Kata Mutiara

Tidak akan kembali hari-hari yang telah berlalu

Minggu, 27 Maret 2016

FITNAH LEBIH KEJAM DARIPADA MEMBUNUH



  
Entah mengapa kali ini Aku di fitnah lagi, sesuatu yang tidak pernah Aku lakukan. Ini adalah bagian dari ujian Tuhan kepadaku untuk tetp tegar dan kuat menghadapi segala hambatan dan liku kehidupan yang Aku alamai. Tak mudah memang jika  kembali difitnah untuk bisa diterima. Bahkan ini menjadi beban dalam hidup Aku. Kepalaku sakit tak tertahankan disambut hati yang sering berkecamuk dalam menanggapi setiap tuduhan yang dilontarkan kepadaku. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa fitnah itu adalah semacam ujian dan fitnah itu lebih kejam daripada sebuah pembunuhan. Jika ingin merenung mengapa Allah menyatakan hal tersebut di dalam firmannya. Ini menyuruh kita untuk berpikir bahwa ini sesuatu yang sangat besar hikmahnya dalam kehidupan sehari-hari manusia. Fitnah itu sendiri menuduh orang lain tanpa ada bukti yang nyata dan itu harus mendatangkan saksi sebanyak empat orang.
            Siapapun tidak ingin ada orang yang difitnah apalagi dituduh melakukan sesuatu yang tidak dilakukannya. Sebab itu akan berpengaruh luas terhadap diri dan orang lain. Hati ini seakan gundah dan tubuhku menjadi lemas serta tak semangat lagi. Akan tetapi, Aku mencoba untuk tetap berpikir positif agar Aku kuat dan bisa tahan mental dari siapapun juga. Aku senantiasa berdoa kepada Tuhan agar selalu dikuatkan dalam menghadapi setiap cobaan dan ujian dari-Nya. Jika ada manusia mengatakan mereka telah beriman maka Allah akan memberi mereka berupa ujian sebagimana Allah sendiri telah berfirman, “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan: “Kami telah beriman,” sedang mereka tidak diuji?.”
            Tentunya setiap manusia yang hidup di dunia akan mendapat ujian dari Allah baik mereka yang beragama Islam maupun selain yang dari agama Islam. Oleh karena itu, telah jelas kepada mereka bahwa Allah akan memberikan kepada mereka berupa ujian apa saja. Entah itu kerugian bagi pengusaha, pegawai yang dipecat, petani rugi dari hasil panennya, dan lain-lain ujian yang Allah beerikan kepada manusia. Tak terkecuali kepadaku. Ada manusia yang diberikan ujian berupa harta yang berlimpah banyaknya seperti Qarun, ada manusia yang diberikan kekuasaan yang ingin menjadikan dirinya Fir’aun, ada juga manusia yang diberikan ujian berupa ilmu seperi Raja Namrud tetapi menyombongkan diri. Dan akhirnya mereka dibinasakan oleh Allah swt.
            Aku terus merenungi hidup ini bahwa manusia pada akhirnya akan kembali kepada Tuhannya untuk bertemu dengannya. Namun, tentunya sebelum bertemu dengan kita memerlukan persiapan yang matang untuk bisa bertemu. Laksana ajudan yang sedang ingin bertemu dengan Presiden. Kematian akan datang setiap saat dan manusia tak akan pernah tahu dimana mereka akan mati dan tak akan pernah tahu dimana mereka akan dikuburkan. Kematian itu akan menjadi peringatan bagi manusia yang masih mempunyai nafas dihidungnya.
            Alangkah indahnya bila kematian itu dijemput dengan khusnul khatimah dan tidak dengan su’ul khatimah. Mudah-mudahan dengan selalu mengingat kematian menjadikan manusia cerdas sebab Rasulullah mengatakan orang yang selalu mengingat kematian menjadikan dirinya cerdas. Cerdas dalam artian mempersiapkan segala sesuatunya menjadi bekal untuk dalam menyambut kematian tersebut. Jangan berpikir bagaiamana kita akan mati tetapi yang perlu adalah suadah adakah bekal kita. Jika Aku ditanya tetang hal itu maka Aku akan menjawabnya bahwa bekalku masih belum cukup dan sering kalinya aku melakukan kemaksiatan yang dibenci dan dilarang oleh Allah. Namun, Aku akan senantiasa berusaha untuk melakukan perbaikan-perbaikan untuk ber-fastabiqul khairat berlomba-lomba dalam kebaikan. Berusaha untuk berjamah di Masjid setiap waktu shalat, mengaji selama 15 menit dan menghapal Al-Qur’an, membaca buku –buku yang bermanfaat dan satu lagi menulis.
            Sekali lagi, sebagai manusia jangan mudah menfitnah orang lain jika tak ada bukti dan saksi serta jagalah lidah yang tak bertulang ini karena lidah lebih tajam dari pisau dan fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan. Mari kita saling bermuhasabah merenung diri atas apa yang telah kita lakukan jangan sampai membuat kita lalai dari mengingat Allah. Semua urusan kita kembalikan kepada-Nya jika apa yang kita usahakan telah maksimal kita laksanakan. Bertawakkala kepada Alllah adalah jalan satu-satunya untuk kita agar hati ini menjadi tenang dan mari kita terus bercermin dari hati kita masing-masing.
            Janganlah kita mudah menfitnah orang lain, apalagi Aku tak pernah sekalipun melakukannya. Prinsipku jika Aku yang melakukan kesalahan maka dengan jujur akan katakan, tetapi jika aku tak melakukan kesalahan maka dengan jujur aku katakan bahwa bukan aku yang melakukan kesalahan tersebut.

