Kata Mutiara

Tidak akan kembali hari-hari yang telah berlalu
Tampilkan postingan dengan label IPM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IPM. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Juni 2017

LOGIKA BER-IPM DALAM DAKWAH KOMUNITAS



 
Sandi Ibnu Syam
IPM sebagai organisasi gerakan dakwah dikalangan pelajar memiliki etos yang kuat terhadap dua hal, yang pertama adalah keislaman, dan yang kedua adalah kemajuan. Subjek yang memiliki etos tersebut adalah pelajar[1]. Sebagai pelajar tentunya harus memiliki khasanah keislaman dan mampu berpikir maju dalam dunia pelajar. Seorang pelajar harus peka terhadap apa yang ada di sekitarnya, sehingga mereka mampu melihat dan merasakan apa yang sangat dibutuhkan seorang pelajar saat ini. Mengapa demikian? Karena pelajar hari ini telah berada dalam perangkat-perangkat yang kapan saja akan terjebat di dalamnya. Oleh karena itu, pelajar membutuhkan model dakwah yang bisa memasuki alam pikiran para pelajar.
Hal ini telah diungkapkan oleh Dr. H. Haedar Nashir, M.Si mengatakan bahwa pada saat ini penting dioperasionalkan model dakwah komunitas baik di pedesaan maupun di perkotaan, termasuk di lingkungan perumahan-perumahan umum dan eksklusif. Model dakwah dihadirkan dengan cara pengajian dan kajian dengan menarik dengan materi-materi yang meneguhkan akidah, ibadah, akhlak, dan muamalah. Umat (Pelajar,red) haus akan nilai-nilai Islam yang meneguhkan sekaligus mencerahkan. Semua harus dikemas secara bernas dan menarik, tidak konvensionaldan membosankan. Di sinilah kehadiran Majelis Tabligh dan Majelis Tarjih menjadi sangat penting dan menentukan keberhasilannya[2].
Setidaknya ada sedikit catatan penting dalam mengaktualisasikan model dakwah yang ditawarkan oleh Dr. H. Haedar Nashir, M.Si guna dapat menjadi salah satu inspirasi dalam melakukan sebuah perubahan di dalam dunia pelajar. Yakin dan percaya semua itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tetapi jika semua elemen bersatu dan mempunyai tujuan bersama baik itu Muhammadiyah, Aisyiyah, dan semua ortom-ortm turut andil maka kemungkinan besar aka nada hasil dari apa yang mesti dilakukan dalam melakukan sebuah rekonstruksi dalam dunia pelajar.
Semua itu perlu ada rasa keikhlasan dan penuh tanggung jawab dalam melaksanakan dan melakukan inisiatif guna mencapai keridhaan Allah swt. semata. Apalagi dakwah di kalangan pelajar masih sangat minim dan perlu ada semacam sebuah yang bisa mencerahkan jiwa dan membangun semangat dalam menuntut ilmu terutama di kalangan pelajar. Pada Muktamar ke-47 Muhammadiyah di Makassar tahun 2015, memperkenalkan sebuah model dakwah yang menjadi pengembangan dari Gerakan Jamaah dan Dakwah Jamaah (GJDJ) yaitu “Model Dakwah Pencerahan berbasis Komunitas”, merupakan bentuk aktualisasi dakwah Islam yang diperankan gerakan Islam ini dengan perhatian atau focus pada kelompok-kelompok social secara khusus yang disebut “komunitas”. Namun dalam dakwah pencerahan tersebut dikembangkan pendekatan dan strategi yang lebih relevan untuk menghadapi berbagai komunitas yang berkembang di masyarakat sesuai dengan karakternya masing-masing ke dalam suatu model dakwah yang actual. Pendekatan dan strategi dakwah tersebut difokuskan pada kelompok-kelompok masyarakat yang tergolong dengan “komunitas” Community).[3]
Berdasarkan apa yang ada di atas sebagai realisasi dari sebuah model dakwah di IPM maka di dalam Muqaddimah Anggaran Dasar Ikatan Pelajar Muhammadiyah mempunyai nilai-nilai dasar sebagaimana yang ada di bawah ini.
1.      Nilai Keislaman (Menegakkan dan menjunjung tinggi nilai-nilai ajaran Islam). Islam yang dimaksud adalah agama rahmatan lilalamin yang membawa kebenaran, keadilan, kesejahteraan, dan ketentraman bagi seluruh umat manusia yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-SUnnah. Artinya, Islam yang dihadirkan IPM adalah Islam yang sesuai dengan konteks zaman yang selalu berubah-ubah dari satu masa ke masa selanjutnya.
