Kata Mutiara

Tidak akan kembali hari-hari yang telah berlalu

Jumat, 06 Januari 2017

MENGAPA BANYAK ORANG TIDAK JENIUS


Boleh jadi karena penjara pikiran atau keyakinan yang salah. Anda bisa membayangkan bebas masih bisa dipenjara. Apalagi fisik yang hanya “budaknya” pikiran tentu akan mudah di penjara. Betapa manusia makhluk paling “binging” dengan pikirannya sendiri. Manusia dengan kemampuan pikirannya mampu menciptakan peradaban di muka bumi demi kepentingan sendiri. Begiti menciptakan peradabannya manusia tidak berkutik dengan baarang ciptaannya. Manusia harus patuh dengan segala aturan, norma, etika, hingga aturan protokoler yang seringkali kembali memenjara pikirannya.
Akan tetapi kebingungan itu, manusia terus mencari dan mencari celah-celah kosong dari ketatnya “norma” peradaban demi penyempurnaan hidup. Dengan bingung manusia menjadi belajar, penjara pikiran manusia tidak terbatas jumlahnya. Pikiran manusia yang binal dan liar, yang cenderung ingin bebas sebebas burung yang terbang harus berhadapan dengan budaya hasil ciptaannya. Bahasa adalah budaya tertua manusia agar antar manusia bisa saling menyiapkan pesan. Celakanya, bahasa juga penjara pikiran.
Penjara pikiran ada di sekitar kita. Penjara pikiran berasal dari lingkungan keluarga, sekolah, tempat kerja, dan dari masyarakat umum, tempat kita kita hidup. Semua membelenggu pikiran sehingga pikiran tidak bisa tumbuh secara bebas. Lingkungan keluarga adalah lingkungan pertama yang mengisi pikiran kita. Pikiran bebas kita mulai dibentuk oleh orang tua kita. Pada saat dalam pikiran mulai tumbuh rasa ingin tahu dan mencoba membongkar-bongkar mainan baru, orang tua kita akan melarangnya.
Di sekolah ketika kita tidak bisa menjawab dengan benar, kita akan dihukum, ketika sedikit berbeda pendapat dengan guru kita juga tidak akan dapat apresiasi. Jawaban benar seolah-olah milik guru, padahal benar dan salah dalam dunia kreatifitas nilainya sama.
Di tempat kerja juga sama, pikiran kita mendapat “perlakuan” hukuman. Begitu kita masuk kerja, sudah ada program konduksi. Pikiran kita harus berhadapan dengan budaya organisasi, aturan senoritas, dan lainnya. Pegawai muda yang berprestasi harus mengalami kenyataan adanya “Manajemen Urut Kacang” pikiran berliannya kurang mendapat tempat untuk berkreasi. Jika kita telusuri, pikiran kita sesungguhnya penuh sesak dengan program pikiran orang lain yang muncul karena adanya sosialisasi lingkungan. Kita adalah “penghuni” penjara mental buatan orang lain dan kita tidak berdaya menghadapinya.
Penjara mental adalah system keyakinan yang salah dan memaksa diri kita untuk melahirkan sesuatu dengan normanya. Contoh semenjak di sekolah pikiran kita telah direkomendasikan dengan “gagal itu suatu yang harus dihindari”. Oleh karena itu, kita pun menjadi takut gagal dan tidak berani mencoba hal-hal yang baru.
Adalagi bahwa “gelar akademik lebih penting daripada kualitas diri”, entah pihak mana yang sengaja atau tidak. Memprogram pikiran semacam itu yang jelas system keyakinan yang salah itu menjadikan sebagian besar di antara kita mementingkan gelar (palsu) daripada kualitas diri.
 Penjara mental kurang lebih sama dengan “hantu” pikiran. Begitu mengingatnya pikiran merasa takut terlebih dahulu sebelum mencoba. Takut bayangan terlebih dahulu, kalah sebelum bertanding, cermen mental tempe (mudah menyerah).
System keyakinan salah bisa mengalahkan pikiran sadar, bisa kita bayangkan seandainya pikiran kita dipenuhi oleh banyak keyakinan yang salah. Pikiran autentik di penjara oleh pikiran yang salah. Apapun program yang saya tawarkan kepada Anda, misalnya anda akan sulit menerimanya karena system yang salah akan segera menghakimi dan menvonis bahwa program baru yang saya tawarkan tidak menarik.
Kalau demikian, kapan anda bisa berubah? Sepanjang tidak ada kesadaran dan keberanian untuk bertindak semua hambatan (keyakinan yang salah) jangan harap ada perubahan dalam diri Anda. Perubahan dalam diri Anda. Perubahan hanya bisa terjadi kalau ada ada tindakan “Action is Power”.
Opini umum begitu ditanya apa genius itu asosiasinya pasti mengarah pada satu kecerdasan dengan kondisi IQ tinggi. Tetapi, dalam Genius Learning Revolution ini, genius disini bukan berarti hanya mereka yang punya IQ tinggi, tetapi lebih berarti kepada kesuksesan hidup yang luar biasa. Sebab kalau hanya punya IQ yang tinggi banyak orang yang tidak punya kesempatan untuk menjadi kelompok ini, padahal banyak orang sukses tidak selalu mempunyai IQ yang tinggi. Genius lebih berarti kepada keadaan seseorang dalam menyikapi hidupnya secara holistic.
Hasil penelitian Daniel Goleman dalam bukunya “Emosional Intelegensi” sesungguhnya manusia mempunyai dua otak, yaitu otak kiri dan otak kanan. Keselarasan kedua otak itu sangat diperlukan. Dan kalau kita bisa memberdayakan secara seimbang, sebenarnya kecerdasan manusia akan timbul secara dahsyat. Struktur otak kiri kita berkaitan dengan hal-hal yang logis, linear, dan rasional, aktif, penilaian, kenvergen, dan nomerik. Sedang otak kanan sarat dengan hal-hal yang berkaitan dengan sifatnya eksperimental, difergen, metaforikal, subjektif, nonverbal, intuitif diffuse, holistic, dan reseptif.
Fakta menunjukkan bahwa selama ini dalam system pendidikan kita selalu menekankan otak kiri dan IQ tinggi. Kita lebih banyak dianjurkan untuk selalu berpikir dengan otak kiri padahal hal tersebut ada kelemahannya. Kita tidak dapat mengguanakannya bila data tak lengkap atau sukar diperoleh data. Maka, jika kita termasuk kategori otak kiri dan tidak melakukan upaya tertentu dengan mengaktifkan otak kanan maka kan menimbulkan ketidakseimbangan. Dengan demikian, GENIUS disini saya maksimalkan satu upaya memaksimalkan perberdayaan otak kiri dan otak kanan secara seimbang. Genius bukan dilahirkan tetapi diciptakan.
Genius adalah suatu hasil pencapaian yang luar biasa dahsyat. Pencapaian yang luar biasa ini merupakan sebuah kemauan X dan strategi X action. Untuk bisa menggapai super sukses/genius, orang harus berani keluar dari kebiasaan yang ada, baik berpikir ataupun bertindaknya.
Benar kata Johan Eliot dalam bukunya “Super Performance” anda tidak akan pernah unggul kalau masih berpikir dan bertindak normal. Jadi untuk menjadi orang sukses atau menjadi kelompok genius yang pertama diperlukan adalah kemauan yang kuat untuk merubah dan siap membayar harganya. Orang tidak akan pernah berhenti memperjuangkan impian besarnya. Karena baginya yang berhenti adalah yang mati, yang abadi hanya perubahan untuk mencapai sukses.
Perubahan bisa dicapai dengan disadari, diinginkan, dan diperjuangkan dengan sepenuh hati. Orang-orang genius mempunyai kemauan yang kuat, tidak mudah menyerah, tidak cengeng walaupun mungkin kegagalan selalu menyertainya. Bukan berapa kali gagalnya tetapi yang penting adalah berapa kali bangkitnya untuk berhasiil. Saat ini gagal bukan berarti besok akan tetap gagal selama masih ada tekad dan kemauan yang kuat baginya selalu ada peluang untuk sukses, sukses selalu terbuka.
Begitu sebaliknya, saat ini berhasil bukan berarti besok otomatis akan berhasil lagi. Tanpa ada kesiapan yang lebih matang dan berjuang lebih keras lagi, sangat mustahil untuk mempetahankan keberhasilan. Hidup ini adalah kemauan untuk berubah itulah proses perjuangan, life is stuggle.
Ada empat tipe manusia yang memengaruhi keberhasilan dalam hidupnya begitu kata Andrie Wongso mativasi no. 1 di Indonesia.
*      Orang yang tidak punya strategi dan tidak ada kemauan untuk berparaktek, ini jelas akan gagal dalam hidupnya.
*      Orang yang punya teori dan tidak mau praktek ini juga akan gagal dalam hidupnya.
*      Orang yang tidak punya teori tapi mencoba untuk praktek, walaupun lambat orang tipe ini akan berhasil karena paling tidak punya syarat personal excellent, baginya action is power.
*      Orang yang punya teori dan menerapkan. Inilah tipe genius yang akan super sukses dalam hidupnya.
Dan orang sering mengatakan strategi atau knowledge is power, pengetahuan adalah kekuatan namun apabila pengetahuan ini tidak diaplikasikan maka tidak ada hasil yang didapat. Maka kata-kata di atas lebih tepat bila kita katakana “knowledge is potensial power” bisa berhasil apabila digunakan dalam hidupnya, action is power..!!
Pada kelas IX, saat itu muncul satu pertanyaan “apa rahasia keberhasilan seseorang”? dalam upaya mencari tahu jawaban, kami menghabiskan waktu untuk belajar secara otodidak.
Orang yang genius adalah orang yang super sukses, orang yang bertanggungjawab belajar dan bertindak. Bila kita rajin tapi tak pernah bertindak, pembelajaran kita akan sia-sia Karena tindakanlah yang membawa hasil. Sebaliknya, bila kita bertindak tanpa belajar, kita akan menabrak-nabrak dan akan memakasa kita untuk belajar lebih menyakitkan.
Akhirnya manfaat dan perubahan akan timbul ketika ada tindakan! Ambil keputusan sekarang juga untuk membuat diri lebih berdaya “personal Excellent” serta bertanggungjawab untuk pencapaian maksimal. Meskipun tersedia pengetahuan dan alat bantu yang luar biasa, pengetahuan dan alat bantu itu sendiri tidak akan menciptakan perubahan. Kitalah yang harus melakukan perubahan tersebut dengan bertindak.! SALAM GENIUS
Jeneponto, 23 Juli 2016
Nama : Nur Intang
Kelas : IX



