makn yang sangat berarti betapa kita hidup hanya sementara dan untuk abadi hanyalah melalui tulisan. Itulah adalah kata dari orang-orang bijak yang memaknai sebuah tulisan dan akan menjadi sejarah dalam kehidupan ini. Apa yang telah tertulis di atas juga hanya untuk mengurangi beban penulis untuk menyimpan dalam memory yang terbatas ini yang suatu saat akan lupa dan khilaf. Dan tulisan ini mencoba menggali potensi bagi penulis dalam hal penulisan. Ini adalah fenomena yang penulis rasa sudah sangat langka. Apalagi sekarang banyak yang pintar dalam berbicara dan beretorika dalam menulis amat susah baginya. Namun, tidak semua juga orang seperti itu adakalanya. Bisa bicara di depan orang banyak dan lihai dala menulis. Bahkan yang lebih para lagi tidak bisa bicara apalagi menulis. Sekian dari penulis semoga bermanfaat.