Rabu, 13 Januari 2016

MENUNGGU YANG TAK PASTI



 
Seorang Ibu yang memegang tangan anaknya di sore hari.
Nun jauh dalam lubuk hatinya yang sudah lama terpendam, ia telah menunggu seorang yang ditunggu-tunggu kedatangannya. Namun, tak kunjung datang ia hanya terus menunggu sesuatu yang tak pasti. Dan itulah dirinya kini ia telah memasuki usia paruh baya. Ia ditinggal suaminya sudah sejak lama sekitar 20 tahun lebih. Namun ia tak pernah goyah sedikitpun untuk mencari yang lain walaupun sebenarnya ada juga yang bermaksud baik datang kepadanya. Akan tetapi, ia menolak lantaran menunggu sesosok manusia yang mengarunia empat orang anak dan anak laki-laki keduanya telah lama tiada sekitar 14 tahun yang lalu. Kini ia ditemani tiga orang anaknya. Anak pertamanya sedang menyelesaikan kuliahnya di Makassar di salah satu perguruan tinggi Muhammadiyah. Anak keduanya juga telah masuk di sebuah universitas negeri di Makassar. Dan yang bungsu masih duduk dibangku Sekolah Dasar di kampungnya. Dan di antara semua saudaranya hanya ia yang mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga perguruan tinggi. Walaupun keadaan ekonominya pas-pasan tetapi karena kedua anaknya tersebut boleh jadi punya bakat masing-masing sehingga mereka mampu untuk melanjutkan sekolah hingga ke jenjang yang lebih tinggi. Tak pelak, ia sangat bersyukur dan sangat menyayangi anak-anaknya. Ia berharap anak-anaknya kelak berguna baginya dan orang lain. Kini ia tinggal di rumah yang sudah tak layak ditinggali namun apa boleh buat tempat yang ia tinggali belum pernah direnovasi selama rumah tersebut dibangun dan itupun adalah satu-satunya rumah peninggalan ayahnya. Dan sekarang ia dan anak-anaknya tinggal disitu sedangkan saudaranya yang lain ada yang sudah punya rumah dan ada juga yang Cuma numpang di rumah saudaranya.
Ia adalah seorang perempuan yang menjadi ibu dan ayah bagi anak-anaknya. Ini terbukti anak bungsunya yang didengar langsung anak sulungnya bahwa ibunya juga sekaligus ayahnya. Karena anak sulungnya laki-laki, anak bungsunya tersebut sangat akrab sekali dengan kakaknya tersebut boleh jadi karena tidak mendapat kasih sayang dari ayahnya sehingga anak bungsunya tersebut ketika datang dari Makassar untuk liburan anak bungsunya tersebut selalu bersama bahkan sangat ditunggu kedatangannya ketika baru pulang dari Makassar. Sebagai orang tua ia kemudian berwirausaha apa saja yang bisa dijual dan itu dilakukan telah mendapat pelajaran juga dari orang tuanya yang juga biasa berdagang di pasar dan ia pun mengambil alih profesi tersebut. Dan setiap menjelang subuh ia bergegas dan menyiapkan segala keperluannya untuk dibawah ke pasar. Ia biasa pergi ke pasar dengan jalan kaki dan terkadang juga dia menumpang ojek yang akan ke pasar. Dari hasil dagangannya itu hanya mampu untuk membeli keperluan sehari saja seperti ikan, sayur dan lainnya. Belum lagi anak bungsunya yang kuat sekali jajan sampai-sampai ketiak anak bungsunya tidak diberikan uang jajan ia trerus merengek untuk diberi uang. Terkadang iapun pusing tujuh keliling sebab dagangannya belum ada orang yang membeli sudah minta jajan. Ia biasa memarahinya bahkan tak segan-segan memukulnya. Iapun tersadar bahwa ia sangat menyayangi anaknya namun karena rewel dan tak bisa diam ia pun biasa melampiaskan kepadanya dan juga semua anaknya biasa kena kemarahannya. Namun sebenanrnya itu dilakukannya karena ia begitu cinta kepada anak-anaknya.
            Ia biasa merenung diri memikirkan nasibnya, yang dililit kemiskinan dan biasa menyalahkan suaminya mengapa ia tega ditinggal pergi. Ia biasa dikatakan telah gila, stres, sinting oleh orang-orang dikampungnya dan termasuk saudara-saudaranya. Namun anaknya sangat salut kepadanya ia tak mengubris ketika ada yang mengatakan seperti itu. Wajar saja, mana ada orang yang ikhlas dimadu oleh suaminya. Selama dua puluh tahun lebih tidak diberikan nafkah lahir dan batin oleh suaminya. Orang-orang mengatakan bahwa suaminya dikatakan hidup tetapi mati dan dikatakan mati tetapi masih hidup. Inilah kata mungkin pantas bagi suaminya yang rela meninggalkan begitu saja. Harapannya tak pupus ditelan masa ia senantiasa mengingatkan kepada anaknya yang kuliah di Makassar untuk datang kepadanya untuk meminta uang sebagai tanggungjawabnya. Harapan untuk bersama lagi dengan suaminya tinggi sekali dan tak pernah padam oleh apapun itu, ia mengalami gangguan psikologi kejiwaan karena ulah suaminya. Menunggu yang tak pasti mungkin sebuah kalimat yang tepat untuknya. Tulisan ini mencoba menggambarkan betapa ia sangat kesepian dalam kesendiriannya mencoba untuk terus bersabar menanti, menanti dan terus menanti sampai kapanpun hingga harapannya dapat terwujud. Salah satu harapannya adalah ia ingin membangun rumah untuk dirinya dan anak-anaknya. Besar harapannya untuk bisa tinggal layak seperti kebanyakan orang dapat tidur dengan nyenyak. Ia biasanya tidak dapat tidur dengan nyenyak akibat suara bising seng yang diakibatkan oleh angin bersamaan dengan hujan. Ia tak takut tidur di rumah yang hanya ditemani lampu kaleng sinanya tak mampu menyinari suasana rumah hampir roboh tersebut. Baru-baru ini ini ia terpaksa tidak bermalam lagi di rumah tersebut karena rumah itu sujud kebelakangan (baca: roboh). Kini ia tinggal bersama dengan anak bungsunya sebab kedua anaknya tinggal di Makassar untuk melanjutkan kuliahnya. Ia sebenarnya tak membiarkan kedua anaknya tersebut untuk kuliah. Namun kedua anaknya memberikan pengertian bahwa mudah-mudahan dengan anaknya kuliah di Makassar nantinya dapat mengurangi bebanya di kemudian hari.