ARTI SEBUAH PERSAHABATAN


Seperti biasa Aku pergi ke sekolah naik Angkutan Sekolah yang bisa menampung tiga puluh orang. Warna mobil yang biasa Aku tumpangi berwarna biru langit. Di atas mobil tersebut berjejer tempat duduk dan bahkan jika tempat duduk sudah muat ada juga yang berdiri terutama laki-lakinya. Aku bersama dengan Mirna, Risna, Rahmia, Basma dan yang lainnya. Tak berapa lama kemudian kami semua telah sampai di sekolah sebuah Pesantren yang letaknya sangat strategis. Pada saat turun dari mobil angkutan sekolah diikuti oleh siswa dan siswi yang lainnya.. Ada suara yang memanggilku setengah berteriak. Kulihat dia memakai rok abu-abu baju putih dengan jilbab putih datang menghampiriku.
“Risa” Teriak Dani datang dari sebelah utara Pesantren dengan lari-lari kecil.
“Eh, Dani baru sampai juga yah” jawabku menyambut kedatangan Dani.
“Tumben, cepat datang” Mirna juga ikut menyahut dan menoleh ke Dani.
“Iya, kan anak rajin” Seru Dani sambil tersenyum tipis.
            Merekapun melangkah masuk di sebuah Pesantren yang bernama Darul I’tishan Embo. Letaknya sangat strategis karena berada di perempatan di Desa Embo. Pesantren yang tergolong baru. Di Pesantren ini ada beberapa kelas dan tempat asrama yang disediakan bagi yang rumahnya jauh dan ingin nyantri ketika malam harinya. Masyarakat setempat sangat antusias memasukkan anaknya ke Pesantren ini untuk memperdalam ilmu agama disamping itu juga ada ilmu-ilmu umum yang diajarkan dengan metode dan kurikulum yang ada disini Pesantren ini.
“Gimana jika  sebelum pulang kita ngumpul bareng” jawabku
“Ngapain, kira-kira apa rencanamu, Sa” desah Dani
“Ada aja, nanti kalian semua tahu jika kalian mau” jawabku lagi.
“Ok, deh” jawabnya dengan serempak.
“Aku duluan masuk ke kelas yach” kata Mirna sambil berlalu jalan menuju ke kelasnya.
“Aku juga duluan masuk ke kelas, Bu guru sudah datang” seru Risna
            Aku, Risna, Dani, dan Mirna adalah sahabat semenjak kami pertama kali masuk di Pesantren ini. Juga masih ada beberapa orang lagi. Persahabatan yang berlangsung selama tiga tahun ini. Kami harus saling memahami antara satu dengan yang lainnya. Walau kami juga harus tahu bahwa tidak selamanya kami semua harus selalu bersama. Namun, silaturahim tetap menjadi prioritas kami. Jika tidak, entahlah apa yang akan terjadi.
            Kata orang lebih baik diputuskan sama pacar dibanding putus hubungan dengan sahabat. Sebab pacar belum tentu setia dan mau berbagi seperti sahabat. Dan untuk menjalin sebuah persahabatan akan lebih kuat dan sejati jika dilhat sebagai sesama makhluk spiritual yang sama-sama ingin berdamai. Persahabatan tidak akan dapat abadi jika hanya melihat aspek fisik belaka. Persahabatan akan lebih bernilai dan abadi apabila di dasari oleh kesadaran spiritual. Sebuah kesadaran yang menempatkan manusia pada derajat yang sama. Perbedaan tidak diukur dengan kedudukan atau harta. Ukurannya adalah amal perbuatan. Bersahabatlah karena perbuatan bukan karena hartanya.
            Aku pun berharap seperti itu persahabatan kami tetap langgeng hingga ajal menjemput kami. Aku tak ingin hanya karena masalah sepele persahabatan kami terancam bubar. Itulah yang selalu Aku hindari. Kami satu sama lain merasa saling kesepian jika tak bertemu dengan mereka semua.
              Tak terasa tiga tahun kami disini sekolah di Pesantren ini ada banyak canda, tawa, sedih, senang dan lainnya. Dinamika kehidupan terus berjalan tanpa henti. Bel pulang telah berbunyi seperti janjiku tadi pagi untuk menyuruh mereka berkumpul di kelas. Mereka semua telah datang.
“Terima kasih teman-teman telah menyempatkan untuk berkumpul” jawabku datar saja.
“Aku punya rencana gimana kalau sebelum kita berpisah dari sekolah ini untuk mengadakan pesta kecil-kecilan, lagian kita kan hampir tamat dan boleh jadi setelah lepas sekolah kita semua jarang bertemu” Aku kemudian utarakan dan menjelaskan kepada sahabat-sahabatku tentang rencanaku.