2.      Nilai Keilmuan (Terbentuknya pelajar muslim yang berilmu). Nilai ini menunjukkan bahwa IPM memiliki perhatian serius terhadap ilmu pengetahuan. Dengan ilmu pengetahuan kita akan mengetahui dunia secara luas, tidak hanya sebagian saja. Karena dari waktu ke waktu, ilmu pengetahuan akan terus berkembang dan berubah. IPM berkeyakinan, ilmu pengetahuan adalah jendela ilmu.
3.      Nilai Kekaderan (Terbentuknya pelajar muslim yang militan dan berakhlak mulia). Sebagai organisasi kader, nilai ini menjadi konsikuensi tersendiri bahwa IPM sebagai anak panah Muhammadiyah untuk mewujudkan kader yang memiliki militansi dalam berjuang. Tetapi militansi itu ditopang dengan nilai-nilai budi pekerti yang mulia.
4.      Nilai Kemandirian (Terbentuknya pelajar muslim yang terampil). Nilai ini ingin mewujudkn kader-kader IPM yang memiliki jiwa yang independen dan memiliki keterampilan pada bidang tertentu (skill) sebagai bentuk kemandirian personal dan gerakan tanpa tergantung pada pihak lain.
5.      Nilai kemasyarakatan (terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya/ the real Islamic societ). Nilai kemasyakatan dalam gerakan IPM berangkat dari kesadaran IPM untuk selalu berpihak kepada cita-cita penguatan masyarakat sipil. Menjadi suatu keniscayaan jika IPM sebagai salah satu ortom Muhammadiyah menyempurnakan tujuan Muhammadiyah di kalangan pelajar[4].
Sedangkan dalam Musyawarah Wilayah ke- XXI IPM Sulsel merumuskan beberapa putusan penting yang perlu dicermati terutama dalam agenda – agenda aksi di antaranya adalah pendampingan teman sebaya, Sahabat Qur’an, Korps Fasilitator, Gerakan Pelajar anti Narkoba atau perangi Narkoba, Komunitas Olahraga dan Seni, Konservasi Lingkungan Hidup, Gerakan Kewirausahaan Pelajar, dan Jihad Literasi[5].  Pelajar harus mampu mengembangkan potensi kreativitas luar biasa yang dimiliki oleh tiap-tiap diri pelajar dengan beragam keunikannya, tersistematika dalam sebuah gerakan jamaah/komunitas. Sehingga kedepannya diharapkan kreativitas ini mampu menjadi suatu usaha produktif serta mampu terdistribusi dengan baik. Penyadaran dan pengembangan potensi ini diarahkan agar pelajar mampu mengalisis potensi diri (sebagai pelaku / subjek) dan lingkungan sekitar (sebagai objek).[6]
Demikian kiranya tulisan ini mudah-mudahan menjadi sebuah refleksi dalam menyampaikan logika ber-ipm terutama dalam konteks dakwah yang menjadi dasar kebutuhan pelajar saat ini. Dan harus dimaklumi bahwa masih ada kekurangan-kekurangan dalam tulisan ini sehingga menjadi sebuah pengejewantahan dan mengaktualisasikan serta membumikan ideology IPM dalam kehidupan sehari-har baik yang telah lalu, kini dan masa depan IPM terutama bagaimana pelajar mampu berpikir kritis dan dapat membangun IPM sebagai gerakan dakwah di kalangan pelajar yang telah termaktub dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Ikatan Pelajar Muhammadiyah.


[1] PP IPM, SPI Kuning, hal. 33. Dalam bentuk PDF
[2] Suara Muhammadiyah edisi 04 thn 2017, kolom bingkai, hal. 14
[3] PP Muhammadiyah, Model Dakwah Pencerahan Berbasis Komunitas, hal. 8. 2015
[4] PP IPM, Naskah Perubahan AD & ART IPM. Hal. 7 – 8. 2016
[5] PW IPM Sulsel,Buku Panduan Musywil XXIIPM Sulsel, 31 – 41. 2016
[6] PP IPM, Indonesia Maju dan Bermartabat Refleksi Pemikiran Aktivis IPM. Hal. 84 – 85. 2012

KETIKA DAUN KERING BERGUGURAN


Sandi Ibnu Syam


pertumbuhan bangsa mirip pohon, ada saatnya
daun-daun tua menguning berguguran, diganti
dahan dan daun muda yang segar dan produktif
            Setiap zaman ada tokohnya dan setiap tokoh ada zamannya, demikian menurut Kacung Darmo. Negeri senantiasa menantikan datangnya generasi – generasi baru yang siap menggantikan kaum tua. Bila kaum tua telah mongering dan tidak produktif lagi, biarkan kaum muda yang akan menjadi penerusnya. seperti daun-daun kering yang berguguran karena diterpa angin dan tanggal dari ranting. Oleh karena itu, akan muncul daun-daun segar untuk melanjutkan keagungan pohon Negara.