            Ia biasa dipanggil oleh orang dengan sebutan “sia” itu nama panggilannya baginya sedang nama yang tertera di ijasahnya adalah syamsiah dan terkadang juga dipanggil degan sebutan salasia. Namanya ayahnya bernama Jumaka dan Ibunya bernama Sala’. Ia adalah anak ketiga dari lima bersaudara. Juga ia mempunyai saudara tiri lima orang dari ayah yang sama dengan ibu yang berbeda yang tak lain adalah saudara dari ibunya yang bernama Hanang. Ia tinggal di salah satu kabupaten di Sulawesi selatan tepatnya di Jeneponto kecamatan Tamalatea kelurahan Bontotangnga lingkungan Bumbungloe. Semua saudaranya dengan ia akur-akur saja namun terkadang pertikaian antar saudara tidak bisa dihindari itu wajar saja. Siapa pun akan mengalami hal seperti itu disetiap keluarganya. Sebagai contoh antara ia dan saudara kandung sendiri yakni kakak pertamanya yang perempuan tidak akur hingga beberapa tahun lamanya. Namun sekarang sudah berbaikan dengannya dan juga antara saudara bungsunya juga pernah berselisih. Kini saudara bungsunya telah tiada meninggalkan seorang suami dan juga empat orang anak. Tiga laki-laki dan satu perempuan. Walaupun begitu ia seakan derajatnya di mata orang terutama di kampungnya  terangkat dengan anaknya yang kuliah di Makassar. Ada orang bijak mengatakan bahwa orang tua itu sebenarnya tak mengharapkan apa-apa dari anaknya. Namun ketika anaknya telah berhasil ia hanya akan mendapatkan namanya dihargai di mata orang yang ada disekelilingnya. Suatu ketika ia pernah menangis meronta-ronta oleh akibat ulah anaknya sendiri yakni anak sulungnya ketika itu ia tak tahu sama sekali anaknya tersebut menggadaikan kebunnya selama sepuluh dengan mengambil uang dua juta untuk diinvestasikan dari bisnisnya. Ia diiming-imingi dengan impian yang amat tinggi untuk bisa sejahtera dalam waktu yang relatif singkat. Tak dinanya, malah ia ditipu. Akhirnya impiannya tinggal kenangan saja. Dan anaknya tersebut mendapat berbagai cibiran dan cemohan dari orang-orang yang tak menyukainya. Dan menjadikan hal tersebut sebagai senjata dari orang-orang yang bertanggungjawab untuk melumpuhkan semangatnya. Namun, hal itu bagi anak sulungnya tersebut dijadikan sebagai cambuk untuk tidak mengulanginya lagi dan akan selalu untuk berbuat yang wajar-wajar saja. Hingga kini, masalah itu selalu saja diungkit-ungkit bagi mereka yang tak senang padanya dan menjadikan itu sebagai hinaan baginya. Anak sulungnya tersebut menganggap bahwa ia selalu diperhatikan dan dipikirkan bagi yang membencinya. Seakan terasing di kampung sendiri. Anak sulungnya tersebut bagi kalangan sebayanya bukan bermaksud riya’ tetapi hanya sebagai bentuk kesyukurannya. Ia disebut orang mempunyai kelebihan tersendiri bagi kalangan sebayanya.
            Dari sebuah kata menjadi kalimat sederhana kemudian beralih menjadi paragraf yang mempunyai makna tersendiri. Dari makna itu mudah-mudahan ditemukan hikmah yang dalam paragraf tersebut setelah itu menjadi selembar halaman dalam sebuah kertas yang akan beruntai menjadi lembar demi lembar dan akhirnya menjadi sebuah bacaan yang punya sarat akan makna dan hikmah di dalamnya. Tulisan ini ditulis hanya sebuah refleksi dari dari anak akan ibundanya yang amat disayanginya agar semua orang tahu bahwa betapa sulitnya mengaringi samudra kehidupan yang dihadapi oleh seorang ibu dari anaknya dan seorang istri yang lama ditinggal oleh suaminya yang kurang lebih duapuluh tahun lamanya. Dan tulisan ini muncul begitu saja dibenak penulis untuk ditulis dalam lembaran kosong yang sangat bersedia sekali dicoret-coreti dan tangan ini asyik dalam tariannya di atas lembaran kosong ini. Penulis berharap dengan ditulisnya sedikit serpihan kehidupan membawa makn yang sangat berarti betapa kita hidup hanya sementara dan untuk abadi hanyalah melalui tulisan. Itulah adalah kata dari orang-orang bijak yang memaknai sebuah tulisan dan akan menjadi sejarah dalam kehidupan ini. Apa yang telah tertulis di atas juga hanya untuk mengurangi beban penulis untuk menyimpan dalam memory yang terbatas ini yang suatu saat akan lupa dan khilaf. Dan tulisan ini mencoba menggali potensi bagi penulis dalam hal penulisan. Ini adalah fenomena yang penulis rasa sudah sangat langka. Apalagi sekarang banyak yang pintar dalam berbicara dan beretorika dalam menulis amat susah baginya. Namun, tidak semua juga orang seperti itu adakalanya. Bisa bicara di depan orang banyak dan lihai dala menulis. Bahkan yang lebih para lagi tidak bisa bicara apalagi menulis. Sekian dari penulis semoga bermanfaat.