  

بَيْتِيْ جَنَّتِيْ


Rumah adalah sebuah tempat untuk bernaung dan sebagai tempat kita untuk berlindung baik dari hujan dan terik matahari. Rasulullah sendiri pernah menyabdakan bahwa rumahku surgaku. Kita tahu bahwa Rasulullah saw mempunyai tempat tinggal yang sangat sederhana untuk beliau tinggali. Namun karena ia merasa nyaman dan penuh dengan kebahagiaan mestinya juga menjadi contoh bagi umatnya yakni umat muslim seluruhnya. Rumah adalah sebuah tempat idaman bagi seseorang bahwa sekarang banyak yang membangun rumah untuk mereka tinggali sebagai tempat untuk anak dan istri mereka bagi yang telah berkeluarga. Hal ini adalah sebuah keniscayaan bagi yang telah memiliki sebuah rumah. Tetapi, ada juga yang hanya sebuah gubuk kumuh yang dimilikinya bahkan juga ada yang tidak punya rumah sama sekali dan menjadi gelandangan dijalanan dan tak tentu arahnya. Hingga akhirnya mereka mungkin tinggal di kolong jembatan atau dimana saja sebagai tempat untuk berlindung. Rumah tempat dimana sebuah keluarga dapat bercanda tawa, gembira,senang, sedih dan lain sebagainya sebagai wujud akan rasanya. Tentu ini menjadi sebuah hal yang senantiasa di dambakan oleh orang-orang mereka tinggali. Namun, tidak sedikit juga yang hanya karena sebuah rumah hancur berantakan akibat ada yang ingin memiliki rumah tersebut dengan sewenang-wenang dan ingin menang sendiri. Sehingga tak jarang mereka berakhir dengan kemarahan yang besar dan mereka kemudian pergi dari rumahnya lantaran mereka di usir dan tak akan kembali lagi. Miris rasanya, jika hal itu terjadi, tetapi kiranya itu menjadi sebuah refleksi bagi kita mengintrospeksi diri bahwa tempat kita nantinya adalah sebuah tempat dimana hanya kita sendiri yang akan menghuninya yaitu kuburan. Dengan demikian, untuk apa rumah yang megah jika tak ada kebahagiaan bagi kita. Namun mereka yang memiliki rasa untuk meninggalinya dengan penuh kasih dn cinta yang tulis tentunya itulah sesungguhnya menjadi idaman setiap orang. Rumah memang seharusnya menjadi hal yang prioritas bagi kita sebab itu adalah salah satu kebutuhan primer yang mesti harus ada dan menjadi tumpuan harapan setiap orang. Inilah kiranya menjadi sesuatu yang mesti dipikirkan oleh siapa saja ketika hendak membangun sebuah tempat untuk berlindung.

Seperti halnya juga dengan ka’bah, yang merupakan tempat berkumpul atau berlindung, atau tempat memperoleh pahala atas ibadah haji, umrah, atau ibadah lainnya dengan pahala yang berlipat ganda dibandingkan dengan ibadah di tempat-tempat lain. Ka’bah dinamakan bait yang berarti rumah. Karena rumah adalah tempat kembali untuk beristirahat. Jika seseorang lelah atau gelisah dalam perjalanan, maka ia kembali ke rumahnya. Di sana kelelahan dan kegelisahan akan hilang atau berkurang. Demikian pula dengan rumah Allah. Hati manusia akan terpanggil untuk berkunjung kesana (M. Quraisy Shihab, Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an, Volume 1, hal.304).
Rumahku surgaku, dimana di dalamnya terdapat ketenangan jiwa dan kebahagiaan tersendiri bagi yang punya rumah termasuk penulis sendiri. Itulah kiranya kata yang tepat untuk rumahku yang penulis tinggali selama ini sebelum hijrah ke Makassar kuliah. Rumah tersebut salah satu rumah yang sudah sangat lama dan belum pernah di renovasi bahkan sekarang telah roboh disebabkan angin yang bersamaan dengan hujan yang menimpanya. Tetapi apa yang mesti dikecewakan semua telah terjadi dan kini rumah tersebut tidak ditinggali lagi. Harapan untuk memiliki rumah sendiri masih ada sebab ibu dan penulis sendiri telah memikirkan itu sejak lama juga ada usaha untuk membangun rumah membeli beberapa tiang dan penyangga itupun belum cukup dan masih memerlukan lagi untuk bisa membangun sebuah istana untuk ditinggali tetapi bukan ditempat rumah tersebut lagi atau di kampung itu namun jauh dari sana yakni di kampung orang tua suami dari ibu penulis. Sebenarnya penulis dan sekeluarga untuk tetap tinggal disana oleh keluarga lain. Kendalanya tidak ada tanah dan sesuatu yang bisa dikelola disana seperti kebun sedangkan di kampung bapak penulis ada tanah dan kebun untuk ditinggali. Penulis biasa berseloroh bahwa rumah itu bagaikan rumah kuno yang ada di zaman modern tanpa lampu. Namun satu hal yang meski diketahui bahwa walaupun rumah seperti sekarang ini penulis merasa tetap bisa menikmati akan nikmat kebahagiaan dan ketenangan walapun rumah sebelum roboh itu kami tempati untuk istirahat dan berlindung dalam kelelahan dan lainnya.

   

Kesabaran Yang Tinggi

KEKUATAN DOA
Seandainya Allah tidak menciptakan langit dan bumi beserta isinya.
Apakah mungkin kubisa seperti apa yang aku inginkan ku melangkah dengn kakiku sendiri dan aku berbicara lewat mulutku sendiri.
Namun kumerasa itu sangat berarti karena aku bias melakukan sesuatu dengan caraku sendiri dan semua itu berhasil karena-Nya
Doaku slalu kupanjatkan kepadamu ya Allah karena hanya engkaulah tempat aku meminta dan memohon ampunan ya Allah
Izinkan diri yang lemah ini menjadi kuat dan tagas agar bias memimpin umat Islam ke jalan yang benar
By : CADEL
IKHLAS DAN SABAR
Selalu baik buat kepada orang lain tetapi terkadang orang itu membuat perasaan kita tidak pernah dihargai
Akan tetapi kita harus selalu sabar sebab orang yang sabar pasti akan menemukan jalan keluarnya sendiri
Namun terkadang juga kesabaran kita juga berkurang karena emosi tergoda syetan
Dan jika kita melawannya dengan penuh rasa keikhlasan karena Allah bersama kita maka orang yang selalu bersabar maka Allah akan bersemi didalam hati para hambanya
Itu adalah cobaan bagi orang yang ingin bertaqwa kepada Allah, cintailah Allah maka Allah akan ada dalam hati bagi yang selalu bersabar jikalau menerima cobaan atau masalah.

