Kata Mutiara

Tidak akan kembali hari-hari yang telah berlalu

Rabu, 10 Mei 2017

MEMBUMIKAN GJDJ PELAJAR DI JENEPONTO

Ibnu Syam
(Ketua Umum PD IPM Jeneponto

Ikatan Pelajar Muhammadiyah adalah sebuah wadah bagi pelajar yang ingin mengembangkan diri melalui organisasi yang merupakan organisasi otonom Muhammadiyah. IPM harus senantiasa menyiapkan kader-kader militansi dan mempunyai loyalitas dalam berorganisasi. Mengapa demikian? Sebab ini harus dilakukan untuk bisa menjadikan mereka menjadi kader-kader yang mempunyai visi dan misi yang sesuai dengan harapan yang di dalam IPM sebagaimana yang telah digariskan di dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga di IPM yang telah ditanfidzkan dari periode ke periode.

Kabupaten Jeneponto merupakan daerah yang di dalamnya ada pelajar-pelajar yang bisa dibina dan dilatih untuk menjadi kader-kader yang mempunyai integritas tinggi dan bisa menjadi pimpinan dalam setiap tingkatan baik di ranting hingga daerah tingkat kabupaten menjadi kader pelopor, pelangsung dan menjadi penyempurna amanah dan mempunyai keterampilan, ilmu pengetahuan dan berakhlaq mulia. Dan bisa menyesuaikan diri dengan tertib ibadah, tertib belajar dan tertib organisasi.

Apa yang menjadi harapan di atas menjadi kenyataan dan bukan hanya berkutat pada wacana tetapi mampu menginspirasi dengan real action yang nyata bagi kalangan pelajar Muhammadiyah terutama yang ada di Kabupaten Jeneponto. Harus disadari bahwa dalam berorganisasi tentu ada dinamika disana-sini dan kiranya itu hal yang biasa terjadi dan seorang kader IPM harus cerdas  menyikapi dalam menghadapi dinamika tersebut. Sebenarnya bukan persoalan dinamika apa yang terjadi dalam sebuah ikatan tetapi bagaimana seorang kader mampu memandang dan melihat dari sudut pandang apa dalam memecahkan dinamika kehidupan di tubuh IPM terutama di Kabupaten Jeneponto.

Di samping itu di kabupaten Jeneponto telah banyak kader setiap diadakan pengkaderan baik di Amal Usaha Muhammadiyah sendiri maupun diluar AUM. Namun, miris rasanya yang bisa tetap untuk bisa aktif dalam berorganisasi tidak seberapa. Inilah kiranya perlu perhatian yang sangat serius bagaimana cara untuk menanggulangi semua itu. Salah satu penanganan untuk menghadapi masalah ini dengan senantiasa melakukan pengajian dan pengkajian baik sekali seminggu atau boleh juga satu kali dalam sebulan. Seorang kader bisa saja begitu karena tidak ada perhatian kepada mereka semua. Dan yang mencengankan lagi adalah jika sudah dikader di IPM tetapi lebih memiliki melakukan kajian pada wadah yang lain. Mereka juga tidak bisa disalahkan tetapi bagaimana mereka tetap mendapat perhatian dari kakanda-kakandanya agar tidak menumpang lagi di tempat lain.

Aspek lain dinamika dari tubuh IPM di Kabupaten Jeneponto adalah adanya miss comunication di antara sesama pimpinan baik itu ketua umum, ketua bidang, sekretaris bidang dan bahkan kepada anggota-anggotanya. Dinamika inilah yang biasa membuat sebuah perpecahan dalam tubuh pimpinan dan ini mesti dicarikan solusi agar tidak terjadi lagi hal yang sama untuk masa yang akan datang. Boleh jadi bukan hanya di Kabupaten Jeneponto hal seperti itu, namun hampir semua mengalami hal yang serupa.

Pentingnya Penguatan di tingkat Ranting

Untuk itulah kiranya ada beberapa hal yang dijadikan sebagai pegangan untuk menjadi kekuatan dalam tubuh IPM terutama yang ada di kabupaten Jeneponto sebagaimana apa yang telah ditulis oleh Dr. H. Haedar Nashir, M.Si sebagai berikut :

“Hidup matinya Muhammadiyah sebagai gerakan keumatan dan kemasyarakatan tergantung pada aktivitasnya di basis Ranting. Ranting merupakan tolok ukur utama dari keberadaan Muhammadiyah di akar rumput. Di tingkat kepemimpinan paling bawah itulah adanya denyut nadi kehidupan jamaah umat dan masyarakat. Meskipun keberadaan Muhammadiyah kuat ditingkat kepemimpinan Pusat, Wilayah, Daerah, dan Cabang maka semuanya tidak akan kokoh jika pergerakan Rantingnya rapuh atau lemah”.[1]

Satu poin penting untuk diketahui bahwa Ranting merupakan pondasi dasar dalam menggerakkan Muhammadiyah dan ini sama saja apa yang di IPM agar terus melakukan pembaruan-pembaruan untuk menjadikan IPM sebagai gerakan yang berkemajuan. Dengan demikian yang harus dilakukan  pertama kali adalah dengan melakukan pembinaan ke-Islaman. Di Muhammadiyah sendiri salah satu langkah penting adalah revitalisasi Ranting yang menjadi fokus gerakan Muhammadiyah di akar rumput hasil Muktamar Satu Abad ialah menghidupsuburkan aktivitas ke-Islaman. Artinya menguatkan kembali kegiatan-kegiatan pembinaan ke-Islaman bagi warga umat atau masyarakat di mana Ranting itu berada. Ruh kegiatan Muhammadiyah itu ialah menyebarluaskan dan memajukan hal ihwal ajaran Islam. Ajaran Islam dalam aspek aqidah, ibadah, akhlak, dan muamalah-dunyawiyah harus diyakinkan dan dipahamkan dalam diri setiap pemeluknya untuk diamalkan dalam kehidupan. Kedua adanya prioritas gerakan, umat atau masyarakat saat ini di mana pun berada dan bagaimanapun keadaannya sangat haus atau dahaga akan nilai-nilai ke-Islaman yang dapat membimbing jalan hidup mereka. Kenapa mereka lebih tertarik pada Salafi, Jamaah Tabligh, Majelis Tafsir Al-Qur’an, Tarbiyah, dan gerakan-gerakan Islam lain sebagai pendatang baru. Tentu ada yang mereka cari dan ingin menemukan sesuatu yang dibutuhkan secara keruhanian dan nilai-nilai ke-Islaman. Apapun corak pemahamannya dari gerakan-gerakan Islam itu ternyata diminati umat atau masyarakat, yang boleh jadi tidak mereka temukan atau kurang mendapat pembinaan ke-Islaman dari Muhammadiyah dan gerakan Islam yang besar lainnya selama ini.

