Kata Mutiara

Tidak akan kembali hari-hari yang telah berlalu
Tampilkan postingan dengan label Jeneponto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jeneponto. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Juni 2017

KECEWA, ITU BIASA


Sandi Ibnu Syam


            Hari ini langit begitu cerah tak satu pun terlihat tanda-tanda akan turunnya hujan, Matahari begitu sangat memikat dan bisa memukau siapa saja yang meneropongnya. Pancaran sinarnya dapat menembus kulit-kulit manusia akibat dari sengatan sinar dan pancarannya. Sungguh Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Pepohonan seakan ikut bergembira karena dapat melakukan fotosintesis untuk menambah kualitas makanannya. Ditambah binatang juga ikut bergembira sebab mereka dapat mencari makanan disana sini sebagai kelangsungan hidupnya. Tak jarang, merekapun bersorak kegirangan akan semua yang didapatkannya. Begitupun dengan makhluk lain yang istimewa dari kedua makhluk yang Aku sebutkan tadi. Yah, ia biasa disebut dengan sebutan “manusia” yang mampu beradaptasi dengan lingkungannya tak ketinggalan tumbuhan dan binatang juga dapat beradaptasi dengan lingkungannya.
            Manusia yang mempunyai akal dan nafsu sebagai bentuk kesempurnaannya. Bahkan ada yang mengatakan karena ketidaksempurnaannya manusia itulah ia disebut sebagai makhluk yang sempurna. Tak pelak, ini yang mesti jadi perhatian bagi mereka yang disebut sebagai manusia. Tentu saja, manusia adalah sebagai wakil Tuhan di muka bumi atau sebagai seorang khalifah di muka bumi untuk mengatur segala urusan dan system yang ada dalam jagat raya ini dinamakan bumi. Tuhan menempatkan manusia untuk mendapatkan fasilitas dunia yang ada di muka bumi untuk dapat dikelola dengan baik dan benar sesuai apa yang telah dituntunkan Tuhan kepada makhluk hidup yang bernama manusia.
            Dengan akal manusia mampu melakukan apa saja yang bisa dilangsungkan di bumi ini dengan akal tersebut manusia mampu untuk berpikir dan memikirkan apa yang harus dilakukannya di bumi ini. Manusia dengan sebaik-baik bentuk ciptaan Tuhan ia dapat melakukan berbagai kreasi dan inovasi serta mempunyai motivasi yang ada dalam dirinya untuk bisa bertahan hidup salah satunya dengan mampu mengelola apa yang ada di muka bumi ini. Mudah-mudahan dengan segala potensi yang diberikan Tuhan padanya sebagai manifestasi dapat membuat suatu peradaban dan kebudayaan yang bisa mengantarkan menjadi manusia yang betul-betul mampu bertransformatif dengan segala fenomena-fenomena yang ada disekitarnya.
            Artinya apa, manusia tidak hanya sebagai makhluk individu tetapi ia juga makhluk social yang dapat melangsungkan hidup dengan bantuan sesama makhluk yakni “manusia”. Dengan bantuan dan pertolangan manusia lain dapat meringankan segala beban dan tanggungjawab yang diembannya. Dengan potensi akal yang diberikan padanya mampu berpikir bagaimana ia dapat menolong sesamanya tanpa memikirkan hal-hal lain hanya demi hidup bermasyarakat. Manusia mulai dari awal hidupnya sangat membutuhkan orang lain. Mengapa demikian? Karena manusia sekali makhluk yang sangat membutuhkan orang lain. Mereka harus hidup berkelompok antara satu dengan yang lainnya. Tak perlu basa – basi bagaimana ia harus berkelompok mereka mengikut dengan system yang telah disepakati bersama tanpa ada yang didiskrimatif. Oleh karena itu, kolektifitas itu sangat diperlukan dan juga kolegial dan partisipatisipan manusia lain agar apa yang dicita-citakannya menjadi sebuah realisasi dari apa yang telah dibuatnya.
            Hal ini hampir sama dengan apa yang ada dalam IPM. IPM adalah sebuah wadah, tempat, organisasi, yang di dalamnya telah diatur sedemikian rupa dengan segala aktivitas yang akan dilakukan. Tentu mengacu pada kaidah organisasi baik yang ada dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga maupun ketetapan-ketetapan lain yang sesuai dengan kaidah organisasi. Segala program yang ada dalam IPM harus terpenuhi dengan segala ketentuan yang berlaku dan bisa menjadi acuan serta evaluasi dari setiap rentetan kegiatan yang akan dilaksanakannya. Tak perlu terlalu muluk-muluk atau konsep yang sangat teratur tetapi bagaimana dari setiap konsep tersebut dapat terealisasi dengan baik sesuai dengan apa yang diharapkan. Lalu, kira-kira bagaimana dengan konsep yang telah dibangun bersama hingga akhirnya menjadi sebuah keniscayaan tanpa ada realisasi. Inilah yang menjadi pekerjaan rumah bagi mereka yang berada di dalamnya tentu dengan kembali memikirkan langkap apa yang selanjutnya harus dilakukan dan sesuai kembali dengan perencanaan.