By : CUMALA’

Minggu, 27 Maret 2016

FITNAH LEBIH KEJAM DARIPADA MEMBUNUH



  
Entah mengapa kali ini Aku di fitnah lagi, sesuatu yang tidak pernah Aku lakukan. Ini adalah bagian dari ujian Tuhan kepadaku untuk tetp tegar dan kuat menghadapi segala hambatan dan liku kehidupan yang Aku alamai. Tak mudah memang jika  kembali difitnah untuk bisa diterima. Bahkan ini menjadi beban dalam hidup Aku. Kepalaku sakit tak tertahankan disambut hati yang sering berkecamuk dalam menanggapi setiap tuduhan yang dilontarkan kepadaku. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa fitnah itu adalah semacam ujian dan fitnah itu lebih kejam daripada sebuah pembunuhan. Jika ingin merenung mengapa Allah menyatakan hal tersebut di dalam firmannya. Ini menyuruh kita untuk berpikir bahwa ini sesuatu yang sangat besar hikmahnya dalam kehidupan sehari-hari manusia. Fitnah itu sendiri menuduh orang lain tanpa ada bukti yang nyata dan itu harus mendatangkan saksi sebanyak empat orang.
            Siapapun tidak ingin ada orang yang difitnah apalagi dituduh melakukan sesuatu yang tidak dilakukannya. Sebab itu akan berpengaruh luas terhadap diri dan orang lain. Hati ini seakan gundah dan tubuhku menjadi lemas serta tak semangat lagi. Akan tetapi, Aku mencoba untuk tetap berpikir positif agar Aku kuat dan bisa tahan mental dari siapapun juga. Aku senantiasa berdoa kepada Tuhan agar selalu dikuatkan dalam menghadapi setiap cobaan dan ujian dari-Nya. Jika ada manusia mengatakan mereka telah beriman maka Allah akan memberi mereka berupa ujian sebagimana Allah sendiri telah berfirman, “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan: “Kami telah beriman,” sedang mereka tidak diuji?.”
            Tentunya setiap manusia yang hidup di dunia akan mendapat ujian dari Allah baik mereka yang beragama Islam maupun selain yang dari agama Islam. Oleh karena itu, telah jelas kepada mereka bahwa Allah akan memberikan kepada mereka berupa ujian apa saja. Entah itu kerugian bagi pengusaha, pegawai yang dipecat, petani rugi dari hasil panennya, dan lain-lain ujian yang Allah beerikan kepada manusia. Tak terkecuali kepadaku. Ada manusia yang diberikan ujian berupa harta yang berlimpah banyaknya seperti Qarun, ada manusia yang diberikan kekuasaan yang ingin menjadikan dirinya Fir’aun, ada juga manusia yang diberikan ujian berupa ilmu seperi Raja Namrud tetapi menyombongkan diri. Dan akhirnya mereka dibinasakan oleh Allah swt.
            Aku terus merenungi hidup ini bahwa manusia pada akhirnya akan kembali kepada Tuhannya untuk bertemu dengannya. Namun, tentunya sebelum bertemu dengan kita memerlukan persiapan yang matang untuk bisa bertemu. Laksana ajudan yang sedang ingin bertemu dengan Presiden. Kematian akan datang setiap saat dan manusia tak akan pernah tahu dimana mereka akan mati dan tak akan pernah tahu dimana mereka akan dikuburkan. Kematian itu akan menjadi peringatan bagi manusia yang masih mempunyai nafas dihidungnya.
            Alangkah indahnya bila kematian itu dijemput dengan khusnul khatimah dan tidak dengan su’ul khatimah. Mudah-mudahan dengan selalu mengingat kematian menjadikan manusia cerdas sebab Rasulullah mengatakan orang yang selalu mengingat kematian menjadikan dirinya cerdas. Cerdas dalam artian mempersiapkan segala sesuatunya menjadi bekal untuk dalam menyambut kematian tersebut. Jangan berpikir bagaiamana kita akan mati tetapi yang perlu adalah suadah adakah bekal kita. Jika Aku ditanya tetang hal itu maka Aku akan menjawabnya bahwa bekalku masih belum cukup dan sering kalinya aku melakukan kemaksiatan yang dibenci dan dilarang oleh Allah. Namun, Aku akan senantiasa berusaha untuk melakukan perbaikan-perbaikan untuk ber-fastabiqul khairat berlomba-lomba dalam kebaikan. Berusaha untuk berjamah di Masjid setiap waktu shalat, mengaji selama 15 menit dan menghapal Al-Qur’an, membaca buku –buku yang bermanfaat dan satu lagi menulis.
            Sekali lagi, sebagai manusia jangan mudah menfitnah orang lain jika tak ada bukti dan saksi serta jagalah lidah yang tak bertulang ini karena lidah lebih tajam dari pisau dan fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan. Mari kita saling bermuhasabah merenung diri atas apa yang telah kita lakukan jangan sampai membuat kita lalai dari mengingat Allah. Semua urusan kita kembalikan kepada-Nya jika apa yang kita usahakan telah maksimal kita laksanakan. Bertawakkala kepada Alllah adalah jalan satu-satunya untuk kita agar hati ini menjadi tenang dan mari kita terus bercermin dari hati kita masing-masing.
            Janganlah kita mudah menfitnah orang lain, apalagi Aku tak pernah sekalipun melakukannya. Prinsipku jika Aku yang melakukan kesalahan maka dengan jujur akan katakan, tetapi jika aku tak melakukan kesalahan maka dengan jujur aku katakan bahwa bukan aku yang melakukan kesalahan tersebut.