Senin, 30 November 2015

BERKARYA UNTUK KEABADIAN


Kalimat di atas Aku dapatkan di sebuah buku yangb berjudul “Berlian dari Timur, Mengurai Gagasan dan Pemikiran IMMAWATI dalam Kehidupan”, yang menguraikan berbagai dinamika yang dialami para IMMAWATI ketika menjadi aktivis IMM di Sulawesi Selatan. Ada yang mengisahkan tentang perjuangan mendakwahkan Muhammadiyah di lingkungan masyarakat dan keluarganya, perjuangan menghidupkan Muhammadiyah di kampus hingga jatuh bangunnya seorang IMMAWATI dalam mempertahankan ideologinya. Sungguh sebuah perjuangan luar biasa yang ditunujukkan oleh para kader IMM Sulawesi Selatan, sehingga diharapkan kisah dalam buku tersebut mampu menginspirasi semua kader-kader IMMAWATI di belahan bumi.
Itulah sedikit cuplikan mengenai isi buku tersebut, kini kita fokus pada kalimat di atas yakni “Berkarya Untuk Keabadian” kalimat itu kudapatkan dari seorang penulis buku ketika menghadiri sebuah seminar yang di Auditorium Al-Amien yang di selenggarakan oleh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Analis Kesehatan (IMM Anakes). Ketika itu, sebenarnya Aku tidak di undang oleh penyelenggara, tetapi Aku langsung diundang oleh penulis yang menjadi pemateri lewat telpon ketika kami menghubungi beberapa hari yang lalu. Aku menghubungi penulis agar kiranya memasukkan tulisan di Buletin kami yakni “Buletin Al-Mufiid” yang terbit setiap pekan. Kemudian penulis memberi tahu Aku agar hadir dalam seminar tersebut dilaksanakan pada Ahad, 29 November 2015. Kalimat itu ditulisnya ketika Aku minta tanda tangan darinya sebab penulis adalah editor dari judul buku di atas. Penulis itu tak lain adalah Ibu Siti Suwadah Rimang salah satu orang Jeneponto, tentunya ada kebahagiaan tersendiri mengenal beliau apalagi beliau adalah Dosen kami ketika semester 5 di Pendidikan Ulama Tarjih dan pernah berpesan kepada kami bahwa “Menulislah apa yang ada dibenakmu, jangan permasalahkan bagaimana bagusnya tulisanmu, karena yang menilai adalah orang yang membaca tulisanmu, jadi menulislah”. Itulah yang selalu Aku ingat ketika ingin mencurahkan segala curahan hatiku ke dalam sebuah goresan pena di atas kertas polos dan putih yang selalu siap Aku nodai dengan tulisan. Bahkan, ini merupakan dorongan dari Ust. Husni dan Ust. Mawardi untuk menulis. Dan kucoba menulis lewat Buletin Al-Mufiid. Oleh karena itu, Ust. Husni sebagai sekretaris Pendidikan Ulama Tarjih Unismuh Makassar memberikan kepercayaan untuk mengelola buletin, boleh jadi beliau melihat Aku mempunyai bakat dalam menulis dan ini juga Aku belajar dari kakak senior Aku namanya Fadil Burhan Lai. Aku dan Kak Fadil dipercayakan untuk mengelola Buletin. Beliau sebagai pimpinan redaksi sedangkan Aku sebagai bagian sirkulasi, percetakan dan sponshorshipnya. Dan ini semakin menambah gairah Aku untuk tetap menulis. Entah apa yang Aku alami ide untuk menulis kadang datang begitu saja melintas sepintas lalu di hadapanku untuk menulis. Sehingga teerkadang ini membuatku semakin gelisah jika Aku tidak segera menulis.
Demi untuk mengasah lebih tajam lagi untuk menulis ku coba terus membaca buku apa saja baik itu novel, cerpen, buku bacaan biasa bahkan buku yang mempunyai bahasa ilmiah yang terlalu tinggi. Dan memang membaca adalah hobiku ketika masih kecil hingga sekarang. Katanya sih ilmu bisa didapatkan lewat membaca. Ini kiranya yang membuat Aku untuk terus berusaha juga karena ada memang keinginan menjadi seorang penulis buku. Aku teringat ketika Aku masih aktif di Ikatan Pelajar Muhammadiyah ketika itu Aku masih di Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar Muhammadiyah Bumbungloe sekaligus merangkap jabatan di Pinpinan Cabang  Ikatan Pelajar Muhammadiyah Tanetea (salah satu ortom Muhammadiyah) lewat ini Aku kenal Muhammadiyah. Ketika itu kami mengadakan kajian dan pematerinya adalah Krisna Pabicara (Nama Pena-nya) dan nama aslinya Sahabuddin, itu sedikit yang Aku tahu dari beliau. Aku mulai mendapatkan motivasi untuk menulis dari beliau apalagi Aku mendapatkan hadiah sebuah buku darinya dan plus tanda tangannya. Walaupun baru keesokan harinya Aku mendapatkan tandatangannya. Darinya buku yang diberikan kepadaku untuk senantiasa membacanya hingga habis kulahap kubaca (Maklum... sedang lapar...hehehe). Buku tersebut memuat tentang motivasi dalam merintangi kehidupan dan buku tersebut juga ada semacam latihan otak agar tidak selalu jenuh yang hingga sekarang Aku selalu mempraktekkannya ketika sedang jenuh. Dari buku tersebut membuat diriku membuncah apalagi kudengar langsung dari guruku yang tak lain juga keluarganya, juga sebenarnya penulis yang Aku sebutkan di atas adalah kami mempunyai hubungan keluarga. Bahkan ketika semester tiga di Pendidikan Ulama Tarjih, Aku tempel potonya di diding kamarku yang kudapatkan di internet yang senantiasa kupandangi Aku akan keluar kamar.