            Jika ditarik ke IPM terkhusus kepada Pimpinan Daerah Ikatan Pelajar Muhammadiyah Kabupaten Jeneponto masih sangat minim dan masih jauh dari apa yang diharapkan. Sekali lagi kepemimpinan di IPM Jeneponto masih sangat fluktuatif dan ini menjadi pekerjaan yang berat jika hanya beberapa orang saja atau bahkan jika hanya satu orang yang harus mengerjakan segala pekerjaan tanpa melibatkan orang yang ada disekitarnya. Idealnya, setiap bidang mempunyai amanah dan tanggungjawab masing-masing tetapi sampai saat ini. hanya sepersekian yang mau betul-betul menghidupkan IPM yang ada di Jeneponto. Meski tidak bisa dipungkiri bahwa hampir setiap personil yang ada di IPM Jeneponto mempunyai kesibukan masing-masing. Baik kesibukan dari orang tua, guru atau siapa saja bahkan tak jarang karena urusan pribadi masing-masing. Tetapi apakah tidak ada waktu sejenak untuk memikirkan apa yang harus dilakukan dalam Ikatan tercinta. Jika IPM memang tak mampu membahagiakan diri masing-masing. Tetapi, jika dipikir-pikir IPM mampu mengantarkan semua yang di dalamnya menjadi orang-orang hebat yang tidak dapat dipandang sebelah mata. Hanya bagi mereka yang mau betul-betul ingin berjuang di IPM. Tidak sedikit dari mereka yang pernah berkecimpung di IPM menjadi orator ulung, PNS, Anggota DPR, Guru, Insyinyur, Polisi, Tentara, Dokter, Professor, Dosen, Peneliti dan lain-lain sebagainya. Mereka semua dapat membuktikan dengan segala apa yang diperoleh lewat IPM. Tetapi, tak bisa dipungkiri juga banyak yang masuk di IPM hanya sebatas anggota biasa tak melakukan apa-apa untuk IPM. Bahkan seperti pakaian jika telah pudar tak dipakainya lagi. padahal mereka telah dibekali bagaimana mereka mampu mengetahui hal-hal yang belum diketahuinya.
            IPM Jeneponto sebenarnya telah banyak melahirkan pemimpin-pemimpin tetapi satu hal yang tidak bisa dipungkiri mereka belum maksimal dalam managemen dalam kepemimpinan sehingga inilah salah satu pemicu IPM Jeneponto hanya mampu terus melahirkan kader-kader tetapi dalam hal kepemimpinan masih sangat jauh dari harapan. Dari sekian harapan-harapan yang telah ditanamkan akhirnya sedikit demi sedikit timbul rasa kekecewaan yang sangat luar biasa. Tak pelak, termasuk diriku seringkali menemukan kekkecewaan yang sangat dahsyat yang akhirnya banyak mutiara-mutiara yang dihasilkan bukan yang ada di dasa lautan tetapi berasal dari dua bola mataku. Tak bisa Aku tepiskan jika hanya Aku sendiri yang terus mengalaminya. Aku terus mencoba menepisnya dengan melakukan yang Aku anggap bisa memicu lagi semangat hidup dalam ber-IPM salah satunya adalah dengan menuliskan rasa kekecewaan itu dalam bentuk tulisan agar ia menjadi pengobat rindu dikala dirundung pilu dan kecewa sebab hati yang tersakiti oleh hati yang lain, bukan karena putus cinta oleh seorang perempuan.
            Aku sering berpikir betapa sulitnya amanah yang kupikul ini jika hanya seorang diri. Pernah terpikirkan olehku untuk lari dari amanah ini guna menenangkan jiwa dan hati dari kegundahan-kegundahan yang menghampiri. Biarlah orang mengatakan Aku BAPER (Bawa Perasaan) atau apalah namanya. Aku hanya ingin berbagi kekecewaan yang Aku alami ini kepada mereka yang peka terhadap mereka yang menjadi tanggungjawabnya. Mereka harusnya tahu bahwa organsasi ini bukan abal-abal atau sebuah permainan senda gurau. Tulisan sebelumnya Aku menulis dengan judul “Mana Nyalimu Ber-IPM”, sebagai bentuk kekecewaan yang sangat mendalam tetapi sampai kini. Mereka hanya berkicau seperti mengungkapkan konsep yang tanpa makna apa-apa. Bukan berarti apa yang Aku lakukan telah sempurna tetapi dari sinilah semua mengambil pelajaran bahwa semestinya diakukan dengan kolektifitas bukan dengan seorang atau beberapa orang saja yang mau berbuat IPM.
            Aku harus menahan derasnya kekecewaan ini, dengan terus berlapang dada karena setiap kesulitan yang Aku alami ini aka nada hikmahnya jika harus Aku tanggung sendiri kekecewaan ini biarlah menjadi penghias dalam kehidupanku dan semoga itu menjadi cerita indah nantinya. Meski tidak tahu kapan harapan yang diidam-idamkan itu tercapai. Jika harus dengan merangkak berlari Aku akan terus mengejar mimpi-mimpi yang selama ini Aku bangun tahap demi tahap. Meski Aku harus kembali menemukan titik kekecewaan nantinya. Aku akan membiarkan kekecewaan-kekecewaan itu tumbuh menjadi sebatang pohon yang lebat daunnnya dan buahnya hingga akhirnya Aku memetik secerca harapan walau tinggal setitik saja. Aku akan terus mencoba mengambil ibrah dari setiap rentata kejadian yang Aku alami. Sekali lagi, jika Aku tanggung sendiri biarlah itu menjadi kenangan yang nantinya bisa menjadi pemantik akan kelangsungan IPM Jeneponto ke depan.
            Aku juga pernah terpikirkan setelah mengadakan Pelatihan Kader Muda Taruna Melati II yang akan dilaksanakan di SMK Muhammadiyah Jeneponto pada 3 – 8 Juli mendatang. Aku ingin rehat sejenak di IPM lalu focus memikirkan yang lain. Apalagi Skripsi belum rampung untuk kuperbaiki ditambah amanah dari sekolah dan orang tuaku serta rasanya ingin betul-betul memenuhi panggilan dari Pimpinan PUT Unismuh Makassar untuk ke daerah lain selain di Jeneponto. Jika demikian halnya Aku akan mencoba untuk memenuhi apa yang diharapkan oleh Pimpinan PUT Unismuh Makassar. Bukan hal yang tak mungkin Aku ini memang salah satu anak panah Muhammadiyah Sulsel lewat PUT Unismuh untuk ditempatkan dimana saja bahkan termasuk di Pulau Jawa, Kalimantan, Papua , Sumatra bahkan termasuk Sulawesi sendiri yang terbagi-bagi dalam setap provinsi. Semua harus tahu bahwa Aku hanya mengulur-ulur waktu untuk tidak ke daerah lain bukan karena alas an yang tidak penting dan mendesak tetapi Aku mengulur-ulur waktu untuk bagaimana Muhammadiyah di Jeneponto termasuk