Rabu, 13 Januari 2016

MENUNGGU YANG TAK PASTI



 
Seorang Ibu yang memegang tangan anaknya di sore hari.
Nun jauh dalam lubuk hatinya yang sudah lama terpendam, ia telah menunggu seorang yang ditunggu-tunggu kedatangannya. Namun, tak kunjung datang ia hanya terus menunggu sesuatu yang tak pasti. Dan itulah dirinya kini ia telah memasuki usia paruh baya. Ia ditinggal suaminya sudah sejak lama sekitar 20 tahun lebih. Namun ia tak pernah goyah sedikitpun untuk mencari yang lain walaupun sebenarnya ada juga yang bermaksud baik datang kepadanya. Akan tetapi, ia menolak lantaran menunggu sesosok manusia yang mengarunia empat orang anak dan anak laki-laki keduanya telah lama tiada sekitar 14 tahun yang lalu. Kini ia ditemani tiga orang anaknya. Anak pertamanya sedang menyelesaikan kuliahnya di Makassar di salah satu perguruan tinggi Muhammadiyah. Anak keduanya juga telah masuk di sebuah universitas negeri di Makassar. Dan yang bungsu masih duduk dibangku Sekolah Dasar di kampungnya. Dan di antara semua saudaranya hanya ia yang mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga perguruan tinggi. Walaupun keadaan ekonominya pas-pasan tetapi karena kedua anaknya tersebut boleh jadi punya bakat masing-masing sehingga mereka mampu untuk melanjutkan sekolah hingga ke jenjang yang lebih tinggi. Tak pelak, ia sangat bersyukur dan sangat menyayangi anak-anaknya. Ia berharap anak-anaknya kelak berguna baginya dan orang lain. Kini ia tinggal di rumah yang sudah tak layak ditinggali namun apa boleh buat tempat yang ia tinggali belum pernah direnovasi selama rumah tersebut dibangun dan itupun adalah satu-satunya rumah peninggalan ayahnya. Dan sekarang ia dan anak-anaknya tinggal disitu sedangkan saudaranya yang lain ada yang sudah punya rumah dan ada juga yang Cuma numpang di rumah saudaranya.
Ia adalah seorang perempuan yang menjadi ibu dan ayah bagi anak-anaknya. Ini terbukti anak bungsunya yang didengar langsung anak sulungnya bahwa ibunya juga sekaligus ayahnya. Karena anak sulungnya laki-laki, anak bungsunya tersebut sangat akrab sekali dengan kakaknya tersebut boleh jadi karena tidak mendapat kasih sayang dari ayahnya sehingga anak bungsunya tersebut ketika datang dari Makassar untuk liburan anak bungsunya tersebut selalu bersama bahkan sangat ditunggu kedatangannya ketika baru pulang dari Makassar. Sebagai orang tua ia kemudian berwirausaha apa saja yang bisa dijual dan itu dilakukan telah mendapat pelajaran juga dari orang tuanya yang juga biasa berdagang di pasar dan ia pun mengambil alih profesi tersebut. Dan setiap menjelang subuh ia bergegas dan menyiapkan segala keperluannya untuk dibawah ke pasar. Ia biasa pergi ke pasar dengan jalan kaki dan terkadang juga dia menumpang ojek yang akan ke pasar. Dari hasil dagangannya itu hanya mampu untuk membeli keperluan sehari saja seperti ikan, sayur dan lainnya. Belum lagi anak bungsunya yang kuat sekali jajan sampai-sampai ketiak anak bungsunya tidak diberikan uang jajan ia trerus merengek untuk diberi uang. Terkadang iapun pusing tujuh keliling sebab dagangannya belum ada orang yang membeli sudah minta jajan. Ia biasa memarahinya bahkan tak segan-segan memukulnya. Iapun tersadar bahwa ia sangat menyayangi anaknya namun karena rewel dan tak bisa diam ia pun biasa melampiaskan kepadanya dan juga semua anaknya biasa kena kemarahannya. Namun sebenanrnya itu dilakukannya karena ia begitu cinta kepada anak-anaknya.
            Ia biasa merenung diri memikirkan nasibnya, yang dililit kemiskinan dan biasa menyalahkan suaminya mengapa ia tega ditinggal pergi. Ia biasa dikatakan telah gila, stres, sinting oleh orang-orang dikampungnya dan termasuk saudara-saudaranya. Namun anaknya sangat salut kepadanya ia tak mengubris ketika ada yang mengatakan seperti itu. Wajar saja, mana ada orang yang ikhlas dimadu oleh suaminya. Selama dua puluh tahun lebih tidak diberikan nafkah lahir dan batin oleh suaminya. Orang-orang mengatakan bahwa suaminya dikatakan hidup tetapi mati dan dikatakan mati tetapi masih hidup. Inilah kata mungkin pantas bagi suaminya yang rela meninggalkan begitu saja. Harapannya tak pupus ditelan masa ia senantiasa mengingatkan kepada anaknya yang kuliah di Makassar untuk datang kepadanya untuk meminta uang sebagai tanggungjawabnya. Harapan untuk bersama lagi dengan suaminya tinggi sekali dan tak pernah padam oleh apapun itu, ia mengalami gangguan psikologi kejiwaan karena ulah suaminya. Menunggu yang tak pasti mungkin sebuah kalimat yang tepat untuknya. Tulisan ini mencoba menggambarkan betapa ia sangat kesepian dalam kesendiriannya mencoba untuk terus bersabar menanti, menanti dan terus menanti sampai kapanpun hingga harapannya dapat terwujud. Salah satu harapannya adalah ia ingin membangun rumah untuk dirinya dan anak-anaknya. Besar harapannya untuk bisa tinggal layak seperti kebanyakan orang dapat tidur dengan nyenyak. Ia biasanya tidak dapat tidur dengan nyenyak akibat suara bising seng yang diakibatkan oleh angin bersamaan dengan hujan. Ia tak takut tidur di rumah yang hanya ditemani lampu kaleng sinanya tak mampu menyinari suasana rumah hampir roboh tersebut. Baru-baru ini ini ia terpaksa tidak bermalam lagi di rumah tersebut karena rumah itu sujud kebelakangan (baca: roboh). Kini ia tinggal bersama dengan anak bungsunya sebab kedua anaknya tinggal di Makassar untuk melanjutkan kuliahnya. Ia sebenarnya tak membiarkan kedua anaknya tersebut untuk kuliah. Namun kedua anaknya memberikan pengertian bahwa mudah-mudahan dengan anaknya kuliah di Makassar nantinya dapat mengurangi bebanya di kemudian hari.
            Ia biasa dipanggil oleh orang dengan sebutan “sia” itu nama panggilannya baginya sedang nama yang tertera di ijasahnya adalah syamsiah dan terkadang juga dipanggil degan sebutan salasia. Namanya ayahnya bernama Jumaka dan Ibunya bernama Sala’. Ia adalah anak ketiga dari lima bersaudara. Juga ia mempunyai saudara tiri lima orang dari ayah yang sama dengan ibu yang berbeda yang tak lain adalah saudara dari ibunya yang bernama Hanang. Ia tinggal di salah satu kabupaten di Sulawesi selatan tepatnya di Jeneponto kecamatan Tamalatea kelurahan Bontotangnga lingkungan Bumbungloe. Semua saudaranya dengan ia akur-akur saja namun terkadang pertikaian antar saudara tidak bisa dihindari itu wajar saja. Siapa pun akan mengalami hal seperti itu disetiap keluarganya. Sebagai contoh antara ia dan saudara kandung sendiri yakni kakak pertamanya yang perempuan tidak akur hingga beberapa tahun lamanya. Namun sekarang sudah berbaikan dengannya dan juga antara saudara bungsunya juga pernah berselisih. Kini saudara bungsunya telah tiada meninggalkan seorang suami dan juga empat orang anak. Tiga laki-laki dan satu perempuan. Walaupun begitu ia seakan derajatnya di mata orang terutama di kampungnya  terangkat dengan anaknya yang kuliah di Makassar. Ada orang bijak mengatakan bahwa orang tua itu sebenarnya tak mengharapkan apa-apa dari anaknya. Namun ketika anaknya telah berhasil ia hanya akan mendapatkan namanya dihargai di mata orang yang ada disekelilingnya. Suatu ketika ia pernah menangis meronta-ronta oleh akibat ulah anaknya sendiri yakni anak sulungnya ketika itu ia tak tahu sama sekali anaknya tersebut menggadaikan kebunnya selama sepuluh dengan mengambil uang dua juta untuk diinvestasikan dari bisnisnya. Ia diiming-imingi dengan impian yang amat tinggi untuk bisa sejahtera dalam waktu yang relatif singkat. Tak dinanya, malah ia ditipu. Akhirnya impiannya tinggal kenangan saja. Dan anaknya tersebut mendapat berbagai cibiran dan cemohan dari orang-orang yang tak menyukainya. Dan menjadikan hal tersebut sebagai senjata dari orang-orang yang bertanggungjawab untuk melumpuhkan semangatnya. Namun, hal itu bagi anak sulungnya tersebut dijadikan sebagai cambuk untuk tidak mengulanginya lagi dan akan selalu untuk berbuat yang wajar-wajar saja. Hingga kini, masalah itu selalu saja diungkit-ungkit bagi mereka yang tak senang padanya dan menjadikan itu sebagai hinaan baginya. Anak sulungnya tersebut menganggap bahwa ia selalu diperhatikan dan dipikirkan bagi yang membencinya. Seakan terasing di kampung sendiri. Anak sulungnya tersebut bagi kalangan sebayanya bukan bermaksud riya’ tetapi hanya sebagai bentuk kesyukurannya. Ia disebut orang mempunyai kelebihan tersendiri bagi kalangan sebayanya.
            Dari sebuah kata menjadi kalimat sederhana kemudian beralih menjadi paragraf yang mempunyai makna tersendiri. Dari makna itu mudah-mudahan ditemukan hikmah yang dalam paragraf tersebut setelah itu menjadi selembar halaman dalam sebuah kertas yang akan beruntai menjadi lembar demi lembar dan akhirnya menjadi sebuah bacaan yang punya sarat akan makna dan hikmah di dalamnya. Tulisan ini ditulis hanya sebuah refleksi dari dari anak akan ibundanya yang amat disayanginya agar semua orang tahu bahwa betapa sulitnya mengaringi samudra kehidupan yang dihadapi oleh seorang ibu dari anaknya dan seorang istri yang lama ditinggal oleh suaminya yang kurang lebih duapuluh tahun lamanya. Dan tulisan ini muncul begitu saja dibenak penulis untuk ditulis dalam lembaran kosong yang sangat bersedia sekali dicoret-coreti dan tangan ini asyik dalam tariannya di atas lembaran kosong ini. Penulis berharap dengan ditulisnya sedikit serpihan kehidupan membawa makn yang sangat berarti betapa kita hidup hanya sementara dan untuk abadi hanyalah melalui tulisan. Itulah adalah kata dari orang-orang bijak yang memaknai sebuah tulisan dan akan menjadi sejarah dalam kehidupan ini. Apa yang telah tertulis di atas juga hanya untuk mengurangi beban penulis untuk menyimpan dalam memory yang terbatas ini yang suatu saat akan lupa dan khilaf. Dan tulisan ini mencoba menggali potensi bagi penulis dalam hal penulisan. Ini adalah fenomena yang penulis rasa sudah sangat langka. Apalagi sekarang banyak yang pintar dalam berbicara dan beretorika dalam menulis amat susah baginya. Namun, tidak semua juga orang seperti itu adakalanya. Bisa bicara di depan orang banyak dan lihai dala menulis. Bahkan yang lebih para lagi tidak bisa bicara apalagi menulis. Sekian dari penulis semoga bermanfaat.