            Meski demikian, apa yang dilakukan daun tua tidaklah sia-sia. Sebelum kemudian pergi terhanyut atau dibawa angin, biasanya daun kering yang jatuh di bawah pohon sesungguhnya sedang berproses agar tanah di bawah pohon senantiasa lembab dan semain sebur. satu perjuangan yang tidak pernah kenal mati[1].
            Bila kita tarik kepada sebuah gerakan yang bernama IPM yang mempuyai kepanjangan dari Ikatan Pelajar Muhammadiyah tentu sangat cocok dicermati terkhusus di Kabupaten Jeneponto. Seiring berjalannya waktu IPM yang ada di Jeneponto sering mengalami fluktuatif dalam setiap kepemimpinan yang di tubuh Ikatan Pelajar Muhammadiyah. Sejalan dengan itu, salah satu pengurus Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Jeneponto melontarkan sebuah pernyataan yang membuat hati terhenyak. Mengapa demikian? boleh jadi beliau tahu betul bagaimana perjalananan Muhammadiyah di Kabupaten Jeneponto. beliau adalah Muh. Syahrir Sarea yang sementara ini diberi amanah sebagai bendahara umum di Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Jeneponto periode 2013 – 2018.
            Bukan krisis pemimpin tetapi krisis kepemimpinan. Itulah pernyataan beliau dengan melihat realitas yang ada. Bukan rahasia umum lagi, sebab hampir setiap daerah lain tahu bagaimana ruh kepemimpinan di Kabupaten Jeneponto masih sangat minim bahkan jika harus saya nyatakan Muhammadiyah terkhusus kepada ortomnya IPM miskin kepemimpinan sehingga militansi dan loyalitas dalam ber-Muhammadiyah masih sangat minim dan boleh dikatakan masih perlu pembenahan dalam setiap jenjang perkaderannya. Hal yang masih sangat kurang dilakukan adalah kurangnya membangkitkan ruh Muhammadiyah terutama dalam melakukan rekonstruksi di bidang tabligh. padahal jika Muhammadiyah ingin luas dalam jangkauannya bukan hanya berpatokan satu wacana saja tetapi semua harus menjadi penting dan mendesak guna mencapai realisasi dari apa yang memang menjadi harapan bersama.
            Jika kita semua mau mengakui IPM sampai kini masih sangat rapuh dan sangat rentan akan kepemimpinannya. Mengapa demikian? ini dapat kita lihat IPM dari periode ke periode sangat fluktuatif. Itulah mengapa saat kami melakukan pelantikan pada bulan Juni 2016 lalu, kami mengambil sebuah tema yaitu “Rekonstruksi Kepemimpinan Ikatan Pelajar Muhammadiyah Kabupaten Jeneponto,” dengan harapan bahwa IPM Jeneponto bisa bangkit dari keterpurukan akibat dari kurangnya krisis kepemimpinan. sebenarnya bukan karena kurang pemimpin dalam tubuh IPM tetapi apakah ada yang ingin dan mau betul-betul berjuang di IPM. banyak memang kadernya dan tak bisa lagi dihitung tetapi itu hanya sebatas menggugurkan kewajiban.
            IPM saat ini membutuhkan sebuah peneguhan ideology IPM sebagai gerakan pengaderan. Jika Karl Marx mengatakan ideology sebagai konsep dasar kesetaraan maka ada satu manifestasi besar terhadap pemaknaan manusia terhadap aplikasi ideology yakni mampu menjadi pijakan nilai dalam mewujudkan cita-citanya. IPM sebagai ujung tombak perkaderan Muhammadiyah dalam melakukan penguatan ideology dan nilai – nilai kemuhammadiyahan harus bisa berfungsi sebagai operasional. IPM menyadari pertarungan ideology cukup keras di tengah berbagai interest baik secara politik maupun social budaya. internalisasi nilai-nilai ideology Muhammadiyah inilah jika harus Muhammadiyah melakukan peneguhan terhadap ideology gerakan bagi seluruh warga dan organisasi otonomnya, maka bukan berarti sedang membangun kertutupan dan berhadapan dengan pihak lain, lebih-lebih secara konfrontatitif. Tetapi, yang sesungguhnya terjadi ialah Muhammadiyah sedang menata dan mengurus rumahtangganya agar kokoh dan tidak terganggu oleh arus zaman sekalipunhal[2].
            Dalam Muktamar IPM ke-18 di Palembang mencanangkan Gerakan Kritis Transformatif yang menjadi sebuah paradigama gerakan IPM. Tim materi yang sudah disusun, dengan mengambil tema “Menumbuhkan Kesadaran Kritis, Mendorong Aksi Kreatif, Untuk Pelajar Indonesia yang Berkarakter”. IPM melakukan upaya perumusan kembali terhadap corak perjuangan yang telah dilakukan oleh pendahulu – pendahulu IPM. Pada Muktamar ini, IPM tidak akan melahirkan gagasan baru seputar paradigm gerakan tetapi akan melakukan proses kombinasi terhadap apa yang telah dimiliki IPM yaitu menumbuhkan karakter pribadi kader tertib beribadah, tertib organisasi dan tertib belajar yang ditunjukkan dalam pribadi aktivis IPM yang bertakwa dan berprestasi[3].
            Menurut Prof. Dr. Din Syamsuddin, pelajar sebagai sebuah entitas yang memiliki energy besar, harapan bangsa dan masyarakat, ditantang untuk mampu menghadapi dinamika dan kemajuan yang demikian pesat itu. Karena itu, sebagau sebuah ormas pelajar, Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) harus menjadikan globalisasi dan dinamika tersebut sebagai peluang untuk terus meningkatkan kualitas diri maupun organisasi, sehingga dapat memberikan hasil maupun karya terbaik bagi persyarikatan maupun bangsa dan Negara[4].
            Sedangkan menurut Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan, S.U, peradaban manusia terus bergerak, berubah dan berkembang semakin cepat sebagai kekuatan spiritual sejarah adalah wujud dari kehendak robbul jalal. Sejarah adalah kisah keberhasilan, kemajuan, dan kegagalan manusia meniti perubahan peradaban dalam usaha memenuhi hajat hidupnya. sebagian manusia dan bangsa – bangsa bisa menikmati kemajuan dan perubahan peradaban yang lain menderita akibat gagal meniti perubahan peradaban itu[5].
            Demikian kiranya IPM Jeneponto mampu melukan peradaban dan krreatifitas dalam upaya optimalisasi daya kreatif pelajar dalam berkarya nyata menuju generasi berkemajuan. tentu ini membutuhkan tenaga , pikiran dan aksi yang dapat mendukung semua komponen yang adalah dalam structural dan bukan hanya sebatas konsep dan wacana belaka tetapi sekali lagi semua itu membutuhkan karya nyata bagaimana IPM Jeneponto membumikan ideology IPM dan IPM tidak lagi fluktuatif dalam setiap kepemimpinannya dan inilah yang sementara digalakkan.


[1] Komaruddin Hidayat, Ungkapan Hikmah membuka mata menangkap makna, hal. 277. 2013
[2] Aktivis IPM, Indonesia Maju dan Bermartabat, Grasindo. hal. 103 – 104. 2012.
[3] Ibid, Indonesia Maju dan Bermartabat, hal. 23 – 24.
[4] Ibid, Indonesia Maju dan Bermartabat, hal. 12.
[5] Abdul Munir Mulkhan, Boeah FIkiran Kijai H.A.Dachlan. Global Based & STIEAD Press. hal. 69. 2015

KECEWA, ITU BIASA


Sandi Ibnu Syam


            Hari ini langit begitu cerah tak satu pun terlihat tanda-tanda akan turunnya hujan, Matahari begitu sangat memikat dan bisa memukau siapa saja yang meneropongnya. Pancaran sinarnya dapat menembus kulit-kulit manusia akibat dari sengatan sinar dan pancarannya. Sungguh Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Pepohonan seakan ikut bergembira karena dapat melakukan fotosintesis untuk menambah kualitas makanannya. Ditambah binatang juga ikut bergembira sebab mereka dapat mencari makanan disana sini sebagai kelangsungan hidupnya. Tak jarang, merekapun bersorak kegirangan akan semua yang didapatkannya. Begitupun dengan makhluk lain yang istimewa dari kedua makhluk yang Aku sebutkan tadi. Yah, ia biasa disebut dengan sebutan “manusia” yang mampu beradaptasi dengan lingkungannya tak ketinggalan tumbuhan dan binatang juga dapat beradaptasi dengan lingkungannya.
            Manusia yang mempunyai akal dan nafsu sebagai bentuk kesempurnaannya. Bahkan ada yang mengatakan karena ketidaksempurnaannya manusia itulah ia disebut sebagai makhluk yang sempurna. Tak pelak, ini yang mesti jadi perhatian bagi mereka yang disebut sebagai manusia. Tentu saja, manusia adalah sebagai wakil Tuhan di muka bumi atau sebagai seorang khalifah di muka bumi untuk mengatur segala urusan dan system yang ada dalam jagat raya ini dinamakan bumi. Tuhan menempatkan manusia untuk mendapatkan fasilitas dunia yang ada di muka bumi untuk dapat dikelola dengan baik dan benar sesuai apa yang telah dituntunkan Tuhan kepada makhluk hidup yang bernama manusia.
            Dengan akal manusia mampu melakukan apa saja yang bisa dilangsungkan di bumi ini dengan akal tersebut manusia mampu untuk berpikir dan memikirkan apa yang harus dilakukannya di bumi ini. Manusia dengan sebaik-baik bentuk ciptaan Tuhan ia dapat melakukan berbagai kreasi dan inovasi serta mempunyai motivasi yang ada dalam dirinya untuk bisa bertahan hidup salah satunya dengan mampu mengelola apa yang ada di muka bumi ini. Mudah-mudahan dengan segala potensi yang diberikan Tuhan padanya sebagai manifestasi dapat membuat suatu peradaban dan kebudayaan yang bisa mengantarkan menjadi manusia yang betul-betul mampu bertransformatif dengan segala fenomena-fenomena yang ada disekitarnya.
            Artinya apa, manusia tidak hanya sebagai makhluk individu tetapi ia juga makhluk social yang dapat melangsungkan hidup dengan bantuan sesama makhluk yakni “manusia”. Dengan bantuan dan pertolangan manusia lain dapat meringankan segala beban dan tanggungjawab yang diembannya. Dengan potensi akal yang diberikan padanya mampu berpikir bagaimana ia dapat menolong sesamanya tanpa memikirkan hal-hal lain hanya demi hidup bermasyarakat. Manusia mulai dari awal hidupnya sangat membutuhkan orang lain. Mengapa demikian? Karena manusia sekali makhluk yang sangat membutuhkan orang lain. Mereka harus hidup berkelompok antara satu dengan yang lainnya. Tak perlu basa – basi bagaimana ia harus berkelompok mereka mengikut dengan system yang telah disepakati bersama tanpa ada yang didiskrimatif. Oleh karena itu, kolektifitas itu sangat diperlukan dan juga kolegial dan partisipatisipan manusia lain agar apa yang dicita-citakannya menjadi sebuah realisasi dari apa yang telah dibuatnya.
            Hal ini hampir sama dengan apa yang ada dalam IPM. IPM adalah sebuah wadah, tempat, organisasi, yang di dalamnya telah diatur sedemikian rupa dengan segala aktivitas yang akan dilakukan. Tentu mengacu pada kaidah organisasi baik yang ada dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga maupun ketetapan-ketetapan lain yang sesuai dengan kaidah organisasi. Segala program yang ada dalam IPM harus terpenuhi dengan segala ketentuan yang berlaku dan bisa menjadi acuan serta evaluasi dari setiap rentetan kegiatan yang akan dilaksanakannya. Tak perlu terlalu muluk-muluk atau konsep yang sangat teratur tetapi bagaimana dari setiap konsep tersebut dapat terealisasi dengan baik sesuai dengan apa yang diharapkan. Lalu, kira-kira bagaimana dengan konsep yang telah dibangun bersama hingga akhirnya menjadi sebuah keniscayaan tanpa ada realisasi. Inilah yang menjadi pekerjaan rumah bagi mereka yang berada di dalamnya tentu dengan kembali memikirkan langkap apa yang selanjutnya harus dilakukan dan sesuai kembali dengan perencanaan.
            Jika ditarik ke IPM terkhusus kepada Pimpinan Daerah Ikatan Pelajar Muhammadiyah Kabupaten Jeneponto masih sangat minim dan masih jauh dari apa yang diharapkan. Sekali lagi kepemimpinan di IPM Jeneponto masih sangat fluktuatif dan ini menjadi pekerjaan yang berat jika hanya beberapa orang saja atau bahkan jika hanya satu orang yang harus mengerjakan segala pekerjaan tanpa melibatkan orang yang ada disekitarnya. Idealnya, setiap bidang mempunyai amanah dan tanggungjawab masing-masing tetapi sampai saat ini. hanya sepersekian yang mau betul-betul menghidupkan IPM yang ada di Jeneponto. Meski tidak bisa dipungkiri bahwa hampir setiap personil yang ada di IPM Jeneponto mempunyai kesibukan masing-masing. Baik kesibukan dari orang tua, guru atau siapa saja bahkan tak jarang karena urusan pribadi masing-masing. Tetapi apakah tidak ada waktu sejenak untuk memikirkan apa yang harus dilakukan dalam Ikatan tercinta. Jika IPM memang tak mampu membahagiakan diri masing-masing. Tetapi, jika dipikir-pikir IPM mampu mengantarkan semua yang di dalamnya menjadi orang-orang hebat yang tidak dapat dipandang sebelah mata. Hanya bagi mereka yang mau betul-betul ingin berjuang di IPM. Tidak sedikit dari mereka yang pernah berkecimpung di IPM menjadi orator ulung, PNS, Anggota DPR, Guru, Insyinyur, Polisi, Tentara, Dokter, Professor, Dosen, Peneliti dan lain-lain sebagainya. Mereka semua dapat membuktikan dengan segala apa yang diperoleh lewat IPM. Tetapi, tak bisa dipungkiri juga banyak yang masuk di IPM hanya sebatas anggota biasa tak melakukan apa-apa untuk IPM. Bahkan seperti pakaian jika telah pudar tak dipakainya lagi. padahal mereka telah dibekali bagaimana mereka mampu mengetahui hal-hal yang belum diketahuinya.
            IPM Jeneponto sebenarnya telah banyak melahirkan pemimpin-pemimpin tetapi satu hal yang tidak bisa dipungkiri mereka belum maksimal dalam managemen dalam kepemimpinan sehingga inilah salah satu pemicu IPM Jeneponto hanya mampu terus melahirkan kader-kader tetapi dalam hal kepemimpinan masih sangat jauh dari harapan. Dari sekian harapan-harapan yang telah ditanamkan akhirnya sedikit demi sedikit timbul rasa kekecewaan yang sangat luar biasa. Tak pelak, termasuk diriku seringkali menemukan kekkecewaan yang sangat dahsyat yang akhirnya banyak mutiara-mutiara yang dihasilkan bukan yang ada di dasa lautan tetapi berasal dari dua bola mataku. Tak bisa Aku tepiskan jika hanya Aku sendiri yang terus mengalaminya. Aku terus mencoba menepisnya dengan melakukan yang Aku anggap bisa memicu lagi semangat hidup dalam ber-IPM salah satunya adalah dengan menuliskan rasa kekecewaan itu dalam bentuk tulisan agar ia menjadi pengobat rindu dikala dirundung pilu dan kecewa sebab hati yang tersakiti oleh hati yang lain, bukan karena putus cinta oleh seorang perempuan.
            Aku sering berpikir betapa sulitnya amanah yang kupikul ini jika hanya seorang diri. Pernah terpikirkan olehku untuk lari dari amanah ini guna menenangkan jiwa dan hati dari kegundahan-kegundahan yang menghampiri. Biarlah orang mengatakan Aku BAPER (Bawa Perasaan) atau apalah namanya. Aku hanya ingin berbagi kekecewaan yang Aku alami ini kepada mereka yang peka terhadap mereka yang menjadi tanggungjawabnya. Mereka harusnya tahu bahwa organsasi ini bukan abal-abal atau sebuah permainan senda gurau. Tulisan sebelumnya Aku menulis dengan judul “Mana Nyalimu Ber-IPM”, sebagai bentuk kekecewaan yang sangat mendalam tetapi sampai kini. Mereka hanya berkicau seperti mengungkapkan konsep yang tanpa makna apa-apa. Bukan berarti apa yang Aku lakukan telah sempurna tetapi dari sinilah semua mengambil pelajaran bahwa semestinya diakukan dengan kolektifitas bukan dengan seorang atau beberapa orang saja yang mau berbuat IPM.
            Aku harus menahan derasnya kekecewaan ini, dengan terus berlapang dada karena setiap kesulitan yang Aku alami ini aka nada hikmahnya jika harus Aku tanggung sendiri kekecewaan ini biarlah menjadi penghias dalam kehidupanku dan semoga itu menjadi cerita indah nantinya. Meski tidak tahu kapan harapan yang diidam-idamkan itu tercapai. Jika harus dengan merangkak berlari Aku akan terus mengejar mimpi-mimpi yang selama ini Aku bangun tahap demi tahap. Meski Aku harus kembali menemukan titik kekecewaan nantinya. Aku akan membiarkan kekecewaan-kekecewaan itu tumbuh menjadi sebatang pohon yang lebat daunnnya dan buahnya hingga akhirnya Aku memetik secerca harapan walau tinggal setitik saja. Aku akan terus mencoba mengambil ibrah dari setiap rentata kejadian yang Aku alami. Sekali lagi, jika Aku tanggung sendiri biarlah itu menjadi kenangan yang nantinya bisa menjadi pemantik akan kelangsungan IPM Jeneponto ke depan.
            Aku juga pernah terpikirkan setelah mengadakan Pelatihan Kader Muda Taruna Melati II yang akan dilaksanakan di SMK Muhammadiyah Jeneponto pada 3 – 8 Juli mendatang. Aku ingin rehat sejenak di IPM lalu focus memikirkan yang lain. Apalagi Skripsi belum rampung untuk kuperbaiki ditambah amanah dari sekolah dan orang tuaku serta rasanya ingin betul-betul memenuhi panggilan dari Pimpinan PUT Unismuh Makassar untuk ke daerah lain selain di Jeneponto. Jika demikian halnya Aku akan mencoba untuk memenuhi apa yang diharapkan oleh Pimpinan PUT Unismuh Makassar. Bukan hal yang tak mungkin Aku ini memang salah satu anak panah Muhammadiyah Sulsel lewat PUT Unismuh untuk ditempatkan dimana saja bahkan termasuk di Pulau Jawa, Kalimantan, Papua , Sumatra bahkan termasuk Sulawesi sendiri yang terbagi-bagi dalam setap provinsi. Semua harus tahu bahwa Aku hanya mengulur-ulur waktu untuk tidak ke daerah lain bukan karena alas an yang tidak penting dan mendesak tetapi Aku mengulur-ulur waktu untuk bagaimana Muhammadiyah di Jeneponto termasuk IPM. Namun, nyatanya hampir saja tak ada kegiatan sama sekali yang dilakukan oleh Muhammadiyah. Bukan maksud untuk protes atau apalah namanya. Semua itu nyata di depan mata. Walau semua harus sedikit lega karena PUSDAM (Pusat Dakwah Muhammadiyah) sedikit demi sedikit ada perubahan tetapi itupun belum signifikan dan masimal. Oleh karena itu, Muhammadiyah masih berkutat pada yang klasik, seperti kurangnya pertemuan atau pengajian yang dilakukan itu masih sangat jauh dari harapan yang dibutuhkan. Boleh jadi, karena kesibukan masing-masing yang seluruh anggota Muhammadiyah PNS sehingga untuk bertatap muka dalam sepekan saja susah apalagi dalam dua pecan atau bahkan sebulan sekali. Itupun masih sangat susah dilakukan. Sekali lagi, bukan maksud untuk apa dan bagaimana. Penguatan internal sampai saat ini jarang untuk dilakukan dan membutuhkan waktu yang khusus untuk dilakukan walau harus itu saja masih sangat susah dilaksanakan.
            Menunggu itu pekerjaan yang sangat mudah dilakukan namun sangat membosankan jika harus terus menunggu datangnya orang-orang yang diharapkan kedatangannya. Sampai saat ini Aku terus menunggu hingga tulisan ini terus mengalir bagaimana mata air yang keluar dari sarangnya. Masih saja hasilnya nihil, tidak ada yang datang. Aku telah mencoba menelpon tapi hanya sebagian kecil itupun mereka masih sibuk dengan urusannya masing-masing. Ada juga yang ditelpon tidak di angkat-angkat. Aku berpikir positif saja. Barangkali mereka ada kesibukan atau tidak berada di dekat HP-nya saat Aku telpon. Mudah-mudahan bukan ingin menghindar dariku saat telponku menyapanya. mudah-mudahan tidak, harapku. Terkadang punggungku sakit saat menuliskan kata demi kata bait demi bait. Aku sesekali istirahat menulis untuk merefresh badanku yang mulai pegal-pegal akibat terlalu banyak menunggu dan memang karena telah lama menulis. Yah, lewat tulisan kuungkapkan rasa kekecewaan ini. Lidahku terlalu keluh untuk berucap. Apalagi memang Aku tak cakap dalam beretorika dan mengungkpakan isi hati ini lewat lisanku. Sekali lagi, Aku terlalu kaku untuk berucap dengan kata-kata yang pas dan sesuai dengan apa yang Aku harapkan. Aku tak ingin membuang-buang energiku dengan terus berucap mendingan lewat tulisan saja. Agar mereka dapat membaca kapan dan dimanapun mereka berada. JIka lewat ucapan lisan mereka gampang untuk melupakannya. Namun jika lewat tulisan mereka dapat menyimpannya dan sewaktu-watu dapat membacanya kembali. Walau Aku tahu pelajar IPM di Jeneponto masih kurang yang berminat dalam hal tulis-menulis. Boro-boro mau baca melirik saja susah sekali. Boleh jadi benar kata orang bahwa rata-rata orang Indonesia Cuma melirik judul tulisannya saja, Kemudian sesaat, jauh dari pandangannya. Nasib ya nasib mengapa begini. Alamak, Mengapa Aku menyanyi. Tidak apa-apalah itu hanya sebagai pelipur lara dari rasa kekecewaanku. Katanya sih dengan mendengar lagu stress bisa hilang. Mendengar saja lagu stress bisa hilang apalagi dengan mendengarkan Murattal dan paling bagusnya lagi kita semua yang mengja dengan cara murattal untuk menenangkan jiwa yang tersakiti agar kita lebih dekat dengan Tuhan yang menciptkan kita semua.
            Sampai saat ini, Aku butuh petunjuk dari Kakanda-kakanda atau sesepuh IPM bagaimana membangkitkan gairah keber-IPMan mereka yang telah menjadi anggota IPM untuk mau berjuang di IPM. Sampai kini Aku ingin memaparkan analisis SWOT IPM dengan para personil PD IPM Jeneponto, naun itu semua jauh panggang dari api. Itu semua hanyalah angan atau impian yang seakan-akan membayangiku setiap hari. Cui, seperti saja orang jatuh cinta memikirkan si doinya. Jika dipikir-pikir IPM ini seperti halnya kekasih. Jika demiian, Aku ingin menjadikan IPM sebagai kekasih hatiku dan akan menjadi pujangga dalam setiap bait cintaku. Tidak apa-apalah daripada memikirkan anak orang lain yang belum tentu jodohku. Lebih baik untuk sementara waktu bahkan hingga akhir hayatku biarlah IPM selalu menjadi kekasihku yang sangat butuh perhatian dan kasih saying yang lebih. Itu Cuma bagi mereka yang mau berjuang di IPM. Tabe, bukan maksud riya’ tetapi itu hanya sebatas untuk bagaimana IPM ini menjadi organisasi pelajar garda terdepan di Kabupaten Jeneponto. Dan itu butuh pengorbanan yang tidak sedikit baik, tenaga, materi,pikiran bahkan jiwa yang akan dipertaruhkan untuk bagaimana IPM di Jeneponto bisa mencapai kejayaannya.
            Akhirnya, sedikit demi sedikit rasa kekecewaan itu menghilang lewat tulisan ini, juga kegelisahan yang menghampiri seakan telah menjauh dari diriku boleh jadi ia pergi karena Aku bisa mengalahkannya. Kiranya tulisan ini mudah-mudahan menjadi renungan kembali bagi setiap kader IPM Jeneponto untuk dapat terus merefleksi dari setiap rentetan kegiatan yang aan dilaksanakan walau sampai saat ini IPM Jeneponto belum melaksanakan raker. Tetapi sekali, mari terus ber-IPM agar IPM tetap jaya di tangan para pejuang sejati. Di tempat ini (baca:PUSDAM) akan menjadi saksi bisu dikala Aku menunggu kalian semua para pejuang sejati IPM. Hari ini, Selasa, 27 Juni 2017. Tempat Aku menunggu kedatangan kalian sobatku. Kecewa bagiku itu sudah biasa. Mari Bermuhasabah