Jadi, dalam menghidupkan ruh ke-Islaman di basis gerakan IPM adalah dengan melakukan pembinaan ke Islaman dan prioritas gerakan.

Kaderisasi Kepemimpinan di IPM

Kaderasasi kepemimpinan di IPM sangat perlu dilakukan untuk memajukan IPM Kabupaten Jeneponto. Di Muhammadiyah sendiri sebagai gerakan Islam dan dakwah amar ma’ruf nahi mungkar serta gerakan pembaruan (tajdid). Muhammadiyah sebagaimana yang dikutip oleh M. Muchlas Abrar bahwa :

“Muhammadiyah adalah organisasi besar dan telah teruji dalam perjalanan sejarahnya yang panjang melintasi beberapa zaman. Muhammadiyah selain mempunyai kader, juga pasti mempunyai pimpinan. Pimpinan Muhammadiyah pada tiap tingkat terdiri atas sejumlah orang yang mendapat kepercayaan untuk mengemban amanah Persyarikatan. Para pemimpin ini tentu memiliki tanggung jawab dalam melaksanakan fungsi dan peran kepemimpinan. Jadi, kepemimpinan berperan dalam kehidupan berorganisasi”[2]

Apa yang menjadi harapan diatas itulah juga yang diharapkan di IPM menjadikan kepemimpinan yang mempunyai peran dalam menggerakkan jiwa kepemimpinan dalam berorganisasi.  Masih menurut M. Muchlas Abror menyatakan bahwa :

“Kaderisasi kepemimpinan Muhammadiyah adalah baik sekali bila dilakukan secara berencana, teratur dan tertib, sistematis, terarah, dan disengaja. Banyak hal yang dapat dilakukan dalam rangka itu. Diantaranya memberi motivasi dan kesempatan kepada generasi muda untuk memangku jabatan pimpinan. Mengikutsertakan angkatan muda yang berbakat untuk mengikuti latihan di dalam dan di luar organisasi. Bisa pula dengan memberikan kepada anggotanya yang potensial untuk tugas belajar pada lembaga pendidikan yang jenjangnya lebih tinggi. Memberikan beasiswa atau tunjangan belajar kepada anak-anak yatim piatu yang berprestasi dan orangtuanya tidak mampu. Mereka diarahkan untuk bersekolah di Sekolah atau kuliah diPerguruan Tinggi Muhammadiyah yang sesuai dengan kebutuhan organisasi. Kaderisasi kepemimpinan Muhammadiyah yang berarti proses mempersiapkan seseorang atau sejumlah orang untuk menjadi pemimpin penerus Muhammadiyah di masa depan jelas mutlak perlu. Karena itu harus diprioritaskan.”

Kiranya ini adalah sebuah penegasan bahwa kaderisasi itu penting dan merupakan prioritas utama dalam sebuah kepemimpinan. Ini sesuatu yang dilakukan dalam setiap jenjang pengkaderan di IPM demi bangkit dan tegaknya struktur kepemimpinan dalam tubuh IPM.

Penguatan identitas kader IPM sebagai bagian dari Muhammadiyah apalagi IPM telah memasuki separuh abad sejak berdirinya dan Muhammadiyah sendiri telah memasuki abad kedua. Untuk itu Man Hakim yang juga adalah Pimpinan wilayah dari Bengkulu menyatakan bahwa :

“Diantara hal yang patut dibanggakan adalah sistem pengelolaan organisasi dan perkaderan dalam Muhammadiyah cukup terpola dan sistematis. Dengan pengelolaan dan pembinaan yang demikian mampu melahirkan kader-kader yang memiliki loyalitas dan militansi yang cukup tinggi, memiliki ruh serta integritas dan kompetensi untuk berperan di Persyarikatan dalam kehidupan umat dan dinamika bangsa.”[3]

Apa yang termaktub di atas mudah-mudahan bisa diterapkan dalam IPM terutama di Kabupaten Jeneponto punya spirit memiliki loyalitas dan militansi dan mampu untuk membangkitkan ruh apa yang dalam organisasi ini. dan Man Hakim menambahkan ada beberapa kemungkinan usaha yang bisa dilakukan untuk meneguhkan kembali identitas kader Muhammdiyah. Pertama,  dengan melakukan pencerahan pemikiran melalui pendidikan/pelatihan baik secara formal, nonformal, informal. Kedua, pelibatan secara langsung para kader pada setiap amal usaha sesuai dengan bidang dan kemampuannya. Ketiga, pelibatan secara langsung setipa kegiatan yang diadakan oleh Muhammadiyah.[4]

Dengan ketiga usaha peneguhan identitas kader Muhammadiyah diatas termasuk di dalamnya adalah kader-kader dari IPM baik dimanapun mereka berada untuk bisa dimanfaatkan dalam usaha mencapai tujuan Muhammadiyah.