Senin, 30 November 2015

BERKARYA UNTUK KEABADIAN


Kalimat di atas Aku dapatkan di sebuah buku yangb berjudul “Berlian dari Timur, Mengurai Gagasan dan Pemikiran IMMAWATI dalam Kehidupan”, yang menguraikan berbagai dinamika yang dialami para IMMAWATI ketika menjadi aktivis IMM di Sulawesi Selatan. Ada yang mengisahkan tentang perjuangan mendakwahkan Muhammadiyah di lingkungan masyarakat dan keluarganya, perjuangan menghidupkan Muhammadiyah di kampus hingga jatuh bangunnya seorang IMMAWATI dalam mempertahankan ideologinya. Sungguh sebuah perjuangan luar biasa yang ditunujukkan oleh para kader IMM Sulawesi Selatan, sehingga diharapkan kisah dalam buku tersebut mampu menginspirasi semua kader-kader IMMAWATI di belahan bumi.
Itulah sedikit cuplikan mengenai isi buku tersebut, kini kita fokus pada kalimat di atas yakni “Berkarya Untuk Keabadian” kalimat itu kudapatkan dari seorang penulis buku ketika menghadiri sebuah seminar yang di Auditorium Al-Amien yang di selenggarakan oleh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Analis Kesehatan (IMM Anakes). Ketika itu, sebenarnya Aku tidak di undang oleh penyelenggara, tetapi Aku langsung diundang oleh penulis yang menjadi pemateri lewat telpon ketika kami menghubungi beberapa hari yang lalu. Aku menghubungi penulis agar kiranya memasukkan tulisan di Buletin kami yakni “Buletin Al-Mufiid” yang terbit setiap pekan. Kemudian penulis memberi tahu Aku agar hadir dalam seminar tersebut dilaksanakan pada Ahad, 29 November 2015. Kalimat itu ditulisnya ketika Aku minta tanda tangan darinya sebab penulis adalah editor dari judul buku di atas. Penulis itu tak lain adalah Ibu Siti Suwadah Rimang salah satu orang Jeneponto, tentunya ada kebahagiaan tersendiri mengenal beliau apalagi beliau adalah Dosen kami ketika semester 5 di Pendidikan Ulama Tarjih dan pernah berpesan kepada kami bahwa “Menulislah apa yang ada dibenakmu, jangan permasalahkan bagaimana bagusnya tulisanmu, karena yang menilai adalah orang yang membaca tulisanmu, jadi menulislah”. Itulah yang selalu Aku ingat ketika ingin mencurahkan segala curahan hatiku ke dalam sebuah goresan pena di atas kertas polos dan putih yang selalu siap Aku nodai dengan tulisan. Bahkan, ini merupakan dorongan dari Ust. Husni dan Ust. Mawardi untuk menulis. Dan kucoba menulis lewat Buletin Al-Mufiid. Oleh karena itu, Ust. Husni sebagai sekretaris Pendidikan Ulama Tarjih Unismuh Makassar memberikan kepercayaan untuk mengelola buletin, boleh jadi beliau melihat Aku mempunyai bakat dalam menulis dan ini juga Aku belajar dari kakak senior Aku namanya Fadil Burhan Lai. Aku dan Kak Fadil dipercayakan untuk mengelola Buletin. Beliau sebagai pimpinan redaksi sedangkan Aku sebagai bagian sirkulasi, percetakan dan sponshorshipnya. Dan ini semakin menambah gairah Aku untuk tetap menulis. Entah apa yang Aku alami ide untuk menulis kadang datang begitu saja melintas sepintas lalu di hadapanku untuk menulis. Sehingga teerkadang ini membuatku semakin gelisah jika Aku tidak segera menulis.
Demi untuk mengasah lebih tajam lagi untuk menulis ku coba terus membaca buku apa saja baik itu novel, cerpen, buku bacaan biasa bahkan buku yang mempunyai bahasa ilmiah yang terlalu tinggi. Dan memang membaca adalah hobiku ketika masih kecil hingga sekarang. Katanya sih ilmu bisa didapatkan lewat membaca. Ini kiranya yang membuat Aku untuk terus berusaha juga karena ada memang keinginan menjadi seorang penulis buku. Aku teringat ketika Aku masih aktif di Ikatan Pelajar Muhammadiyah ketika itu Aku masih di Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar Muhammadiyah Bumbungloe sekaligus merangkap jabatan di Pinpinan Cabang  Ikatan Pelajar Muhammadiyah Tanetea (salah satu ortom Muhammadiyah) lewat ini Aku kenal Muhammadiyah. Ketika itu kami mengadakan kajian dan pematerinya adalah Krisna Pabicara (Nama Pena-nya) dan nama aslinya Sahabuddin, itu sedikit yang Aku tahu dari beliau. Aku mulai mendapatkan motivasi untuk menulis dari beliau apalagi Aku mendapatkan hadiah sebuah buku darinya dan plus tanda tangannya. Walaupun baru keesokan harinya Aku mendapatkan tandatangannya. Darinya buku yang diberikan kepadaku untuk senantiasa membacanya hingga habis kulahap kubaca (Maklum... sedang lapar...hehehe). Buku tersebut memuat tentang motivasi dalam merintangi kehidupan dan buku tersebut juga ada semacam latihan otak agar tidak selalu jenuh yang hingga sekarang Aku selalu mempraktekkannya ketika sedang jenuh. Dari buku tersebut membuat diriku membuncah apalagi kudengar langsung dari guruku yang tak lain juga keluarganya, juga sebenarnya penulis yang Aku sebutkan di atas adalah kami mempunyai hubungan keluarga. Bahkan ketika semester tiga di Pendidikan Ulama Tarjih, Aku tempel potonya di diding kamarku yang kudapatkan di internet yang senantiasa kupandangi Aku akan keluar kamar.