Aku sering merenung apakah Aku bisa seperti mereka (para penulis) untuk bisa juga menulis. Dalam setiap perenungan Aku biasa merenung untuk tetap bisa dalam menggapai impianku. Aku teringat dengan sebuah pepatah Arab “Man Jadda Wajada, barang siapa yang bersungguh-sungguh maka dapatlah ia”. Namun, seiring berjalannya waktu Aku dihinggapi rasa pesimistis dan minder untuk menulis bahkan terkadang ketika ada rasa untuk menulis, rasa malas semakin besar kepadaku. Wajar saja ketika itu (semester awal hingga semester lima) Aku tak punya Laptop atau Notebook. Jadinya Aku bakat sempat terurungkan niatku untuk menulis, dan ketika semester dua Aku untuk bisa mempunyai notebook pada saat semester lima nantinya. Akan tetapi, itu baru tercapai ketika Aku ingin menyusun Risalah (penyelesaian di Pendidikan Ulama Tarjih) untungnya ada Ust. Husni yang ingin membantu dan menolong Aku. Beliau menjual notebooknya seharga satu juta. Dan ketika itu Aku sama sekali tak mempunyai uang untuk membeli notebooknya tatapi ada dukungan dan support dari teman-teman PUT. Aku terpaksa meminjam uang kepada mereka. Termasuk sebagian uang buletin Aku untuk menutupi juga dari bendahara BEM. Akhirnya harapan untuk memiliki sendiri notebook tercapai juga. Namun, belum selesai sampai disitu Aku mulai dirundung pilu dengan apa nantinya Aku harus mengembalikan uang mereka. Tetapi, dengan keyakinan Aku akan melunasi semua itu walau dalam jangka waktu yang tak menentu. Setelah memiliki notebook, kendala datang lagi bahwa notebook yang Aku miliki sekarang banyak sekali kekurangannya, baik dari speakernya yang rusak (MP3-nya tidk kedengaran kecuali pakai headset), layarnnya, chargernya (hampir putus), dan satu lagi kekurangannya baterainya cepat sekali lobet. Namun, lagi-lagi Aku kembali merenung agar menerima semua itu. Toh ini demi penyelesaianku di Pendidikan Ulama Tarjih dan tidak lagi meminjam ke teman-temanku yang menjadi korban ketika Aku pakai laptop atau notebooknya habisku Aku ja’da-ja’dali (dijahili....hehee maaf yach teman2 Aku merpotkan kalian). Dengan mempunyai notebook sendiri Aku lebih serius lagi menulis baik di buletin maupun di blog pribadiku demi untuk terus mengasah bakatku dalam hal menulis. Aku teringat kepada para cendikiawan Muslim, seperti Ibnu Sina, Al-Farabi, Ibnu Rusd, Al-Kuarismi, dan lain-lain juga kepada para imam Mazhab seperti, imam Hanafi, imam Malik dengan Al-Muwaththo-nya, imam Syafi’i dan iman Ahmad bin Hambal serta imam yang mempunyai karya baik di bidang fikih, pemikiran kalam dan sebagainya. Mereka bisa di kenal dan dikenang karena karya mereka. Sehingga benarlah oleh penulis Ibu Suwadah mengatakan “Berkarya Untuk Keabadian”. Dan itulah juga yang sekarang dilakoninya sebagai penulis dan buku yang ditulisnya juga Aku telah lahap habis hanya dalam satu hari satu malam dengan bukunya yang berjudul “Menulis Seindah Bernyanyi” yang menguraikan bagaimana trik-trik dan tips-tips dalam penulisan terutama bagi mereka yang pemula (seperti Aku ini). Katanya sih menulis itu seindah bernyanyi ketika ia mulai jenuh untuk menulis ia kemudian mengekspresikan semuanya dengan istirahat bernyanyi atau mendengar lagu-lagu favoritnya(petikan dari buku “Menulis Seindah Bernyanyi”).
Hingga saat ini, Aku masih terus merenung dan terus mengasah untuk menulis juga Aku sering banyak membaca untuk menambah pembendaharaan kata selain itu mendapatkan ilmu dari buku tersebut lalu berusaha mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Memang tak mudah untuk menggapai sebuah impian menjadi penulis, namun Aku tetap berusaha menulis agar kelak Aku juga bisa dikenang dan dikenal lewat karyaku dalam hal menulis. Sekarang saja Aku sedang berusaha untuk mewujudkan impianku menulis buku otobiografiku sebelum Aku melepaskan kakiku di Pendidikan Ulama Tarjih dan besar harapanku nantinya Aku ingin mempersembahkan ketika Aku di wisuda nantinya. Itulah harapan terbesarku saat ini. Dengan tetap berusaha menulis, tak peduli apa yang nantinya Aku tulis yang terpenting saat ini adalh terus menulis dan yang akan menilainya bukan Aku sendiri tetapi mereka yang nantinya akan membaca tulisan Aku nantinya. Sebagian tulisanku Aku telurkan di Blog pribaku di Ibnusyam92.Blogspot.com yang kuberi nama blogku CORETAN QALBU disinilah Aku kumpulkan kepingan-kepingan tulisanku baik itu catatan harian, tugas perkuliahan, novel, cerpen dan lain-lain. Tulisan di blogku ini Aku sering men-share-kannya di FB maupun di GOOGLE+. Dalam mengasah dalam penulisan Aku juga megelola blog PUT yang sebelumnya di kelola oleh kak Anshar dan Aku minta kepadanya apa email dan kata sandinya juga. Ketika ada kegiatan kami di Pendidikan Ulama Tarjih Aku biasa memasukkannya di blog ini alamatnya putummakassar.blogspot.com dengan nama blognya Pendidikan Ulama Tarjih.
Selama di Pendidikan Ulama Tarjih kami juga disuguhkan oleh Ust. Husni tentang Jusnalistik yang juga menjadi mata kuliah di semester satu dan dua. Disitulah Aku kembali mendapatkan motivasi untuk menulis. Selain itu ketika masih di MA Muhammadiyah Tanetea Aku pernah mengikuti penulisan Jurnalistik di Kabupaten Jeneponto yang diselenggarakan oleh IKAWARTA di Jeneponto dan itu dimuat di koran Fajar, TV One, Tribun Timur dan sejumlah koran lokal.  Dari itu Aku mendapatkan sertifikat dan koran yang memuat kegiatan ini dan sekarang masih tersimpan rapi di dalam berkasku di rumah. Kembali Aku ingin mengutarakan bahwa selama belajar jurnalistik di semester satu Ust. Husni terus memotivasi kepada kami untuk menulis termasuk Aku sendiri. Dan salah satunya adalah kami semua dari satu kelas ditugasi untuk membuat laporan ketika kami kembali dari rihlah dakwah. Bahkan ketika Aku ditugaskan di Masamba Luwu Utara, Aku disana selama satu bulan penuh juga menulis selama satu bulan penuh juga yang sekarang tulisan tersebut masih ada dan Aku beri judul “Catatan Harian di Kampung Pugalu” itu Aku tulis dengan menggunakan tangan melalui pena di atas kertas. Itu Aku lakukan sebab sempat terpikirkan dibenakku untuk menulis ketika sebelum meninggalkan tempat kami menimba ilmu yaitu di Rusunawa C.
Menulislah itulah kata yang akan selalu terngiang dibenakku pesan dari Ibu Suwadah ketika sedang mengajar bahasa Indonesia. Dan sempat juga Aku ungkapkan lewat FB dengan mengatakan bahwa apakah bisa menjadi seorang penulis, ada yang suka dan ada juga yang sempat mengomentarinya. Sekarang Aku hanya bisa berusaha dengan sekuat tenaga dan semampuku untuk terus menulis walaupun nantinya harapan itu tidak sesuai dengan kenyataan namun Aku akan senantiasa berbesar hati dan berlapang dada dan takkan kecewa jika semua itu tidk tercapai. Namun, Aku akan senantiasa bermimpi sebab jika berusaha dan yakin Insyaallah semua itu akan tercapai. Mimpi itu akan senantiasa aku tanamkan dalam diriku bahwa jika orang lain bisa menulis dan mengapa Aku tidak padahal mereka dan Aku sama saja. Mempunyai dua tangan untuk menulis dan Aku juga akan senantiasa membuat jari –jemariku ini untuk terus menari dan mendendangkan di atas barisan keyboard notebookku demi untuk mencapai harapan itu. Katanya Ust. Husni ketika kami masih semester awal di Pendidikan Ulama Tarjih beliau menjelaskan tentang MPM (Majelis Pemberdayaan Masyarakat) yang gelutinya dan beliau sebagai ketuanya dan sempat mengatakan bahwa Saya ini bukanlah ahli dalam pertanian tetapi karena saya tekuni maka akhirnya saya bisa. Berangkat dari kalimat tersebut Aku juga ingin mencoba menulis apa yang ada dipikiranku dan terus mengasah dalam bakatku dalam hal penulisan. Meski banyak rintangan yang Aku hadapi nantinya namun itu bukan penghalang dalam menggapai impian itu. Aku juga teringat pesan dari Ibu Amirah bahwa untuk menulis itu pastinya akan mendapatkan cacian, makian, cemoohan dan lain sebagainya. Dari ini juga pastinya Aku tetap berusaha walaupun itu telah Aku dapatkan makian, cemoohan dan tetasa pahit sekali Aku telan ketika Tulisan di Buletin Al-Mufiid sempat ada yang mengomentarinya dan komentar tersebut tak lain datang dari dosen kami yakni Prof. Dr. Arifuddin Ahmad dan Dr. Abdillah Mustari mengenai hadits yang Aku tulis ternyata tidak shahih. Wajar saja sebab ketika itu Aku ambil dari blog dan sumbernya Aku juga cantumkan agar tidak dibilang bahwa Aku mengarang yang bukan-bukan. Tetapi Aku harus menerima semua itu, Ketika itu Aku dipanggil oleh Ust. Husni menjelaskan semua itu. Aku jawab dengan apa adanya dan jadinya yach.. Aku mendapatkan suguhan lombok pedas darinya dan berusaha menelannya walau dengan hati yang pilu. Namun, satu hal setelah kejadian itu Aku bangkit lagi dan tetap berusaha memperbaiki semua itu. Aku mendapatkan il mu baru lagi dan ketika sebelum terbit buletin Aku sempat membatin bahwa tak selayaknya buletin ini terbit karena satu dan lain hal Aku terbitkan saja walaupun itu Aku akan mendapat tanggapan dari pembaca. Akhirnya naik cetak dan telah Aku sebarkan ke Masjid yang menjadi langganan Buletin Al-Mufiid. Dan ternyata kenah deh batunya (untungnya tidak telalu sakit...hehehe). Hadapilah masalahmu dengan senyuman itulah secuil petikan pesan dari guru sosiologi Ibu Kristiana. Itulah yang senantiasa menghiasi hariku jika Aku dirundung galau (kata anak sekarang). Aku tak akan pernah berhenti untuk menggapai impian tersebut. Aku menulis selain ingin dikenang dan dikenal tetapi lebih dari itu Aku menginginkan ada ridha-Nya untukku ini. Sebab kepada Allahlah tempat Aku memohon pertolongan. Dan Allah akan senantiasa menolong hambanya yang memerlukan pertolongannya.
Hari ini, detik ini juga Aku curahkan luapan emosiku untuk menulis demi secerca harapan yang masih tersimpan dalam lubuk hatiku yang paling terdalam. Oleh karena harapan itu Aku disini menulis dan ingin menggapainya. Aku ingin mereka tahu bahwa Aku juga bisa seperti mereka. Sebenarnya tidak sussah tetapi karena belum tahu dan mencoba jadinya tidak tahu. Tetapi pisau yang tak tajam akan mengkilap dan tajam seperti samurai jika terus di asah. Dan tentang penulisan sebenarnya Allah telah menyinggungnya di dalam Al-Qur’an pada surah Al-Qolam ayat 1 yang berbunyi “Nun, Demi pena dan apa yang mereka tuliskan”. Tak dinanya ini juga yang menjadi semboyan dan motto Ikatan Pelajar Muhammadiyah (Ortom Muhammadiyah di kalangan pelajar) dan Aku satu satu dari ribuan bahkan jutaan kader yang ada di Indonesia ini dan Aku juga telah mengantongi Kartu Tanda Anggota IPM (KTA IPM) dan sekarang KTA tersebut masih tersimpan rapi di dompetku. Berkarya untuk keabadian sebenarnya bukan hanya lewat tulisan tetapi juga bisa bermakna aksi nyata seperti yang telah dipraktekkan oleh KH. Ahmad Dahlan dengan teologi Al-Ma’un-nya, mendirikan sekolah, rumah sakit, Panti Asuhan, Majalah, dan termasuk organisasi MUHAMMADIYAH yang menjadi basis pergerakan dakwah yang hingga sekarang eksistennya tetap bertahan walau telah mengarungi samudra tiga zaman yakni zaman penjajahan Belanda, Penjajahan Jepang dan Zaman setelah kemerdekaan mencakup Orde Lama, Orde Baru dan Reformasi.
Banyak cara dalam mengekresikan berkarya untuk keabadian selain yang telah Aku sebutkan di atas masih banyak hal dan sesuatu yang bisa menjadikan kita untuk bisa dikenang dan dikenal orang. Bahkan untuk melakukan tindakan-tindakan yang tidan dibenarkan oleh Islam kebanyakan dari kita melakukannya seperti, korupsi, kolusi dan nepotisme, begal, merampok, mencuri dan lain sebagainya. Itulah sekelumit cuplikan atas apa yang terjadi sekarang ini. Dan itu telah menjadi hal yang sangat lumrah. Berkarya demi untuk orang lain dan menyumbangkan karya itu memang perlu perjuangan dan proses yang sangat panjang. Untuk itulah marilah kita semua bermimpi dan terus berkarya dalam kehidupan kita ini. Berkarya untuk diri sendiri dan orang lain. Itulah salah satu visi hidupku agar bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain.



Senin, 23 November 2015

MELUKIS PELANGI


Teng....Teng.....Teng......!!!! bunyi lonceng
“Anna, mana jemputanmu” Rika bertanya ke Anna dari belakang
“Belum datang, emangnya kenapa” Anna menimpali (menunggu jemputan).
“Sini, Aku antar kamu ke rumahmu, karena Anti sedang sakit jadinya sendiri pulang dan daripada Aku pulang sendiri, Aku bonceng kamu saja, gimana” Jawab Rika lagi.
“Gimana yach, Aku telpon lagi Ayahku, mudah-mudahan ia bisa angkat terlponku,” Sahut Anna
Tuuut.... Tuuut.... Tuuuut....!!! bunyi dering Hp
“Gimana, Ayahmu angkat atau tidak” Rika bertanya
“Ia tidak angkat telponku, padahal dari tadi Aku hubungi, tapi tidak pernah diangkat” Seru Anna lagi.
“Begini saja, Aku antar kamu saja sampai di rumahmu, nanti Aku singgah di rumahku untuk beritahu Ibuku untuk mengantarmu ke rumahmu,” Jawab Rika (mengajak Anna untuk di antar pulang)
“Ok deh, Aku nurut saja,” Ujar Anna
“Gitu dong,” Seru Rika
   Mereka berdua berboncengan pulang dan di atas motor Anna berusaha menelpon Pak Agus agar tidak menjemput dan memberitahukan bahwa ia pulang dengan temannya. Lima belas kemudian mereka berdua sampai di rumah Rika. Mereka berdua naik tangga dan mengucapkan salam
“Assalamu Alaikum, Bu” ujar Rika mengucapkan salam
“Walaikum salam, oh ada tamu yach silahkan masuk,” Jawab Ibu dari dalam rumah
Anna senyum saja sambil masuk ke dalam rumah Rika. Mereka berdua masuk ke rumah Ibu Rika dan duduk di sofa yang ada di ruang tamu.
“Kita istirahat saja dulu, cuaca masih panas” ujar Rika kepada Anna.
“Iya, kita istirahat saja dulu” jawab Anna (sambil menghubungi Ayahnya yang sejak dari tadi terus menghubunginya)
“Kamu mau minum,” Ujar Rika lagi ke Anna
“Air putih saja” Seru Anna lagi
“Ok” Jawab Rika
Tak lama kemudian jam telah menunjukkan pukul 02. 13 Anna telah agak lama di rimah Rika dan ia meminta untuk segera pulang ke rumahnya karena biasanya ia tidak lambat pulang. Sudah lima bela menit dari tadi istirahat, bahkan ia di suruh untuk tetapi Anna menolak karena ingin segera pulang. Sebelum mereka berdua berangkat, Rika pamit ke Ibunya untuk mengantar Anna ke rumahnya yang jaraknya sekitar satu kilometer lebih.
“Ibu, Aku pergi dulu antar Anna ke rumahnya” Ucap Rika sambil mencimu tangan Ibu Hanum.
“Aku pamit dulu Tante,” Ujar Anna juga
“Hati-hati yach, Rika jangan di balap-balap motornya” Sahut Ibu Hanum
“Iya Bu” Seru Rika lagi
“Anna ayo kita berangkat” Ujar Rika ke Anna
  Mereka berdua pun berangkat menuju ke rumah Anna, dan akhirnya Anna dapat tersambung dengan Ayahnya.
(Dari kejauhan) kamu ada dimana Nak,” Pak Agus bertanya lewat telpon.
“Aku sedang menuju ke rumah,” Sahut Anna
“Siapa yang antar kamu” Pak Agus bertanya lagi
“Rika, Pak teman satu kelas Anna” Sahut Anna lagi
“Oh iya Aku tunggu di rumah,” ujar Pak Agus
“Iya Pak, sebentar lagi sampai” seru Anna lagi
Sekitar sepuluh menit kemudian mereka berdua telah sampai di rumah Anna.
“Rika, terimah kasih banyak, telah merepotkanmu” ujar Anna setelah turun dari motor
“Iya sama-sama” jawab Rika (sambil memutar motornya)
“Naik dulu di rumah” ujar Anna lagi
“Aku keburu ke rumahku, ada PR matematika dari Pak Adnan” ucap Rika
“Kalau begitu, hati-hati di jalan yach,” seru Anna
   Rika berlalu bagai petir yang menyambar pohon, motor yang dipakai Rika motor matic berwarna putih biru. Ia mengendarai motor dengan sangat kencan jika tidak ada yang diboncengnya. Wajar saja Ibunya menasehatinya untuk berhati-hati dalam mengendarai motor sebab ia pernah jatuh dari motor akibat ulahnya sendiri dn waktu itu sempat di larikan ke rumah sakit karena banyak darah dari sekujur tubuhnya selama dua bulan. Ketika masih SMP dulu.
   Anna langsung saja masuk ke rumah setelah mengucapkan salam dan dijawab oleh Ayahnya yang sejak dari tadi menunggunya. Pak Agus tidak menjemputnya karena sementara memperbaiki motornya dan Hp-nya tadi ia charger dan nada suaranya didiamkan. Kemudian Anna langsung masuk kamar dan hanya menyinpan tas lalu bergegas ke dapur untuk mencari makanan sebab provinsi jawa tengahnya sedang berbahasa inggris. Dengan lahapnya makan ia pun kenyang dan obat penunda laparnya telah terobati oleh makanan yang dimasak oleh Risa.
  Anna masuk ke kamarnya untuk istirahat sejenak dan tidur siang sebelum shalat Ashar. Anna melihat kakaknya tidur pulas di atas kasur, Anna ingin ganggu tidur kakaknya tetapi tidak jadi lantaran ia melihat kakaknya enak sekali tidur dan ia takut dimarahi oleh kakaknya.
  Sambil istirahat ia membaca buku pelajarannya kembali dan mengerjakan tugas PR(pekerjaan rumah) matematika dari Pak Adnan. Sebab berusaha sungguh-sungguh untuk mencapai cita-cita kelak dan Anna ingin melukis pelangi di langit biru nantinya. Setelah membaca dan mengerjakan tugas PR-nya iapun istirahat untuk tidur siang agar tubuhnya kembali segar bugar.


SECERCA HARAPAN


Pagi yang indah memberi semangat baru Mentari kembali menampakkan sinarnya di ufuk timur. Semua orang pergi ke sawah ladang bagi para petani, ada yang ke sekolah baik siswa-siswi maupun guru dan dan pegawai untuk melaksanakan tugasnya masing-masing. Semua orang lalu lalang di depan rumah Risa yang sedang menyapu halaman rumah. Terlihat pak Agus dari dalam rumah juga ingin pergi ke kebun untuk membersihkan rumput-rumput liar yang mengganggu tanaman tomat dan lombok.
“Risa beri tahu Anna untuk membantumu menyapu halaman ini” seru Pak Agus sambil berlalu ke jalan menuju kebun. “Iya Paman nanti saya sampaikan, lagian ia masih bermesraan dengan bantalnya”. Sahut Risa
Ibu Aisyah datang dari rumah sebelah karena ada urusannya kemudian berkata, “mana Anna?” ujar Ibu Aisyah
“Masih tidur Bu” jawab Risa
“Kok masih tidur ini kan sudah pagi, ayo bangunkan dulu” Jawab Ibu Aisyah lagi.
Risa kemudian menyimpan sapunya dan melangkah masuk ke kamar untuk membangunkan Anna. Risa kemudian membangunkan Anna yang masih terlelap dalam tidurnya. Anna biasanya mencuci piring dan peralatan dapur setiap paginya jika malamnya belum ia cuci.
“Masih ngantuk kak,” ucap Anna yang masih di pembaringannya.
“Ayo bangun, nanti rezekinya di patok burung” Risa menimpali dengan agak keras.
“Ia deh kak, Aku bangun” Jawab Anna lagi dengan muka murung.
Risa lalu bergegas menyelesaikan tugasnya di halaman rumah untuk menyapa sebab dari tadi belum kelar-kelar. Untung tinggal sedikit dan setelah itu, Risa akan memasak nasi untuk sarapan pagi.
“Kak, bisa minta tolong, pliiisss, bisa yach kak” rayu Anna ke Risa
“Kalau Aku nggak mau” Jawab Risa
“Masa, kakak nda sayang mha adeknya” jawab Anna lagi.
“Pokoknya Aku nggak mau bantu” sambil berlalu meninggalkan Anna yang mencuci piring.
“Kalau kakak nda mau bantu, iya nda apa-apa” seru Anna.
“Emang Gue Pikirin”, sahut Risa lagi
 Risa melanjutkan untuk memasak nasi sementara Anna masih berkutat dengan sabun dan cucian yang melimpah. Sebenarnya Anna ke pengen di bantu cuci piring, sebab ia akan pergi ke sekolah setelah sarapan pagi dan ia harus cepat ke sekolah dan kebetulan hari itu adalah hari senin. Dan Risa juga tahu bahwa itu hanyalah akal-akalan Anna supaya dibantu lagi mencuci piring. Hampir setipa hari Anna dibantu oleh kakaknya untuk cuci piring. Dan hari itu, ia ingin agar Anna mengerjakan pekerjaannya sendiri. Risa juga ketika itu memasak dan menggoreng tempe dan memasaka sayur. Wajar saja Risa menolak untuk membantu Anna karena ia juga ingin menyelsaikan pekerjaannya.
Semua sarapan pagi telah siap, nasi, sayur, tempe goreng campur kecap dan lainnya siap sedia di meja makan. Risa, Anna, Ibu Aisyah dan kedua adik Anna.
“Wah, kak Risa memang hebat masak tidak seperti kak Anna yang kalau masak biasanya gosong” ujar Alam di sela-sela makan pagi.
“Ia memang kak Risa enak masakannya” Jawab Anna sedikit kecewa dengan adiknya Alam.
“Sudah-sudah, tidak bagus banyak cerita jika sementara makan” Ibu Aisyah melerai.
Risa diam saja mendengar sepupunya dan Tantenya bercerita.
Biasanya Pak Agus tidak makan bersama dengan mereka sebab ia cepat sekali makan. Dan kadang-kadang juga makan bersama dengan mereka.
Anna dan kedua adiknya berangkat ke sekolah.
“Saya pamit dulu bu” pamit Anna sambil menjulurkan tangannya untuk mencium tangan Ibunya diikuti kedua adiknya.
Risa masih di dalam rumah membereskan piring dan sisa-sisa makanan dan membersihkan piring dan yang lainnya.

Risa berharap untuk sepupunya agar tetap melanjutkan studi ketika mereka telah selesai di SMK. Begitupun kedua adik Anna agar bisa meraih cita-citanya kelak. Sebab Risa setelah selesai dari MA, tidak dapat melanjutkan kuliahnya dan sekarang ia tinggal saja di rumah. Terkadang ia juga merasa bosan tinggal di rumah terus dan belum mendapatkan pekerjaan selepas selesai dari Madrasah tempat ia menimba ilmu. Ia rencananya akan ke Makassar mencari pekerjaan dan akan tinggal di rumah kakaknya yang ada di Makassar.