Memudarnya Literasi Membaca dan Peradaban bagi kalangan Pelajar

Dalam Majalah Khittah edisi 007 tahun III/2015 kolom khittah utama, dengan Judul “mengembangbiakkan Tradisi Literasi” Kepala Bagian Deposito Perpustakaan Wilayah Sulsel dengan tegas menyatakan bahwa tradisi literasi masyarakat, masih jauh dari harapan, bahkan semakin menurun. Survei yang dilakukan menyimpulkan, penyebab penurunan minat baca masyarakat dalam hal ini buku, adalah kemajuan teknologi.[5] Ini perlu mendapat perhatian yang serius jika literasi dan peradaban itu dapat bisa berkembang dengan baik. Mengapa demikian perlu, masyarakat sekarang ini hanya disibukkan dengan mengutak atik gadget yang super canggih. Sehebat-hebatnya gadget, secepatnya akses informasi dari providor pendukung, buku tetap merupakan jiwa dari intelektual, sehingga budaya literasi harus dihidupkan.

Kebanyakan pelajar saat ini lebih senang membawa gadget daripada buku. Ini ada sebuah penyakit sosial yang harus ditanggulangi. Kamaruddin Hidayat juga menegaskan dengan pernyataan :
“Musuh utama suatu negara adalah kemiskinan. Akan tetapi, ada yang lebih menakutkan lagi dari kemiskinan, yaitu kebodohan. Karena kebodohan merupakan kemiskinan yang paling rawan, yaitu kemiskinan pengetahuan. Bangsa yang miskin, jangankan untuk menghalau dan melawan bangsa-bangsa luar, untuk berdiri bangkit sendiri saja tidak akan mampu. Bila kebodohan telah menggurita, suatu bangsa sebenarnya sedang membangun nisan kematian negaranya.”[6]

Sebagai bahan refleksi untuk semua kalangan pelajar hari ini, cobalah untuk berbenah agar semangat literasi membaca buku dan peradaban bagi kalangan pelajar tumbuh kembali. Pimpinan Wilayah IPM Sulsel pada Konferensi Pimpinan Daerah dalam draf komisi A membahas 10 Strategis salah satu poin yang dibahas adalah tentang penting literasi bagi kalangan pelajar.  Menurut Komaruddin Hidayat,
“Kemajuan bangsa ini ditandai dengan tersedianya sarana pendidikan, riset keilmuan, kebudayaan yang cukup dan berkualitas, buka disebabkan oleh banyaknya restoran dan pusat perbelanjaan. Peradaban besar yang pernah ada adalah peradaban intelektual, bukan peradaban konsumtif dan berbelanja, namun, kita menyaksikan satu hal yang ironi di sekitar kita. Kita begitu sudah untuk mendapatkan sebuah perpustakaan yang bagus, tempat membaca yang indah, hingga sarana belajar yang kreatif dan kondusif.”[7]

Pendidikan memang kata kunci untuk kalangan pelajar bahwa melalui pendidikanlah  bangsa yang besar ini akan menjadi bangsa yang punya peradaban yang tinggi dan pendidikan yang baik adalah pendidikan yang dibarengi oleh nilai-nilai moral dan iman. Perlu juga dicermati apa yang ditulis oleh HM Nasruddin Anshory Ch dalam bukunya Matahari pembaruan Rekam Jejak KH. Ahmad Dahlan yang menyatakan sebagai berikut.

“Tanpa suatu tradisi intelektual yang mampu berdialog dengan peradaban modern di atas, negara-negara baru Islam akan berhadapan dengan masalah pembangunan tata kehidupan. Pengembangan kehidupan sosial muslim pun berhadapan dengan realitas yang kurang serupa. Maka, pembangunan peradaban Islam dalam masyarakat modern sesuangguhnya, merupakan agenda gerakan Islam masa depan.”[8]

Dalam IPM ada spirit keilmuan yang perlu dan terus dikembangkan untuk menjadikan pelajar sebagai orang terampil, berakhlak mulia dan berilmu. Pelajar saat ini harus mampu memadukan literasi membaca dn transformasi dalam ilmu pengetahuan untuk bisa lagi merebut kejayaan Islam masa lalu dengan terus membaca dan mengambil manfaat dari yang dibancanya. Dan tentu ini suatu pekerjaan yang sudah sanagat sulit dlakukan disamping apa yang telah dibahas sebelumny bahwa pelajar saat ini lebih sering memegang gadget daripada membaca buku untuk penambahan ilmu untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dakwah Pencerahan Berbasis Komunitas Bagi Pelajar

Secara sistemik dan terprogram Muhammadiyah pada Muktamar ke-37 tahun 1968 melangkah lebih jauh dengan menggagas dan merumuskan program Gerakan Jamaah dan Dakwah Jamaah (GJDJ). Gerakan Jamaah dan Dakwah Jamaah tersebut dirumuskan untuk mengembalikan Muhammadiyah (Re- Tajdid Muhammadiyah) ke jalur dakwah di basis akar rumput. Kelahiran Gerakan Jamaah dan Dakwah Jamaah (GJDJ) atau disebut Gerakan Jamaah (GJ) tersebut menunjukkan kesadaran, komitmen, dan usaha Muhammadiyah untuk berdakwah secara langsung menggarap kelompok masyarakat di akar rumput (grass-root) yang disebut jamaah atau dalam istilah mutakhir dikenal dengan sebutan komunitas (coommunity). [9]

Karenanya dalam Muktamar ke-47 diagendakan dan diprogramkan secara khusus tentang “Model Dakwah Pencerahan Berbasis Komunitas” sebagai wujud aktualisasi Gerakan Jamaah untuk dilaksanakan dan menjadi gerakan masif dalam pergerakan Muhammadiyah ke depan. [10] Untuk itulah IPM Kabupaten jeneponto berupaya untuk membangkitkan kembali pengkajian dan bukan pengajian. Mengapa demikian? Dr. H. Abdul Mu’ti, M.Ed.(Sekretaris Umum PP Muhammadiyah) menyatakan bahwa :

“Muhammadiyah memilih istilah “pengkajian” dan bukan “pengajian” karena di dalamnya dibahas berbagai permaslahan agama ayat-ayat  qauliyah (AL-Qur’an dan Hadits) dan kauniyah ( dinamika sosial, ekonomi, politik, kebudayaan,dll), dari berbagai perspektif, bukan hanya monopolitik dari sudut pandang ilmu-ilmu agama.”[11]

Dalam “Model Dakwah Pencerahan Berbasis Komunitas” yang digagas oleh PP Muhammadiyah ada beberapa bagian dalam komnitas tersebut di antaranya adalah dakwah bagi komunitas atas, dakwah bagi komunitas menengah, dakwah bagi komunitas bawah, dakwah bagi komunitas, marjinal, dakwah bagi komunitas virtual, dakwah bagi komunitas khusus (komunitas hobi, kepentingan dan kelompok “identitas”). Perkembangan Muhammadiyah saat ini maupun ke depan dihadapkan pada model kehidupan komunitas atau jamaah yang heterogen dalam berbagai aspeknya, yang memerlukan model dakwah komunitas atau dakwah jamaah yang mengandung pemikiran, pendekatan, strategi, dan pola aktivitas baru yang lebih relevan dan aktual. Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang membawa misi dakwah dan tajdid harus tampil sebagai kekuatan pencerahan dalam memberi sibghah atau corak kehidupan masyarakat yang berubah dan berkembang dinamis itu sebagaimana menjadi komitmen gerakannya di abad kedua ini.

            Komunitas atau jamaah dalam kehidupan masyarakat Indonesia baik di perkotaan dan pedesaan maupun kawasan lain berkembang pesat dan dinamis seiring dengan perkembangan zaman yang menjadi hukum kehidupan. Komunitas (jamaah) sebagai kelompok-kelompok sosial umum yang memiliki identitas heterogen dalam masyarakat di berbagai struktur dan lingkungan kehidupan merupakan sasaran dakwah yang harus menjadi perhatian Muhammadiyah dalam sistem gerakannya, terutama ketika gerakan Islam ini memasuki abad kedua.[12]

            IPM harus mengambil bagian dalam menyukseskan program PP Muhammadiyah ini untuk bisa berpartisipasi dalam mencapai dan mampu untuk mengaktualisasikan implementasi daripada program PP Muhammadiyah tersebut yang telah dibahas dalam forum tertinggi di Muhammadiyah dalam Muktamar ke-47 Muhammadiyah di Makassar bulan Agustus tahun 2015 lalu. Model dakwah ini sebenarnya adalah model pengembangan dari Gerakan Dakwah dan Dakwah Jamaah yang kurang maksimal dalam pelaksanaannya sehingga dimunculkan kembali dengan model lain agar lebih bisa disesuaikan dengan perkembangan zaman saat ini dan demikian pula ke depannya.

  
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dari penjelasan dan pembahasan di atas kiranya ada beberapa catatan penting dalam  mengembangkan spirit keber-Islaman di IPM kabupaten Jeneponto dengan :
1.      Pentingnya penguatan di tingkat Ranting.
2.      Kaderisasi kepemimpinan di IPM.
3.      Memudarnya literasi membaca dan peradaban bagi kalangan pelajar.
4.      Dakwah pencerahan berbasis komunitas bagi pelajar.
B.     Saran
Apa yang terdapat dalam tulisan ini masih jauh kesempurnaan dan kekeliruan. Kiranya kritik dan masukan yang membangun demi melengkapi kekurangan-kekurangan dalam tulisan ini. terima kasih.



DAFTAR PUSTAKA
Anshory Ch, HM Nasruddin. Matahari Pembaruan Rekam Jejak KH. Ahmad  Dahlan. Yogyakarta. JB Publisher. 2010.
Hidayat, Komaruddin. Ungkapan Hikmah Membuka Mata, Menangkap Makna. Jakarta. Noura Books. 2013.
Majalah Khittah edisi 007 tahun III/2015.

Mundzir, Ilham. Amar, Faozan. Muhammadiyah dan Dakwah Pencerahan untuk masyarakat Kelas Menengah. Jakarta. Al-Wasat Publishing House.2013.
PP Muhammadiyah. Model Dakwah Pencerahan Berbasis Komunitas. Yogyakarta. Gramasurya. 2015.
Syaifullah.Refleksi Satu Abad Muhammadiyah. Bengkulu. PWM B-Press. 2010.
Suara Muhammadiyah edisi no.04 th. Ke-100. 2015.
Suara Muhammadiyah edisi no.09 th ke-100. 2015.




[1] Nashir, Haedar. Menghidupkan Ruh Ke-Islaman di basis Gerakan Muhammadiyah. Suara Muhammadiyah edisi no.04 th. Ke-100. 2015. Kolom BINGKAI. Hal. 12
[2] M. Muchlas Abror. Kaderisasi Kepemimpinan Muhammadiyah Suara Muhammadiyah edisi no.09 th ke-100. 2015. Kolom KALAM. Hal. 26
[3] Syaifullah.Refleksi Satu Abad Muhammadiyah. Bengkulu. PWM B-Press. 2010. Hal. 453
[4] Ibid. Hal. 458
[5] Majalah Khittah edisi 007 tahun III/2015
[6] Hidayat, Komaruddin. Ungkapan Hikmah Membuka Mata, Menangkap Makna. Jakarta. Noura Books. 2013. Hal. 281
[7] Ibid. Hal. 281
[8] HM Nasruddin Anshory Ch. Matahari Pembaruan Rekam Jejak KH. Ahmad  Dahlan. Yogyakarta. JB Publisher. 2010. Hal. 22
[9] PP Muhammadiyah. Model Dakwah Pencerahan Berbasis Komunitas. Yogyakarta. Gramasurya. 2015. Hal.3
[10] Ibid. Hal.5
[11] Mundzir, Ilham. Amar, Faozan. Muhammadiyah dan Dakwah Pencerahan untuk masyarakat Kelas Menengah. Jakarta. Al-Wasat Publishing House.2013. hal.vii
[12] Ibid. PP Muhammadiyah. Model Dakwah Pencerahan.......

MENYIKAP HOAX

Sumber : Kompasiana.com
Di era media online yang beritanya menjamur, masyarakat yang budaya literasinya rendah tampak gagap dan tergopoh-gopoh menghadapinya. Parahnya, saat ini berita hoax kian menyebar tanpa filter. Berita hoax adalah berita palsu yang ditujukan untuk menipu atau mengakali pembaca dan pendengarnya untuk mempercayai sesuatu. Fakta melimpahnya “lautan informasi” adalah siklus sejarah kehidupan yang terus berulang dan direkam Al-Qur’an dan Hadits. Satu contoh, klarifikasi (tabayyun) yang dialkukan oleh nabi Sulaiman tentang berita yang dibawa ajudannya, burung hud-hud, telah menyelamatkan negeri dan rakyat Saba’ dari serangan pasukannya (Qs Al_Naml:22-27).
Banyak riwayat mengisahkan informasi yang salah dan terlebih dulu dicek, di antaranya:
Dari Abu Zhabyan al-Janbi, didatngkan kepada Umar bin al-Khaththab ra seorang wanita yang berbuat zina. Umar memutuskan dan memerintahkan orang-orang untuk merajamnya. Wanita itu lalu dibawa melewati (Ali bin Abu Thalib ra) ia bertanya ,”ada apa dengan wanita ini?” orang-orang (tim eksekusi) menjawab, “Wanita ini telah berzina dan Umar memerintahkan untuk merajamnya” Ali lalu berpaling dari tim eksekusi dan menolak tindakan rajam tersebut. Tim eksekusi pun kembali, lalu Umar bertanya: “Kenapa kalian kembali Jawab mereka: “Ali tidak menyetujui tindakan raja mini”. Umar berkata: “Tentu mempunyai alas an tersendiri”. Umar lalu mengirim utusan pada Ali, dan Ali mendatangi Umar dengan muka agak marah, Umar berkata”Kenapa engkau tidak menolak tim eksekusi?” Jawab Ali:Aku pernah mendengar Nabi saw bersabda: “Pena pencatat dosa diangkat dari tiga hal : orang tertidur hinnkan nga bangun; anak kecil hingga ia dewasa; orang gila hingga ia sadar-waras”. Umar menjawab “ Ya”. Ali berkata :Wanita ini dari suku fulan-kabilah fulan, Mungkin saja perzinaan itu terjadi saat gilanya kambuh, :Jawab Umar : , Aku tidak tahu, “ Ali menimpa , Aku juga tidak tahu.: Umar lalu tidak jadi meramnya.”(HR.Ahmad)
Ada beberapa peristiwa dimasa nabi saw, berupa dampak negative yang tidak di tabayyun. Pertama, sewaktu umat Islam hijrah pertama kali dan tiba di Habasyah-Ethiopia, beredar kabar hoax (isya’ah) dari seorang munafik, bahwa kaum kafir di Makkah kebanyakan masuk islam. Rombongan umat Islam di Habasyah pun termakan berita itu, lalu memutuskan kembali ke Makkah, dengan harapan Makkah damai dan ramah untuk mereka. Setibanya di Makkah, berita tersebut tidaklah benar dan mereka malah disiksa kaum kafir. Kedua, ditengah perang Uhud, beredar desas-desus bahwa Nabi saw meninggal, lalu pecahlah pasukan Muslim. Ada yang pergi melarikan diri ke berbagai arah, kocar-kacir. Namun, sebagian tidak mempercayai itu, meneruskan niat perjuangan Nabi saw. padahal yang meninggal adalah Mush’ab bin Umar ra.
Ketiga, peristiwa terbesar dan direspon Al-Qur’an, dalam hal ini adalah haditsul-ifki, yaitu kabar bohong yang menimpa istri Nabi saw, Aisyah ra. Ia dituduh melakukan tindakan yang tidak senonoh dikarenakan saat tertinggal dari rombongan perang yang kembali pulang k Madinah. Ia pulang bersama sahabat bernama Shafwan bin al-Muathal ra. Kisahnya, ketika dalam perjalanan pulang, rombongan berhenti di suatu tempat, dimana Aisyah sempat menjauh dari rombongan untuk buang hajat, dan melanjutkan perjalanan yang tanpa sadar telah meninggalkan Aisyah. Shafwan yang berjalan paling belakang dari rombongan menemukan Aisyah yang saat itu tertidur. Dia pun mengenali Aisyah yang Nampak seperti bayangan hitam pada malam hari. Dia mendekati Aisyah dan kaget yang ada didepannya adalah istri Nabi saw. dia berucap Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un (kalimat Istirja’). Shafwan lalu meminta Aisyah menaiki kendaraannya tanpa ada sepatah kata pun keluar di antara keduanya. Setibanya di Madinah, menyebarlah fitnah bahwa istri Nabi telah melakukan perbuatan tidak senonoh. Nabi saw pun ikut termakan berita tersebut. Aisyah pun harus berpisah sebentar dengan Nabi dan tinggal di rumah orangtunya. Kemudian turunlah wahyu surat al-Nur:11 yang mengklarifikasi  dan sebagai pembebasan untuk Aisyiyah dari tuduhan fitnah tersebut.
Nabi Saw dalam berbagai riwayat menekankan agar Muslim cerdas dalam menyikapi informasi. Beberapa tuntunan praktis (fikih informasi) yang dapat dilakukan dalam hal ini antara lain :
a.       Menggali dan meningkatkan pengetahuan tentang bagaimana mencari, menerima, megolah, dan menyebarkan informasi yang baik dan benar sesuai nilai ajaran Islam.
b.       Melakukan penilaian awal suatu informasi dan mengolahnya, apakah terindikasi berisi pesan kebaikan amar ma’ruf nahi mungkar. Informasi tidak boleh berisikan gossip (ghibah), berita palsu (hoax), fitnah-tuduhan, hingga mengumbar aurat (pornografi), dan hal lain yang dilarang Islam.
c.       Memiliki dan menyimpan hingga menyebar-sampaikan informasi yang baik sesuai dengan nilai ajaran Islam.