Aku sering merenung apakah Aku bisa seperti mereka (para penulis) untuk bisa juga menulis. Dalam setiap perenungan Aku biasa merenung untuk tetap bisa dalam menggapai impianku. Aku teringat dengan sebuah pepatah Arab “Man Jadda Wajada, barang siapa yang bersungguh-sungguh maka dapatlah ia”. Namun, seiring berjalannya waktu Aku dihinggapi rasa pesimistis dan minder untuk menulis bahkan terkadang ketika ada rasa untuk menulis, rasa malas semakin besar kepadaku. Wajar saja ketika itu (semester awal hingga semester lima) Aku tak punya Laptop atau Notebook. Jadinya Aku bakat sempat terurungkan niatku untuk menulis, dan ketika semester dua Aku untuk bisa mempunyai notebook pada saat semester lima nantinya. Akan tetapi, itu baru tercapai ketika Aku ingin menyusun Risalah (penyelesaian di Pendidikan Ulama Tarjih) untungnya ada Ust. Husni yang ingin membantu dan menolong Aku. Beliau menjual notebooknya seharga satu juta. Dan ketika itu Aku sama sekali tak mempunyai uang untuk membeli notebooknya tatapi ada dukungan dan support dari teman-teman PUT. Aku terpaksa meminjam uang kepada mereka. Termasuk sebagian uang buletin Aku untuk menutupi juga dari bendahara BEM. Akhirnya harapan untuk memiliki sendiri notebook tercapai juga. Namun, belum selesai sampai disitu Aku mulai dirundung pilu dengan apa nantinya Aku harus mengembalikan uang mereka. Tetapi, dengan keyakinan Aku akan melunasi semua itu walau dalam jangka waktu yang tak menentu. Setelah memiliki notebook, kendala datang lagi bahwa notebook yang Aku miliki sekarang banyak sekali kekurangannya, baik dari speakernya yang rusak (MP3-nya tidk kedengaran kecuali pakai headset), layarnnya, chargernya (hampir putus), dan satu lagi kekurangannya baterainya cepat sekali lobet. Namun, lagi-lagi Aku kembali merenung agar menerima semua itu. Toh ini demi penyelesaianku di Pendidikan Ulama Tarjih dan tidak lagi meminjam ke teman-temanku yang menjadi korban ketika Aku pakai laptop atau notebooknya habisku Aku ja’da-ja’dali (dijahili....hehee maaf yach teman2 Aku merpotkan kalian). Dengan mempunyai notebook sendiri Aku lebih serius lagi menulis baik di buletin maupun di blog pribadiku demi untuk terus mengasah bakatku dalam hal menulis. Aku teringat kepada para cendikiawan Muslim, seperti Ibnu Sina, Al-Farabi, Ibnu Rusd, Al-Kuarismi, dan lain-lain juga kepada para imam Mazhab seperti, imam Hanafi, imam Malik dengan Al-Muwaththo-nya, imam Syafi’i dan iman Ahmad bin Hambal serta imam yang mempunyai karya baik di bidang fikih, pemikiran kalam dan sebagainya. Mereka bisa di kenal dan dikenang karena karya mereka. Sehingga benarlah oleh penulis Ibu Suwadah mengatakan “Berkarya Untuk Keabadian”. Dan itulah juga yang sekarang dilakoninya sebagai penulis dan buku yang ditulisnya juga Aku telah lahap habis hanya dalam satu hari satu malam dengan bukunya yang berjudul “Menulis Seindah Bernyanyi” yang menguraikan bagaimana trik-trik dan tips-tips dalam penulisan terutama bagi mereka yang pemula (seperti Aku ini). Katanya sih menulis itu seindah bernyanyi ketika ia mulai jenuh untuk menulis ia kemudian mengekspresikan semuanya dengan istirahat bernyanyi atau mendengar lagu-lagu favoritnya(petikan dari buku “Menulis Seindah Bernyanyi”).
Hingga saat ini, Aku masih terus merenung dan terus mengasah untuk menulis juga Aku sering banyak membaca untuk menambah pembendaharaan kata selain itu mendapatkan ilmu dari buku tersebut lalu berusaha mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Memang tak mudah untuk menggapai sebuah impian menjadi penulis, namun Aku tetap berusaha menulis agar kelak Aku juga bisa dikenang dan dikenal lewat karyaku dalam hal menulis. Sekarang saja Aku sedang berusaha untuk mewujudkan impianku menulis buku otobiografiku sebelum Aku melepaskan kakiku di Pendidikan Ulama Tarjih dan besar harapanku nantinya Aku ingin mempersembahkan ketika Aku di wisuda nantinya. Itulah harapan terbesarku saat ini. Dengan tetap berusaha menulis, tak peduli apa yang nantinya Aku tulis yang terpenting saat ini adalh terus menulis dan yang akan menilainya bukan Aku sendiri tetapi mereka yang nantinya akan membaca tulisan Aku nantinya. Sebagian tulisanku Aku telurkan di Blog pribaku di Ibnusyam92.Blogspot.com yang kuberi nama blogku CORETAN QALBU disinilah Aku kumpulkan kepingan-kepingan tulisanku baik itu catatan harian, tugas perkuliahan, novel, cerpen dan lain-lain. Tulisan di blogku ini Aku sering men-share-kannya di FB maupun di GOOGLE+. Dalam mengasah dalam penulisan Aku juga megelola blog PUT yang sebelumnya di kelola oleh kak Anshar dan Aku minta kepadanya apa email dan kata sandinya juga. Ketika ada kegiatan kami di Pendidikan Ulama Tarjih Aku biasa memasukkannya di blog ini alamatnya putummakassar.blogspot.com dengan nama blognya Pendidikan Ulama Tarjih.
Selama di Pendidikan Ulama Tarjih kami juga disuguhkan oleh Ust. Husni tentang Jusnalistik yang juga menjadi mata kuliah di semester satu dan dua. Disitulah Aku kembali mendapatkan motivasi untuk menulis. Selain itu ketika masih di MA Muhammadiyah Tanetea Aku pernah mengikuti penulisan Jurnalistik di Kabupaten Jeneponto yang diselenggarakan oleh IKAWARTA di Jeneponto dan itu dimuat di koran Fajar, TV One, Tribun Timur dan sejumlah koran lokal.  Dari itu Aku mendapatkan sertifikat dan koran yang memuat kegiatan ini dan sekarang masih tersimpan rapi di dalam berkasku di rumah. Kembali Aku ingin mengutarakan bahwa selama belajar jurnalistik di semester satu Ust. Husni terus memotivasi kepada kami untuk menulis termasuk Aku sendiri. Dan salah satunya adalah kami semua dari satu kelas ditugasi untuk membuat laporan ketika kami kembali dari rihlah dakwah. Bahkan ketika Aku ditugaskan di Masamba Luwu Utara, Aku disana selama satu bulan penuh juga menulis selama satu bulan penuh juga yang sekarang tulisan tersebut masih ada dan Aku beri judul “Catatan Harian di Kampung Pugalu” itu Aku tulis dengan menggunakan tangan melalui pena di atas kertas. Itu Aku lakukan sebab sempat terpikirkan dibenakku untuk menulis ketika sebelum meninggalkan tempat kami menimba ilmu yaitu di Rusunawa C.