IPM. Namun, nyatanya hampir saja tak ada kegiatan sama sekali yang dilakukan oleh Muhammadiyah. Bukan maksud untuk protes atau apalah namanya. Semua itu nyata di depan mata. Walau semua harus sedikit lega karena PUSDAM (Pusat Dakwah Muhammadiyah) sedikit demi sedikit ada perubahan tetapi itupun belum signifikan dan masimal. Oleh karena itu, Muhammadiyah masih berkutat pada yang klasik, seperti kurangnya pertemuan atau pengajian yang dilakukan itu masih sangat jauh dari harapan yang dibutuhkan. Boleh jadi, karena kesibukan masing-masing yang seluruh anggota Muhammadiyah PNS sehingga untuk bertatap muka dalam sepekan saja susah apalagi dalam dua pecan atau bahkan sebulan sekali. Itupun masih sangat susah dilakukan. Sekali lagi, bukan maksud untuk apa dan bagaimana. Penguatan internal sampai saat ini jarang untuk dilakukan dan membutuhkan waktu yang khusus untuk dilakukan walau harus itu saja masih sangat susah dilaksanakan.
            Menunggu itu pekerjaan yang sangat mudah dilakukan namun sangat membosankan jika harus terus menunggu datangnya orang-orang yang diharapkan kedatangannya. Sampai saat ini Aku terus menunggu hingga tulisan ini terus mengalir bagaimana mata air yang keluar dari sarangnya. Masih saja hasilnya nihil, tidak ada yang datang. Aku telah mencoba menelpon tapi hanya sebagian kecil itupun mereka masih sibuk dengan urusannya masing-masing. Ada juga yang ditelpon tidak di angkat-angkat. Aku berpikir positif saja. Barangkali mereka ada kesibukan atau tidak berada di dekat HP-nya saat Aku telpon. Mudah-mudahan bukan ingin menghindar dariku saat telponku menyapanya. mudah-mudahan tidak, harapku. Terkadang punggungku sakit saat menuliskan kata demi kata bait demi bait. Aku sesekali istirahat menulis untuk merefresh badanku yang mulai pegal-pegal akibat terlalu banyak menunggu dan memang karena telah lama menulis. Yah, lewat tulisan kuungkapkan rasa kekecewaan ini. Lidahku terlalu keluh untuk berucap. Apalagi memang Aku tak cakap dalam beretorika dan mengungkpakan isi hati ini lewat lisanku. Sekali lagi, Aku terlalu kaku untuk berucap dengan kata-kata yang pas dan sesuai dengan apa yang Aku harapkan. Aku tak ingin membuang-buang energiku dengan terus berucap mendingan lewat tulisan saja. Agar mereka dapat membaca kapan dan dimanapun mereka berada. JIka lewat ucapan lisan mereka gampang untuk melupakannya. Namun jika lewat tulisan mereka dapat menyimpannya dan sewaktu-watu dapat membacanya kembali. Walau Aku tahu pelajar IPM di Jeneponto masih kurang yang berminat dalam hal tulis-menulis. Boro-boro mau baca melirik saja susah sekali. Boleh jadi benar kata orang bahwa rata-rata orang Indonesia Cuma melirik judul tulisannya saja, Kemudian sesaat, jauh dari pandangannya. Nasib ya nasib mengapa begini. Alamak, Mengapa Aku menyanyi. Tidak apa-apalah itu hanya sebagai pelipur lara dari rasa kekecewaanku. Katanya sih dengan mendengar lagu stress bisa hilang. Mendengar saja lagu stress bisa hilang apalagi dengan mendengarkan Murattal dan paling bagusnya lagi kita semua yang mengja dengan cara murattal untuk menenangkan jiwa yang tersakiti agar kita lebih dekat dengan Tuhan yang menciptkan kita semua.
            Sampai saat ini, Aku butuh petunjuk dari Kakanda-kakanda atau sesepuh IPM bagaimana membangkitkan gairah keber-IPMan mereka yang telah menjadi anggota IPM untuk mau berjuang di IPM. Sampai kini Aku ingin memaparkan analisis SWOT IPM dengan para personil PD IPM Jeneponto, naun itu semua jauh panggang dari api. Itu semua hanyalah angan atau impian yang seakan-akan membayangiku setiap hari. Cui, seperti saja orang jatuh cinta memikirkan si doinya. Jika dipikir-pikir IPM ini seperti halnya kekasih. Jika demiian, Aku ingin menjadikan IPM sebagai kekasih hatiku dan akan menjadi pujangga dalam setiap bait cintaku. Tidak apa-apalah daripada memikirkan anak orang lain yang belum tentu jodohku. Lebih baik untuk sementara waktu bahkan hingga akhir hayatku biarlah IPM selalu menjadi kekasihku yang sangat butuh perhatian dan kasih saying yang lebih. Itu Cuma bagi mereka yang mau berjuang di IPM. Tabe, bukan maksud riya’ tetapi itu hanya sebatas untuk bagaimana IPM ini menjadi organisasi pelajar garda terdepan di Kabupaten Jeneponto. Dan itu butuh pengorbanan yang tidak sedikit baik, tenaga, materi,pikiran bahkan jiwa yang akan dipertaruhkan untuk bagaimana IPM di Jeneponto bisa mencapai kejayaannya.
            Akhirnya, sedikit demi sedikit rasa kekecewaan itu menghilang lewat tulisan ini, juga kegelisahan yang menghampiri seakan telah menjauh dari diriku boleh jadi ia pergi karena Aku bisa mengalahkannya. Kiranya tulisan ini mudah-mudahan menjadi renungan kembali bagi setiap kader IPM Jeneponto untuk dapat terus merefleksi dari setiap rentetan kegiatan yang aan dilaksanakan walau sampai saat ini IPM Jeneponto belum melaksanakan raker. Tetapi sekali, mari terus ber-IPM agar IPM tetap jaya di tangan para pejuang sejati. Di tempat ini (baca:PUSDAM) akan menjadi saksi bisu dikala Aku menunggu kalian semua para pejuang sejati IPM. Hari ini, Selasa, 27 Juni 2017. Tempat Aku menunggu kedatangan kalian sobatku. Kecewa bagiku itu sudah biasa. Mari Bermuhasabah
           
           

Rabu, 10 Mei 2017

MEMBUMIKAN GJDJ PELAJAR DI JENEPONTO

Ibnu Syam
(Ketua Umum PD IPM Jeneponto

Ikatan Pelajar Muhammadiyah adalah sebuah wadah bagi pelajar yang ingin mengembangkan diri melalui organisasi yang merupakan organisasi otonom Muhammadiyah. IPM harus senantiasa menyiapkan kader-kader militansi dan mempunyai loyalitas dalam berorganisasi. Mengapa demikian? Sebab ini harus dilakukan untuk bisa menjadikan mereka menjadi kader-kader yang mempunyai visi dan misi yang sesuai dengan harapan yang di dalam IPM sebagaimana yang telah digariskan di dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga di IPM yang telah ditanfidzkan dari periode ke periode.

Kabupaten Jeneponto merupakan daerah yang di dalamnya ada pelajar-pelajar yang bisa dibina dan dilatih untuk menjadi kader-kader yang mempunyai integritas tinggi dan bisa menjadi pimpinan dalam setiap tingkatan baik di ranting hingga daerah tingkat kabupaten menjadi kader pelopor, pelangsung dan menjadi penyempurna amanah dan mempunyai keterampilan, ilmu pengetahuan dan berakhlaq mulia. Dan bisa menyesuaikan diri dengan tertib ibadah, tertib belajar dan tertib organisasi.

Apa yang menjadi harapan di atas menjadi kenyataan dan bukan hanya berkutat pada wacana tetapi mampu menginspirasi dengan real action yang nyata bagi kalangan pelajar Muhammadiyah terutama yang ada di Kabupaten Jeneponto. Harus disadari bahwa dalam berorganisasi tentu ada dinamika disana-sini dan kiranya itu hal yang biasa terjadi dan seorang kader IPM harus cerdas  menyikapi dalam menghadapi dinamika tersebut. Sebenarnya bukan persoalan dinamika apa yang terjadi dalam sebuah ikatan tetapi bagaimana seorang kader mampu memandang dan melihat dari sudut pandang apa dalam memecahkan dinamika kehidupan di tubuh IPM terutama di Kabupaten Jeneponto.

Di samping itu di kabupaten Jeneponto telah banyak kader setiap diadakan pengkaderan baik di Amal Usaha Muhammadiyah sendiri maupun diluar AUM. Namun, miris rasanya yang bisa tetap untuk bisa aktif dalam berorganisasi tidak seberapa. Inilah kiranya perlu perhatian yang sangat serius bagaimana cara untuk menanggulangi semua itu. Salah satu penanganan untuk menghadapi masalah ini dengan senantiasa melakukan pengajian dan pengkajian baik sekali seminggu atau boleh juga satu kali dalam sebulan. Seorang kader bisa saja begitu karena tidak ada perhatian kepada mereka semua. Dan yang mencengankan lagi adalah jika sudah dikader di IPM tetapi lebih memiliki melakukan kajian pada wadah yang lain. Mereka juga tidak bisa disalahkan tetapi bagaimana mereka tetap mendapat perhatian dari kakanda-kakandanya agar tidak menumpang lagi di tempat lain.

Aspek lain dinamika dari tubuh IPM di Kabupaten Jeneponto adalah adanya miss comunication di antara sesama pimpinan baik itu ketua umum, ketua bidang, sekretaris bidang dan bahkan kepada anggota-anggotanya. Dinamika inilah yang biasa membuat sebuah perpecahan dalam tubuh pimpinan dan ini mesti dicarikan solusi agar tidak terjadi lagi hal yang sama untuk masa yang akan datang. Boleh jadi bukan hanya di Kabupaten Jeneponto hal seperti itu, namun hampir semua mengalami hal yang serupa.

Pentingnya Penguatan di tingkat Ranting

Untuk itulah kiranya ada beberapa hal yang dijadikan sebagai pegangan untuk menjadi kekuatan dalam tubuh IPM terutama yang ada di kabupaten Jeneponto sebagaimana apa yang telah ditulis oleh Dr. H. Haedar Nashir, M.Si sebagai berikut :

Hidup matinya Muhammadiyah sebagai gerakan keumatan dan kemasyarakatan tergantung pada aktivitasnya di basis Ranting. Ranting merupakan tolok ukur utama dari keberadaan Muhammadiyah di akar rumput. Di tingkat kepemimpinan paling bawah itulah adanya denyut nadi kehidupan jamaah umat dan masyarakat. Meskipun keberadaan Muhammadiyah kuat ditingkat kepemimpinan Pusat, Wilayah, Daerah, dan Cabang maka semuanya tidak akan kokoh jika pergerakan Rantingnya rapuh atau lemah”.[1]

Satu poin penting untuk diketahui bahwa Ranting merupakan pondasi dasar dalam menggerakkan Muhammadiyah dan ini sama saja apa yang di IPM agar terus melakukan pembaruan-pembaruan untuk menjadikan IPM sebagai gerakan yang berkemajuan. Dengan demikian yang harus dilakukan  pertama kali adalah dengan melakukan pembinaan ke-Islaman. Di Muhammadiyah sendiri salah satu langkah penting adalah revitalisasi Ranting yang menjadi fokus gerakan Muhammadiyah di akar rumput hasil Muktamar Satu Abad ialah menghidupsuburkan aktivitas ke-Islaman. Artinya menguatkan kembali kegiatan-kegiatan pembinaan ke-Islaman bagi warga umat atau masyarakat di mana Ranting itu berada. Ruh kegiatan Muhammadiyah itu ialah menyebarluaskan dan memajukan hal ihwal ajaran Islam. Ajaran Islam dalam aspek aqidah, ibadah, akhlak, dan muamalah-dunyawiyah harus diyakinkan dan dipahamkan dalam diri setiap pemeluknya untuk diamalkan dalam kehidupan. Kedua adanya prioritas gerakan, umat atau masyarakat saat ini di mana pun berada dan bagaimanapun keadaannya sangat haus atau dahaga akan nilai-nilai ke-Islaman yang dapat membimbing jalan hidup mereka. Kenapa mereka lebih tertarik pada Salafi, Jamaah Tabligh, Majelis Tafsir Al-Qur’an, Tarbiyah, dan gerakan-gerakan Islam lain sebagai pendatang baru. Tentu ada yang mereka cari dan ingin menemukan sesuatu yang dibutuhkan secara keruhanian dan nilai-nilai ke-Islaman. Apapun corak pemahamannya dari gerakan-gerakan Islam itu ternyata diminati umat atau masyarakat, yang boleh jadi tidak mereka temukan atau kurang mendapat pembinaan ke-Islaman dari Muhammadiyah dan gerakan Islam yang besar lainnya selama ini.

Jadi, dalam menghidupkan ruh ke-Islaman di basis gerakan IPM adalah dengan melakukan pembinaan ke Islaman dan prioritas gerakan.

Kaderisasi Kepemimpinan di IPM

Kaderasasi kepemimpinan di IPM sangat perlu dilakukan untuk memajukan IPM Kabupaten Jeneponto. Di Muhammadiyah sendiri sebagai gerakan Islam dan dakwah amar ma’ruf nahi mungkar serta gerakan pembaruan (tajdid). Muhammadiyah sebagaimana yang dikutip oleh M. Muchlas Abrar bahwa :

Muhammadiyah adalah organisasi besar dan telah teruji dalam perjalanan sejarahnya yang panjang melintasi beberapa zaman. Muhammadiyah selain mempunyai kader, juga pasti mempunyai pimpinan. Pimpinan Muhammadiyah pada tiap tingkat terdiri atas sejumlah orang yang mendapat kepercayaan untuk mengemban amanah Persyarikatan. Para pemimpin ini tentu memiliki tanggung jawab dalam melaksanakan fungsi dan peran kepemimpinan. Jadi, kepemimpinan berperan dalam kehidupan berorganisasi[2]

Apa yang menjadi harapan diatas itulah juga yang diharapkan di IPM menjadikan kepemimpinan yang mempunyai peran dalam menggerakkan jiwa kepemimpinan dalam berorganisasi.  Masih menurut M. Muchlas Abror menyatakan bahwa :

Kaderisasi kepemimpinan Muhammadiyah adalah baik sekali bila dilakukan secara berencana, teratur dan tertib, sistematis, terarah, dan disengaja. Banyak hal yang dapat dilakukan dalam rangka itu. Diantaranya memberi motivasi dan kesempatan kepada generasi muda untuk memangku jabatan pimpinan. Mengikutsertakan angkatan muda yang berbakat untuk mengikuti latihan di dalam dan di luar organisasi. Bisa pula dengan memberikan kepada anggotanya yang potensial untuk tugas belajar pada lembaga pendidikan yang jenjangnya lebih tinggi. Memberikan beasiswa atau tunjangan belajar kepada anak-anak yatim piatu yang berprestasi dan orangtuanya tidak mampu. Mereka diarahkan untuk bersekolah di Sekolah atau kuliah diPerguruan Tinggi Muhammadiyah yang sesuai dengan kebutuhan organisasi. Kaderisasi kepemimpinan Muhammadiyah yang berarti proses mempersiapkan seseorang atau sejumlah orang untuk menjadi pemimpin penerus Muhammadiyah di masa depan jelas mutlak perlu. Karena itu harus diprioritaskan.”

Kiranya ini adalah sebuah penegasan bahwa kaderisasi itu penting dan merupakan prioritas utama dalam sebuah kepemimpinan. Ini sesuatu yang dilakukan dalam setiap jenjang pengkaderan di IPM demi bangkit dan tegaknya struktur kepemimpinan dalam tubuh IPM.

Penguatan identitas kader IPM sebagai bagian dari Muhammadiyah apalagi IPM telah memasuki separuh abad sejak berdirinya dan Muhammadiyah sendiri telah memasuki abad kedua. Untuk itu Man Hakim yang juga adalah Pimpinan wilayah dari Bengkulu menyatakan bahwa :

Diantara hal yang patut dibanggakan adalah sistem pengelolaan organisasi dan perkaderan dalam Muhammadiyah cukup terpola dan sistematis. Dengan pengelolaan dan pembinaan yang demikian mampu melahirkan kader-kader yang memiliki loyalitas dan militansi yang cukup tinggi, memiliki ruh serta integritas dan kompetensi untuk berperan di Persyarikatan dalam kehidupan umat dan dinamika bangsa.”[3]

Apa yang termaktub di atas mudah-mudahan bisa diterapkan dalam IPM terutama di Kabupaten Jeneponto punya spirit memiliki loyalitas dan militansi dan mampu untuk membangkitkan ruh apa yang dalam organisasi ini. dan Man Hakim menambahkan ada beberapa kemungkinan usaha yang bisa dilakukan untuk meneguhkan kembali identitas kader Muhammdiyah. Pertama,  dengan melakukan pencerahan pemikiran melalui pendidikan/pelatihan baik secara formal, nonformal, informal. Kedua, pelibatan secara langsung para kader pada setiap amal usaha sesuai dengan bidang dan kemampuannya. Ketiga, pelibatan secara langsung setipa kegiatan yang diadakan oleh Muhammadiyah.[4]

Dengan ketiga usaha peneguhan identitas kader Muhammadiyah diatas termasuk di dalamnya adalah kader-kader dari IPM baik dimanapun mereka berada untuk bisa dimanfaatkan dalam usaha mencapai tujuan Muhammadiyah.

Memudarnya Literasi Membaca dan Peradaban bagi kalangan Pelajar

Dalam Majalah Khittah edisi 007 tahun III/2015 kolom khittah utama, dengan Judul “mengembangbiakkan Tradisi Literasi” Kepala Bagian Deposito Perpustakaan Wilayah Sulsel dengan tegas menyatakan bahwa tradisi literasi masyarakat, masih jauh dari harapan, bahkan semakin menurun. Survei yang dilakukan menyimpulkan, penyebab penurunan minat baca masyarakat dalam hal ini buku, adalah kemajuan teknologi.[5] Ini perlu mendapat perhatian yang serius jika literasi dan peradaban itu dapat bisa berkembang dengan baik. Mengapa demikian perlu, masyarakat sekarang ini hanya disibukkan dengan mengutak atik gadget yang super canggih. Sehebat-hebatnya gadget, secepatnya akses informasi dari providor pendukung, buku tetap merupakan jiwa dari intelektual, sehingga budaya literasi harus dihidupkan.

Kebanyakan pelajar saat ini lebih senang membawa gadget daripada buku. Ini ada sebuah penyakit sosial yang harus ditanggulangi. Kamaruddin Hidayat juga menegaskan dengan pernyataan :
Musuh utama suatu negara adalah kemiskinan. Akan tetapi, ada yang lebih menakutkan lagi dari kemiskinan, yaitu kebodohan. Karena kebodohan merupakan kemiskinan yang paling rawan, yaitu kemiskinan pengetahuan. Bangsa yang miskin, jangankan untuk menghalau dan melawan bangsa-bangsa luar, untuk berdiri bangkit sendiri saja tidak akan mampu. Bila kebodohan telah menggurita, suatu bangsa sebenarnya sedang membangun nisan kematian negaranya.”[6]

Sebagai bahan refleksi untuk semua kalangan pelajar hari ini, cobalah untuk berbenah agar semangat literasi membaca buku dan peradaban bagi kalangan pelajar tumbuh kembali. Pimpinan Wilayah IPM Sulsel pada Konferensi Pimpinan Daerah dalam draf komisi A membahas 10 Strategis salah satu poin yang dibahas adalah tentang penting literasi bagi kalangan pelajar.  Menurut Komaruddin Hidayat,
Kemajuan bangsa ini ditandai dengan tersedianya sarana pendidikan, riset keilmuan, kebudayaan yang cukup dan berkualitas, buka disebabkan oleh banyaknya restoran dan pusat perbelanjaan. Peradaban besar yang pernah ada adalah peradaban intelektual, bukan peradaban konsumtif dan berbelanja, namun, kita menyaksikan satu hal yang ironi di sekitar kita. Kita begitu sudah untuk mendapatkan sebuah perpustakaan yang bagus, tempat membaca yang indah, hingga sarana belajar yang kreatif dan kondusif.”[7]

Pendidikan memang kata kunci untuk kalangan pelajar bahwa melalui pendidikanlah  bangsa yang besar ini akan menjadi bangsa yang punya peradaban yang tinggi dan pendidikan yang baik adalah pendidikan yang dibarengi oleh nilai-nilai moral dan iman. Perlu juga dicermati apa yang ditulis oleh HM Nasruddin Anshory Ch dalam bukunya Matahari pembaruan Rekam Jejak KH. Ahmad Dahlan yang menyatakan sebagai berikut.

Tanpa suatu tradisi intelektual yang mampu berdialog dengan peradaban modern di atas, negara-negara baru Islam akan berhadapan dengan masalah pembangunan tata kehidupan. Pengembangan kehidupan sosial muslim pun berhadapan dengan realitas yang kurang serupa. Maka, pembangunan peradaban Islam dalam masyarakat modern sesuangguhnya, merupakan agenda gerakan Islam masa depan.”[8]

Dalam IPM ada spirit keilmuan yang perlu dan terus dikembangkan untuk menjadikan pelajar sebagai orang terampil, berakhlak mulia dan berilmu. Pelajar saat ini harus mampu memadukan literasi membaca dn transformasi dalam ilmu pengetahuan untuk bisa lagi merebut kejayaan Islam masa lalu dengan terus membaca dan mengambil manfaat dari yang dibancanya. Dan tentu ini suatu pekerjaan yang sudah sanagat sulit dlakukan disamping apa yang telah dibahas sebelumny bahwa pelajar saat ini lebih sering memegang gadget daripada membaca buku untuk penambahan ilmu untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dakwah Pencerahan Berbasis Komunitas Bagi Pelajar

Secara sistemik dan terprogram Muhammadiyah pada Muktamar ke-37 tahun 1968 melangkah lebih jauh dengan menggagas dan merumuskan program Gerakan Jamaah dan Dakwah Jamaah (GJDJ). Gerakan Jamaah dan Dakwah Jamaah tersebut dirumuskan untuk mengembalikan Muhammadiyah (Re- Tajdid Muhammadiyah) ke jalur dakwah di basis akar rumput. Kelahiran Gerakan Jamaah dan Dakwah Jamaah (GJDJ) atau disebut Gerakan Jamaah (GJ) tersebut menunjukkan kesadaran, komitmen, dan usaha Muhammadiyah untuk berdakwah secara langsung menggarap kelompok masyarakat di akar rumput (grass-root) yang disebut jamaah atau dalam istilah mutakhir dikenal dengan sebutan komunitas (coommunity). [9]

Karenanya dalam Muktamar ke-47 diagendakan dan diprogramkan secara khusus tentang “Model Dakwah Pencerahan Berbasis Komunitas” sebagai wujud aktualisasi Gerakan Jamaah untuk dilaksanakan dan menjadi gerakan masif dalam pergerakan Muhammadiyah ke depan. [10] Untuk itulah IPM Kabupaten jeneponto berupaya untuk membangkitkan kembali pengkajian dan bukan pengajian. Mengapa demikian? Dr. H. Abdul Mu’ti, M.Ed.(Sekretaris Umum PP Muhammadiyah) menyatakan bahwa :

Muhammadiyah memilih istilah “pengkajian” dan bukan “pengajian” karena di dalamnya dibahas berbagai permaslahan agama ayat-ayat  qauliyah (AL-Qur’an dan Hadits) dan kauniyah ( dinamika sosial, ekonomi, politik, kebudayaan,dll), dari berbagai perspektif, bukan hanya monopolitik dari sudut pandang ilmu-ilmu agama.”[11]

Dalam “Model Dakwah Pencerahan Berbasis Komunitas” yang digagas oleh PP Muhammadiyah ada beberapa bagian dalam komnitas tersebut di antaranya adalah dakwah bagi komunitas atas, dakwah bagi komunitas menengah, dakwah bagi komunitas bawah, dakwah bagi komunitas, marjinal, dakwah bagi komunitas virtual, dakwah bagi komunitas khusus (komunitas hobi, kepentingan dan kelompok “identitas”). Perkembangan Muhammadiyah saat ini maupun ke depan dihadapkan pada model kehidupan komunitas atau jamaah yang heterogen dalam berbagai aspeknya, yang memerlukan model dakwah komunitas atau dakwah jamaah yang mengandung pemikiran, pendekatan, strategi, dan pola aktivitas baru yang lebih relevan dan aktual. Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang membawa misi dakwah dan tajdid harus tampil sebagai kekuatan pencerahan dalam memberi sibghah atau corak kehidupan masyarakat yang berubah dan berkembang dinamis itu sebagaimana menjadi komitmen gerakannya di abad kedua ini.

            Komunitas atau jamaah dalam kehidupan masyarakat Indonesia baik di perkotaan dan pedesaan maupun kawasan lain berkembang pesat dan dinamis seiring dengan perkembangan zaman yang menjadi hukum kehidupan. Komunitas (jamaah) sebagai kelompok-kelompok sosial umum yang memiliki identitas heterogen dalam masyarakat di berbagai struktur dan lingkungan kehidupan merupakan sasaran dakwah yang harus menjadi perhatian Muhammadiyah dalam sistem gerakannya, terutama ketika gerakan Islam ini memasuki abad kedua.[12]

            IPM harus mengambil bagian dalam menyukseskan program PP Muhammadiyah ini untuk bisa berpartisipasi dalam mencapai dan mampu untuk mengaktualisasikan implementasi daripada program PP Muhammadiyah tersebut yang telah dibahas dalam forum tertinggi di Muhammadiyah dalam Muktamar ke-47 Muhammadiyah di Makassar bulan Agustus tahun 2015 lalu. Model dakwah ini sebenarnya adalah model pengembangan dari Gerakan Dakwah dan Dakwah Jamaah yang kurang maksimal dalam pelaksanaannya sehingga dimunculkan kembali dengan model lain agar lebih bisa disesuaikan dengan perkembangan zaman saat ini dan demikian pula ke depannya.

  
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dari penjelasan dan pembahasan di atas kiranya ada beberapa catatan penting dalam  mengembangkan spirit keber-Islaman di IPM kabupaten Jeneponto dengan :
1.      Pentingnya penguatan di tingkat Ranting.
2.      Kaderisasi kepemimpinan di IPM.
3.      Memudarnya literasi membaca dan peradaban bagi kalangan pelajar.
4.      Dakwah pencerahan berbasis komunitas bagi pelajar.
B.     Saran
Apa yang terdapat dalam tulisan ini masih jauh kesempurnaan dan kekeliruan. Kiranya kritik dan masukan yang membangun demi melengkapi kekurangan-kekurangan dalam tulisan ini. terima kasih.



DAFTAR PUSTAKA
Anshory Ch, HM Nasruddin. Matahari Pembaruan Rekam Jejak KH. Ahmad  Dahlan. Yogyakarta. JB Publisher. 2010.
Hidayat, Komaruddin. Ungkapan Hikmah Membuka Mata, Menangkap Makna. Jakarta. Noura Books. 2013.
Majalah Khittah edisi 007 tahun III/2015.

Mundzir, Ilham. Amar, Faozan. Muhammadiyah dan Dakwah Pencerahan untuk masyarakat Kelas Menengah. Jakarta. Al-Wasat Publishing House.2013.
PP Muhammadiyah. Model Dakwah Pencerahan Berbasis Komunitas. Yogyakarta. Gramasurya. 2015.
Syaifullah.Refleksi Satu Abad Muhammadiyah. Bengkulu. PWM B-Press. 2010.
Suara Muhammadiyah edisi no.04 th. Ke-100. 2015.
Suara Muhammadiyah edisi no.09 th ke-100. 2015.




[1] Nashir, Haedar. Menghidupkan Ruh Ke-Islaman di basis Gerakan Muhammadiyah. Suara Muhammadiyah edisi no.04 th. Ke-100. 2015. Kolom BINGKAI. Hal. 12
[2] M. Muchlas Abror. Kaderisasi Kepemimpinan Muhammadiyah Suara Muhammadiyah edisi no.09 th ke-100. 2015. Kolom KALAM. Hal. 26
[3] Syaifullah.Refleksi Satu Abad Muhammadiyah. Bengkulu. PWM B-Press. 2010. Hal. 453
[4] Ibid. Hal. 458
[5] Majalah Khittah edisi 007 tahun III/2015
[6] Hidayat, Komaruddin. Ungkapan Hikmah Membuka Mata, Menangkap Makna. Jakarta. Noura Books. 2013. Hal. 281
[7] Ibid. Hal. 281
[8] HM Nasruddin Anshory Ch. Matahari Pembaruan Rekam Jejak KH. Ahmad  Dahlan. Yogyakarta. JB Publisher. 2010. Hal. 22
[9] PP Muhammadiyah. Model Dakwah Pencerahan Berbasis Komunitas. Yogyakarta. Gramasurya. 2015. Hal.3
[10] Ibid. Hal.5
[11] Mundzir, Ilham. Amar, Faozan. Muhammadiyah dan Dakwah Pencerahan untuk masyarakat Kelas Menengah. Jakarta. Al-Wasat Publishing House.2013. hal.vii
[12] Ibid. PP Muhammadiyah. Model Dakwah Pencerahan.......