“Dari Abu hurairah dari nabi saw bersabda: jauhilah prasangka, karena berprasangka adalah pembicaraan paling dusta. Janganlah saling mencari kesalahan, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi dan saling membenci. Jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara.” (HR.Al-Bukhari)

“Abu Abdillah yaitu Hudzaifah bertanya kepada Ibnu Mas’ud, “Apa yang pernah kau dengan dari Rasulullah tentang “katanya”?” Ibnu Mas’ud berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Sejelek-jelek kendaraan yang ditunggangi seseorang adalah “katanya, katanya, (ini,itu). (HR. Abu Dawud)


Nabi saw bersabda, “ kebohongan terberat ialah apabila seseorang mengaku kedua matanya melihat sesuatu di dalam tidur, padahal ia tidak melihatnya,” (HR.Al-Bukhari)

Oleh : Muhsin Rahmanto (Suara Muhammadiyah) 

IDEOLOGI YANG TERGADAIKAN

Sandi Ibnu Syam
(Ketum PD IPM Jeneponto)
Judul di atas nampaknya bagi penulis ada kegelisahan, resah, kecewa atau apalah namanya itu yang jelas semua hampir tak bisa dipungkiri. Apa yang selama ini tertanam dalam pikiran, hati itu semua menjadi sirna dalam sekejap saja. Ya.. sirna saja perjuangan itu jika hanya sebagian yang betul-betul ingin memperjuangkannya. Ideology yang tergadai seakan rapuh, keropos tak mempunyai nilai apa-apa. Itu semua karena ada kepentingan-kepentingan sesaat. Apakah karena jabatan, kekuasaan, uang, atau semacamnya. Saat ini telah kurang yang ingin meraih sebuah kebahagiaan dengan jalan yang benar tetapi yang terjadi adalah ingin meniti jalan kebaikan dengan kebatilan. Tentu itu menjadi sebuah tanda tany besar bagi kita semua. Harapan itu kembali sirna. Apalah gunanya retorika yang yang mampu menggugah audiens tetapi dibalik semua itu hanyalah omong kosong belaka. Omong kosong dengan semua itu tak ada gunanya.
Aduh kasihan perih hati ini. Baper (bawa perasaan) deh. Namun kucoba untuk tegar kembali. Ini hanyalah bagaimana kita mampu mengolah hati dari rasa benci menjadi cinta, dari kusut menjadi plong kembali. Apa yang ada dalam tulisan ini hanyalah semua refleksi perenungan dan memuntahkan rasa kekecewaan itu. Apalah dayaku, lidahku keluh tak ingin lagi bicara, tak ingin berkata-kata dengan lantang bahwa wahai kalian yang selama ini mengagung-agungkan ideology itu. Kalian kemanakan ideology itu hingga tergadai. Tak habis pikir mengapa itu sering terjadi di negeri ini.

Ada satu kata yang mampu memaknai dari semua rententan kejadian yang terjadi selama ini yaitu kata “konstalasi”. Sampai detik ini kata konstalasi sering bertentuman di telingaku. Dan anehnya kata itu sampai saat ini saya belum tahu artinya. Konstalasi yang terbangun hari ini saya yakin dan percaya bahwa awal dari niatnya ada yang tidak beres dalam mengawal konstalasi tersebut. Jika demikian apalah arti dari sebuah pemaknaan tanpa pemahaman yang jelas apalagi ideology ini runtuh seketika.

Semoga di sore hari ini diselimuti angin sepoi-sepoi di sebuah gedung kampus di Jeneponto mampu menjawab kegundahan hatiku. Jika aku pernah dirundung rindu dengan kekasih tercinta yang telah pergi dengan hati yang pilu tak sembuh dari kemalangan. Tetapi ini lebih sadis dan bisa dikatakan tak termaafkan. Aku hanya satu diantara sekian banyak orang dikecewakan. Tetapi sekali lagi apalah dayaku. Saya mampu mengungkapkan itu lewat tulisan. Untungnya itu tips ibunda Siti Rimang” dari bukunya yang berjudul “menulis seindah bernyanyi”, beliau adalah dosen saya ketika semester empat dan waktu itu memberikan arahan dan motivasi dalam menulis. Lagi-lagi semoga itu mampu terwakilkan dari apa yang saya rasakan saat ini. Saya hanya tak habis pikir mengapa demikian terjadi lagi.

Hingga detik ini hatiku semakin tak menentu saya merasa ada ganjil dari semua rentetan kejadian selama beberapa hari ini. Biarlah semua orang tahu bahwa ini masih jauh dari harapan kita bersama. Saya yang tadinya gerah karena kepanasan namun itu hampir berangsur-angsur hilang akibat cuaca bersahabat sekali denganku. Entahlah kulihat juga rerumputan bergoyang dan menari-nari dengan indahnya. Tetapi itu semua belum mampu menjawab semua pertanyaan-pertanyaanku.

Dari kejauhan saya mendengar lantunan ayat Al-Qur’an dengan murattal dari menara sebuah Masjid yang dipasangi speaker semoga itu dapat mengurangi kegundahan hatiku. Alamak, mengapa cepat sekali dimatikan saya masih ingin mendengarnya. Tetapi apalah dayaku saya tak berada di Masjid sebelah. Suasana sore ini kampus ini begitu lengang, namun masih ada beberapa Mahasiswa yang beraktivitas kalau tidak salah dari AMPALA (Aksi Mahasiswa Pecinta Alam) YAPTI TURATEA Jeneponto. Kampus ini berada tepat di persimpangan jalan Provisi yang beralamat di Belokallong no.1 jika saya tidak melihat apa yang pernah tertera di pintu gerbang kampus ini.

Saya terus berusaha menenangkan hati dan pikiran agar tidak terpenjara serta tidak dipengaruhi oleh syaithan yang berwujud iblis atau jin. Mudah-mudahan. Apa yang ada dalam tulisan ini hanyalah sebuah pengejewantahan apa yang selama ini terjadi. Keikhlasan itu susah terwujudkan dalam setiap langkah dan aktivitas apa yang kita kerjakan. Sebisa mungkin keraguan itu dihilangkan sebab semua itu awal dari kegagalan. Kata Bang Lawa (Muh. Syahrir Sarea) tidak ada kata gagal dan mengeluh. Nampaknya mudah terucap di lisan kita tetapi realisasi dari kalimat tersebut susah sekali diwujudkan. Masih Bang Lawa beliau pernah berucap kepadaku saat berdiskusi denganku, Bang Lawa bersabda, “saya tidak terlalu memerlukan hasil tetapi yang perlu itu adalah proses dalam stiap pergerakan dan aktivitas yang kita lakukan. Saya dengan takzim menyimak sabda-sabda Bang Lawa dengan takjub dan tergugah hatiku. Boleh jadi itu cerminan dari kepribadian Bang Lawa setiap melontarkan sabda-sabdanya. Satu lagi Bang Lawa pernah berucap “saya jika dibenci dengan seseorang lantas apa yang saya lakukan itu sebuah kebenaran maka tunggu akan ada sesuatu yang terjadi”. Mantap itu adalah sebuah prinsip yang harus ditegakan.

Kayaknya ada yang terlupakan, Bang Haspian mengapa lama sekali. Saya sudah lama menunggu di ruangan 2 sebuah kelas Mahasiswa tetapi hanya bangku yang tak beraturan ditambah sampah berserakan dimana-mana. Kata orang bijak, orang sabar disayang Tuhan. Entah mengapa kalimat ini sering dilontarkan oleh siapa saja jika kesabarannya tidak ada lagi. Hal itu hampir kena dengan saya atas kata bijak tadi. Daripada saya lama menunggu. Lebih baik saya menulis saja agar terbiasa menuliskan kisah perjalanan hidupku. Kata Bang Beni Pramula dalam bukunya, Mengukir Sejarah Merawat Peradaban beliau berucap dengan lantang bahwa sejarah adalah apa yang kita torehkan hari ini untuk generasi mendatang, menulisnya dengan tinta emas atau catatan kelam. Ngerih juga yach ucapan dari Mantan DPP IMM Periode 2012-2014. Kalimat tersebut sejalan dengan apa yang pernah dilontarkan oleh Bapak Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga, Edi Irate, SH, MM. beliau bersabda, berbuatlah saja dulu hasilnya nanti kami lihat. Kayak Nabi Muhammad saw dalam setiap haditsnya yang diriwayatkan oleh pecinta hadits seperti Imam Bukhari, Imam Muslim Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Majah, Ahmad, dan lain lainnya. Dalam buku hadits mereka terjemahan Indonesia selalu ada kata “Sabda”.

Bang Lawa baru-baru ini kembali bersabda, saya ingin membuat history bahwa kita pernah berangkat bersama dan history itu suatu saat nanti menjadi lembaran-lembaran yang kita jalani saat ini itu terbuka dan ketika semua itu terbuka ada saya, Sandi, Haspian. Oleh karena itu, untuk memulai semua itu kemana kita akan melangkah, dengan siapa kita melangkah, apa yang kita bawa kesana dan apa tujuan kita. Betul sekali Bang Lawa, saya ingin menambahkan bahwa saya ingin membuat sejarah atau history dengan tinta emas bukan dengan catatan kelam. Harapku sih gitu.
Kulihat Bang Ketua (Haspian) telah keluar dari persembunyiannya. Tak lama kemudian Pak Sek (Hafid, Sekretaris IMM Jeneponto) tiba-tiba datang kemudian bertemulah masing-masing pucuk pimpinan. Saya menoleh kemudian kembali focus di depan Buku elektronikku yang berwarna putih usianya telah memasuki 11 tahun. Alamak, ternyata benda ini sudah berumur 11 tahun. Tak kusangka dan tak kuduga. Tetapi satu hal harus Anda sekalian tahu ya bahwa buku elektronikku ini yang telah membuatku mampu menciptakan sejarah dalam hidupku. Walau saya tahu buku eletronikku ini baru menemani saya selama tiga tahun terakhir ini. Pantesan sering membuat kepalaku pusing dibuatnya karena LCD-nya bermasalah dan juga fleksibelnya juga ikut bermasalah. Saat menulis tulisan ini saja saya dibuat repot lagi. Tetapi tidak mengapa yang terpenting ia masih setia dimanapun saya berada NB (Notebook) ini selama ada.

Dari kejauhan saya mendengar mereka bercakap-cakap dengan santai tentang persiapan Wisuda mereka yang sempat tertunda dan masih ada beberapa administrasi yang belum selesai. Itu urusan kampus mereka jadi wajar mereka harus terus menanti hingga waktu itu tiba. Ya iyalah, masa ia dong. Mereka sangat menanti akan diwisuda. Saya dapat bocoran bahwa mereka akan diwisuda di Gedung Sipitangarri. Bolehlah bisa muat tiga ratusan orang.  Entah apa yang terjadi sehingga mereka yang dari tahun lalu menurut kalender akademik lulus dan wisuda. Eh nyatanya tahun ini baru ada rencana tersebut. Kulihat dari tadi tampak beberapa orang sedang berkumpul dengan tiga barisan teratur di pandu beberapa orang di depannya sambil bernyanyi lagu Indonesia Raya dan lagu lainnya yang mirip nadanya dengan Lagu Partai Nasdem. Dan tahukah Anda itu lagu Mars Kampus YAPTI yang dinyanyikan oleh sekelompok paduan suara persiapan Wisuda. Suara mereka ibarat burung yang berkicau menyambut datangnya senja yang berbeda-beda sambil melangkah kesamping dan ke depan.

Oh iya saya sudah tahu sedikit tentang makna “konstalasi”. Saya ambil dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “konstalasi”. /kon·ste·la·si/ /konstélasi/ n 1 kumpulan orang, sifat, atau benda yang berhubungan; 2 keadaan, tatanan: -- politik di Eropa; 3 bangun; bentuk; susunan; kaitan; 4 gambaran; keadaan yang dibayangkan: dalam negara demokratis, pemerintah sedapat mungkin mencerminkan -- kekuatan yang ada dalam masyarakat. Kata “konstalasi” ini tadi menurut etimologi (bahasa). Sedangkan menurut terminology “konstalasi” saya tambahkan satu kata “politik” agar lebih mengerucut apa yang menjadi tulisan saya ini. Jadi, “konstalasi politik” mempunyai 10 kata terkait yakni sebagai berikut:
1.    Poliitik
Berasal dari bahasa Yunani polisteia. Polis berarti kota/Negara kota yaitu kesatuan masyarakat yang mengurus dirinya sendiri dan teia artinya urusan. Segala sesuatu yang berkaitan dengan urusan yang menyangkut kepentingan dari se-kelompok masyarakat atau Negara. Selanjutnya beberapa pandangan politik diantaranya: 1) usaha yang ditempuh warga negara untuk membicarakan dan mewujudkan kehidupan bersama segala hal yang berkaitan dengan negara dan pemerintah 2) segala kegiatan untuk memperoleh dan mempertahankan ke-kuasaan 3) segala kegiatan untuk merumuskan dan melaksanakan ke-bijakan publik atau masyarakat umum 4) suatu konflik dalam rangka mencari dan mempertahankan dari sumber-sumber yang penting 5) kegiatan yang berkaitan dengan masalah siapa mendapat apa, kapan, dan bagaimana.

2.    Konstalasi Politik
Bentuk bangunan politik atau keadaan dan perkem-bangan kehidupan politik
3.    Politik Etis
Politik balas budi yang dilakukan oleh Belanda kepada Indonesia meliputi tiga hal yaitu edukasi (bidang pendidikan), irigasi (bidang pengairan atau pertanian) dan trans-migrasi (perpindahan penduduk). Pada pelak-sanaannya politik etis mengalami penyim-pangan dengan ditujukan hanya untuk kepentingan Belanda sendiri.
4.    Politik Lebensraum
Politik yang dijalankan oleh Adolf Hitler dengan cara mencari daerah ruang hidup yang lebih luas untuk dikuasai.
5.    Politik Adingadigung
Politik kekuasaan yang dijalankan secara arogan dan sewenang-wenang, bersikap sombong dan anti kritik. Istilah ini ditujukan kepada Soeharto, penguasa orde baru selama 32 tahun.
6.    Politik Aliansi
Politik mencari kawan negara setelah terjadi perang dunia II yang akhirnya memuculkan blok-blok.
7.    Politik bermuka dua
Politik yang berupa siasat dengan memperlihatkan sifat tidak jujur karena ingin mendapat keuntungan dari dua belah pihak yang sedang bersengketa. Siasat politik ini ditujukan untuk meraih simpati dari kedua belah pihak sekaligus mendapat keuntungan dari keduanya.
8.    Politik daging sapi
Politik tawar-menawar me-ngenai jabatan kekuasaan atau kursi menteri dalam kabinet. Biasanya, hal ini dilakukan bila terjadi koalisi antar partai untuk membentuk pemerintahan yang kuat.
9.    Politik isolasi
Politik menutup diri yang pernah diterapkan oleh Jepang untuk menolak pengaruh asing, agama asing dan menyatakan wilayah Jepang tertutup bagi orang asing serta orang Jepang dilarang bepergian ke luar negeri.
10. Politik Mercusuar
Politik yang dijalankan pada masa Soekarno yang lebih mementingkan keme-gahan dan kehebatan Indonesia yang ditun-jukkan kepada dunia luar negeri atau dunia internasional. Contohnya pembangunan Gelora Senayan yang menelan biaya yang sangat mahal.

Saya yakin dan percaya di anatara semua sepuluh macam konstalasi politik di atas yang menyerupai apa yang selama ini terjadi beberapa hari ada yang pas dan sesuai dengan apa konstalasi yang terjadi. Jika di perpipaan air dan lampu ada yang dinamakan “instalasi” yang mempunyai makna jalur atau alur setiap yang dilewati air atau aliran listrik tersebut. Sedangkan “konstalasi” sendiri itu adalah jalur atau alur yang ditempuh seseorang dalam menggapai apa yang dicita-citakannya.

Sehubungan dengan itu maka ideology yang selama ini dibangun dari pondasi kuat akhirnya tumbang juga akibat tergadaikan dengan rupiah. Serendah itukah kita lantas kita ingin mengambil tanpa pemikiran yang matang atau malah sebaliknya. Bolehlah kita miskin harta tetapi jangan pernah miskin harga diri dan kehormatan kita kepada orang lain. Kita terkadang mudah goyah karena kita sementara terpojokkan atau apapun itu. Ideology harus tetap terjaga apapun yang terjadi tentunya dengan memohon kepada Tuhan semesta alam. Sekali lagi mari bangun kembali pondasi itu dengan mengambil ibrah dari apa yang telah terjadi. Toh kita tidak akan mungulang semua apa yang kita lakukan dari kemarin-kemarin tetapi bagaimana kita semua mampu bermuhasabah dan hijrah menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya.

Perlu diingat semua itu tidaklah mudah seperti membalikkan telaapak tangan kita perlu usaha keras dan tekun serta keuletan kita dalam mengambil langkah-langkah strategis dan mengambil peran-peran strategis untuk masa depan yang lebih cerah dan mencerahkan sebagai pencerahan untuk kita semua. Itu kita mulai dari masing-masing individu. Akhirnya sudah mau maghrib ini saya dan Bang Ketua ingin bergeser ke rumah Bang Lawa mengambil kompor milik keluarga Bang Ketua Haspian. Kami pun bergegas menuju rumah Bang Lawa dengan menaiki kuda besi berwarna hitam.