Menulislah itulah kata yang akan selalu terngiang dibenakku pesan dari Ibu Suwadah ketika sedang mengajar bahasa Indonesia. Dan sempat juga Aku ungkapkan lewat FB dengan mengatakan bahwa apakah bisa menjadi seorang penulis, ada yang suka dan ada juga yang sempat mengomentarinya. Sekarang Aku hanya bisa berusaha dengan sekuat tenaga dan semampuku untuk terus menulis walaupun nantinya harapan itu tidak sesuai dengan kenyataan namun Aku akan senantiasa berbesar hati dan berlapang dada dan takkan kecewa jika semua itu tidk tercapai. Namun, Aku akan senantiasa bermimpi sebab jika berusaha dan yakin Insyaallah semua itu akan tercapai. Mimpi itu akan senantiasa aku tanamkan dalam diriku bahwa jika orang lain bisa menulis dan mengapa Aku tidak padahal mereka dan Aku sama saja. Mempunyai dua tangan untuk menulis dan Aku juga akan senantiasa membuat jari –jemariku ini untuk terus menari dan mendendangkan di atas barisan keyboard notebookku demi untuk mencapai harapan itu. Katanya Ust. Husni ketika kami masih semester awal di Pendidikan Ulama Tarjih beliau menjelaskan tentang MPM (Majelis Pemberdayaan Masyarakat) yang gelutinya dan beliau sebagai ketuanya dan sempat mengatakan bahwa Saya ini bukanlah ahli dalam pertanian tetapi karena saya tekuni maka akhirnya saya bisa. Berangkat dari kalimat tersebut Aku juga ingin mencoba menulis apa yang ada dipikiranku dan terus mengasah dalam bakatku dalam hal penulisan. Meski banyak rintangan yang Aku hadapi nantinya namun itu bukan penghalang dalam menggapai impian itu. Aku juga teringat pesan dari Ibu Amirah bahwa untuk menulis itu pastinya akan mendapatkan cacian, makian, cemoohan dan lain sebagainya. Dari ini juga pastinya Aku tetap berusaha walaupun itu telah Aku dapatkan makian, cemoohan dan tetasa pahit sekali Aku telan ketika Tulisan di Buletin Al-Mufiid sempat ada yang mengomentarinya dan komentar tersebut tak lain datang dari dosen kami yakni Prof. Dr. Arifuddin Ahmad dan Dr. Abdillah Mustari mengenai hadits yang Aku tulis ternyata tidak shahih. Wajar saja sebab ketika itu Aku ambil dari blog dan sumbernya Aku juga cantumkan agar tidak dibilang bahwa Aku mengarang yang bukan-bukan. Tetapi Aku harus menerima semua itu, Ketika itu Aku dipanggil oleh Ust. Husni menjelaskan semua itu. Aku jawab dengan apa adanya dan jadinya yach.. Aku mendapatkan suguhan lombok pedas darinya dan berusaha menelannya walau dengan hati yang pilu. Namun, satu hal setelah kejadian itu Aku bangkit lagi dan tetap berusaha memperbaiki semua itu. Aku mendapatkan il mu baru lagi dan ketika sebelum terbit buletin Aku sempat membatin bahwa tak selayaknya buletin ini terbit karena satu dan lain hal Aku terbitkan saja walaupun itu Aku akan mendapat tanggapan dari pembaca. Akhirnya naik cetak dan telah Aku sebarkan ke Masjid yang menjadi langganan Buletin Al-Mufiid. Dan ternyata kenah deh batunya (untungnya tidak telalu sakit...hehehe). Hadapilah masalahmu dengan senyuman itulah secuil petikan pesan dari guru sosiologi Ibu Kristiana. Itulah yang senantiasa menghiasi hariku jika Aku dirundung galau (kata anak sekarang). Aku tak akan pernah berhenti untuk menggapai impian tersebut. Aku menulis selain ingin dikenang dan dikenal tetapi lebih dari itu Aku menginginkan ada ridha-Nya untukku ini. Sebab kepada Allahlah tempat Aku memohon pertolongan. Dan Allah akan senantiasa menolong hambanya yang memerlukan pertolongannya.
Hari ini, detik ini juga Aku curahkan luapan emosiku untuk menulis demi secerca harapan yang masih tersimpan dalam lubuk hatiku yang paling terdalam. Oleh karena harapan itu Aku disini menulis dan ingin menggapainya. Aku ingin mereka tahu bahwa Aku juga bisa seperti mereka. Sebenarnya tidak sussah tetapi karena belum tahu dan mencoba jadinya tidak tahu. Tetapi pisau yang tak tajam akan mengkilap dan tajam seperti samurai jika terus di asah. Dan tentang penulisan sebenarnya Allah telah menyinggungnya di dalam Al-Qur’an pada surah Al-Qolam ayat 1 yang berbunyi “Nun, Demi pena dan apa yang mereka tuliskan”. Tak dinanya ini juga yang menjadi semboyan dan motto Ikatan Pelajar Muhammadiyah (Ortom Muhammadiyah di kalangan pelajar) dan Aku satu satu dari ribuan bahkan jutaan kader yang ada di Indonesia ini dan Aku juga telah mengantongi Kartu Tanda Anggota IPM (KTA IPM) dan sekarang KTA tersebut masih tersimpan rapi di dompetku. Berkarya untuk keabadian sebenarnya bukan hanya lewat tulisan tetapi juga bisa bermakna aksi nyata seperti yang telah dipraktekkan oleh KH. Ahmad Dahlan dengan teologi Al-Ma’un-nya, mendirikan sekolah, rumah sakit, Panti Asuhan, Majalah, dan termasuk organisasi MUHAMMADIYAH yang menjadi basis pergerakan dakwah yang hingga sekarang eksistennya tetap bertahan walau telah mengarungi samudra tiga zaman yakni zaman penjajahan Belanda, Penjajahan Jepang dan Zaman setelah kemerdekaan mencakup Orde Lama, Orde Baru dan Reformasi.
Banyak cara dalam mengekresikan berkarya untuk keabadian selain yang telah Aku sebutkan di atas masih banyak hal dan sesuatu yang bisa menjadikan kita untuk bisa dikenang dan dikenal orang. Bahkan untuk melakukan tindakan-tindakan yang tidan dibenarkan oleh Islam kebanyakan dari kita melakukannya seperti, korupsi, kolusi dan nepotisme, begal, merampok, mencuri dan lain sebagainya. Itulah sekelumit cuplikan atas apa yang terjadi sekarang ini. Dan itu telah menjadi hal yang sangat lumrah. Berkarya demi untuk orang lain dan menyumbangkan karya itu memang perlu perjuangan dan proses yang sangat panjang. Untuk itulah marilah kita semua bermimpi dan terus berkarya dalam kehidupan kita ini. Berkarya untuk diri sendiri dan orang lain. Itulah salah satu visi hidupku agar bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain.