Kata Mutiara

Tidak akan kembali hari-hari yang telah berlalu

Selasa, 27 Juni 2017

KECEWA, ITU BIASA


Sandi Ibnu Syam


            Hari ini langit begitu cerah tak satu pun terlihat tanda-tanda akan turunnya hujan, Matahari begitu sangat memikat dan bisa memukau siapa saja yang meneropongnya. Pancaran sinarnya dapat menembus kulit-kulit manusia akibat dari sengatan sinar dan pancarannya. Sungguh Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Pepohonan seakan ikut bergembira karena dapat melakukan fotosintesis untuk menambah kualitas makanannya. Ditambah binatang juga ikut bergembira sebab mereka dapat mencari makanan disana sini sebagai kelangsungan hidupnya. Tak jarang, merekapun bersorak kegirangan akan semua yang didapatkannya. Begitupun dengan makhluk lain yang istimewa dari kedua makhluk yang Aku sebutkan tadi. Yah, ia biasa disebut dengan sebutan “manusia” yang mampu beradaptasi dengan lingkungannya tak ketinggalan tumbuhan dan binatang juga dapat beradaptasi dengan lingkungannya.
            Manusia yang mempunyai akal dan nafsu sebagai bentuk kesempurnaannya. Bahkan ada yang mengatakan karena ketidaksempurnaannya manusia itulah ia disebut sebagai makhluk yang sempurna. Tak pelak, ini yang mesti jadi perhatian bagi mereka yang disebut sebagai manusia. Tentu saja, manusia adalah sebagai wakil Tuhan di muka bumi atau sebagai seorang khalifah di muka bumi untuk mengatur segala urusan dan system yang ada dalam jagat raya ini dinamakan bumi. Tuhan menempatkan manusia untuk mendapatkan fasilitas dunia yang ada di muka bumi untuk dapat dikelola dengan baik dan benar sesuai apa yang telah dituntunkan Tuhan kepada makhluk hidup yang bernama manusia.
            Dengan akal manusia mampu melakukan apa saja yang bisa dilangsungkan di bumi ini dengan akal tersebut manusia mampu untuk berpikir dan memikirkan apa yang harus dilakukannya di bumi ini. Manusia dengan sebaik-baik bentuk ciptaan Tuhan ia dapat melakukan berbagai kreasi dan inovasi serta mempunyai motivasi yang ada dalam dirinya untuk bisa bertahan hidup salah satunya dengan mampu mengelola apa yang ada di muka bumi ini. Mudah-mudahan dengan segala potensi yang diberikan Tuhan padanya sebagai manifestasi dapat membuat suatu peradaban dan kebudayaan yang bisa mengantarkan menjadi manusia yang betul-betul mampu bertransformatif dengan segala fenomena-fenomena yang ada disekitarnya.
            Artinya apa, manusia tidak hanya sebagai makhluk individu tetapi ia juga makhluk social yang dapat melangsungkan hidup dengan bantuan sesama makhluk yakni “manusia”. Dengan bantuan dan pertolangan manusia lain dapat meringankan segala beban dan tanggungjawab yang diembannya. Dengan potensi akal yang diberikan padanya mampu berpikir bagaimana ia dapat menolong sesamanya tanpa memikirkan hal-hal lain hanya demi hidup bermasyarakat. Manusia mulai dari awal hidupnya sangat membutuhkan orang lain. Mengapa demikian? Karena manusia sekali makhluk yang sangat membutuhkan orang lain. Mereka harus hidup berkelompok antara satu dengan yang lainnya. Tak perlu basa – basi bagaimana ia harus berkelompok mereka mengikut dengan system yang telah disepakati bersama tanpa ada yang didiskrimatif. Oleh karena itu, kolektifitas itu sangat diperlukan dan juga kolegial dan partisipatisipan manusia lain agar apa yang dicita-citakannya menjadi sebuah realisasi dari apa yang telah dibuatnya.
            Hal ini hampir sama dengan apa yang ada dalam IPM. IPM adalah sebuah wadah, tempat, organisasi, yang di dalamnya telah diatur sedemikian rupa dengan segala aktivitas yang akan dilakukan. Tentu mengacu pada kaidah organisasi baik yang ada dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga maupun ketetapan-ketetapan lain yang sesuai dengan kaidah organisasi. Segala program yang ada dalam IPM harus terpenuhi dengan segala ketentuan yang berlaku dan bisa menjadi acuan serta evaluasi dari setiap rentetan kegiatan yang akan dilaksanakannya. Tak perlu terlalu muluk-muluk atau konsep yang sangat teratur tetapi bagaimana dari setiap konsep tersebut dapat terealisasi dengan baik sesuai dengan apa yang diharapkan. Lalu, kira-kira bagaimana dengan konsep yang telah dibangun bersama hingga akhirnya menjadi sebuah keniscayaan tanpa ada realisasi. Inilah yang menjadi pekerjaan rumah bagi mereka yang berada di dalamnya tentu dengan kembali memikirkan langkap apa yang selanjutnya harus dilakukan dan sesuai kembali dengan perencanaan.
            Jika ditarik ke IPM terkhusus kepada Pimpinan Daerah Ikatan Pelajar Muhammadiyah Kabupaten Jeneponto masih sangat minim dan masih jauh dari apa yang diharapkan. Sekali lagi kepemimpinan di IPM Jeneponto masih sangat fluktuatif dan ini menjadi pekerjaan yang berat jika hanya beberapa orang saja atau bahkan jika hanya satu orang yang harus mengerjakan segala pekerjaan tanpa melibatkan orang yang ada disekitarnya. Idealnya, setiap bidang mempunyai amanah dan tanggungjawab masing-masing tetapi sampai saat ini. hanya sepersekian yang mau betul-betul menghidupkan IPM yang ada di Jeneponto. Meski tidak bisa dipungkiri bahwa hampir setiap personil yang ada di IPM Jeneponto mempunyai kesibukan masing-masing. Baik kesibukan dari orang tua, guru atau siapa saja bahkan tak jarang karena urusan pribadi masing-masing. Tetapi apakah tidak ada waktu sejenak untuk memikirkan apa yang harus dilakukan dalam Ikatan tercinta. Jika IPM memang tak mampu membahagiakan diri masing-masing. Tetapi, jika dipikir-pikir IPM mampu mengantarkan semua yang di dalamnya menjadi orang-orang hebat yang tidak dapat dipandang sebelah mata. Hanya bagi mereka yang mau betul-betul ingin berjuang di IPM. Tidak sedikit dari mereka yang pernah berkecimpung di IPM menjadi orator ulung, PNS, Anggota DPR, Guru, Insyinyur, Polisi, Tentara, Dokter, Professor, Dosen, Peneliti dan lain-lain sebagainya. Mereka semua dapat membuktikan dengan segala apa yang diperoleh lewat IPM. Tetapi, tak bisa dipungkiri juga banyak yang masuk di IPM hanya sebatas anggota biasa tak melakukan apa-apa untuk IPM. Bahkan seperti pakaian jika telah pudar tak dipakainya lagi. padahal mereka telah dibekali bagaimana mereka mampu mengetahui hal-hal yang belum diketahuinya.
            IPM Jeneponto sebenarnya telah banyak melahirkan pemimpin-pemimpin tetapi satu hal yang tidak bisa dipungkiri mereka belum maksimal dalam managemen dalam kepemimpinan sehingga inilah salah satu pemicu IPM Jeneponto hanya mampu terus melahirkan kader-kader tetapi dalam hal kepemimpinan masih sangat jauh dari harapan. Dari sekian harapan-harapan yang telah ditanamkan akhirnya sedikit demi sedikit timbul rasa kekecewaan yang sangat luar biasa. Tak pelak, termasuk diriku seringkali menemukan kekkecewaan yang sangat dahsyat yang akhirnya banyak mutiara-mutiara yang dihasilkan bukan yang ada di dasa lautan tetapi berasal dari dua bola mataku. Tak bisa Aku tepiskan jika hanya Aku sendiri yang terus mengalaminya. Aku terus mencoba menepisnya dengan melakukan yang Aku anggap bisa memicu lagi semangat hidup dalam ber-IPM salah satunya adalah dengan menuliskan rasa kekecewaan itu dalam bentuk tulisan agar ia menjadi pengobat rindu dikala dirundung pilu dan kecewa sebab hati yang tersakiti oleh hati yang lain, bukan karena putus cinta oleh seorang perempuan.
            Aku sering berpikir betapa sulitnya amanah yang kupikul ini jika hanya seorang diri. Pernah terpikirkan olehku untuk lari dari amanah ini guna menenangkan jiwa dan hati dari kegundahan-kegundahan yang menghampiri. Biarlah orang mengatakan Aku BAPER (Bawa Perasaan) atau apalah namanya. Aku hanya ingin berbagi kekecewaan yang Aku alami ini kepada mereka yang peka terhadap mereka yang menjadi tanggungjawabnya. Mereka harusnya tahu bahwa organsasi ini bukan abal-abal atau sebuah permainan senda gurau. Tulisan sebelumnya Aku menulis dengan judul “Mana Nyalimu Ber-IPM”, sebagai bentuk kekecewaan yang sangat mendalam tetapi sampai kini. Mereka hanya berkicau seperti mengungkapkan konsep yang tanpa makna apa-apa. Bukan berarti apa yang Aku lakukan telah sempurna tetapi dari sinilah semua mengambil pelajaran bahwa semestinya diakukan dengan kolektifitas bukan dengan seorang atau beberapa orang saja yang mau berbuat IPM.
            Aku harus menahan derasnya kekecewaan ini, dengan terus berlapang dada karena setiap kesulitan yang Aku alami ini aka nada hikmahnya jika harus Aku tanggung sendiri kekecewaan ini biarlah menjadi penghias dalam kehidupanku dan semoga itu menjadi cerita indah nantinya. Meski tidak tahu kapan harapan yang diidam-idamkan itu tercapai. Jika harus dengan merangkak berlari Aku akan terus mengejar mimpi-mimpi yang selama ini Aku bangun tahap demi tahap. Meski Aku harus kembali menemukan titik kekecewaan nantinya. Aku akan membiarkan kekecewaan-kekecewaan itu tumbuh menjadi sebatang pohon yang lebat daunnnya dan buahnya hingga akhirnya Aku memetik secerca harapan walau tinggal setitik saja. Aku akan terus mencoba mengambil ibrah dari setiap rentata kejadian yang Aku alami. Sekali lagi, jika Aku tanggung sendiri biarlah itu menjadi kenangan yang nantinya bisa menjadi pemantik akan kelangsungan IPM Jeneponto ke depan.
            Aku juga pernah terpikirkan setelah mengadakan Pelatihan Kader Muda Taruna Melati II yang akan dilaksanakan di SMK Muhammadiyah Jeneponto pada 3 – 8 Juli mendatang. Aku ingin rehat sejenak di IPM lalu focus memikirkan yang lain. Apalagi Skripsi belum rampung untuk kuperbaiki ditambah amanah dari sekolah dan orang tuaku serta rasanya ingin betul-betul memenuhi panggilan dari Pimpinan PUT Unismuh Makassar untuk ke daerah lain selain di Jeneponto. Jika demikian halnya Aku akan mencoba untuk memenuhi apa yang diharapkan oleh Pimpinan PUT Unismuh Makassar. Bukan hal yang tak mungkin Aku ini memang salah satu anak panah Muhammadiyah Sulsel lewat PUT Unismuh untuk ditempatkan dimana saja bahkan termasuk di Pulau Jawa, Kalimantan, Papua , Sumatra bahkan termasuk Sulawesi sendiri yang terbagi-bagi dalam setap provinsi. Semua harus tahu bahwa Aku hanya mengulur-ulur waktu untuk tidak ke daerah lain bukan karena alas an yang tidak penting dan mendesak tetapi Aku mengulur-ulur waktu untuk bagaimana Muhammadiyah di Jeneponto termasuk IPM. Namun, nyatanya hampir saja tak ada kegiatan sama sekali yang dilakukan oleh Muhammadiyah. Bukan maksud untuk protes atau apalah namanya. Semua itu nyata di depan mata. Walau semua harus sedikit lega karena PUSDAM (Pusat Dakwah Muhammadiyah) sedikit demi sedikit ada perubahan tetapi itupun belum signifikan dan masimal. Oleh karena itu, Muhammadiyah masih berkutat pada yang klasik, seperti kurangnya pertemuan atau pengajian yang dilakukan itu masih sangat jauh dari harapan yang dibutuhkan. Boleh jadi, karena kesibukan masing-masing yang seluruh anggota Muhammadiyah PNS sehingga untuk bertatap muka dalam sepekan saja susah apalagi dalam dua pecan atau bahkan sebulan sekali. Itupun masih sangat susah dilakukan. Sekali lagi, bukan maksud untuk apa dan bagaimana. Penguatan internal sampai saat ini jarang untuk dilakukan dan membutuhkan waktu yang khusus untuk dilakukan walau harus itu saja masih sangat susah dilaksanakan.
            Menunggu itu pekerjaan yang sangat mudah dilakukan namun sangat membosankan jika harus terus menunggu datangnya orang-orang yang diharapkan kedatangannya. Sampai saat ini Aku terus menunggu hingga tulisan ini terus mengalir bagaimana mata air yang keluar dari sarangnya. Masih saja hasilnya nihil, tidak ada yang datang. Aku telah mencoba menelpon tapi hanya sebagian kecil itupun mereka masih sibuk dengan urusannya masing-masing. Ada juga yang ditelpon tidak di angkat-angkat. Aku berpikir positif saja. Barangkali mereka ada kesibukan atau tidak berada di dekat HP-nya saat Aku telpon. Mudah-mudahan bukan ingin menghindar dariku saat telponku menyapanya. mudah-mudahan tidak, harapku. Terkadang punggungku sakit saat menuliskan kata demi kata bait demi bait. Aku sesekali istirahat menulis untuk merefresh badanku yang mulai pegal-pegal akibat terlalu banyak menunggu dan memang karena telah lama menulis. Yah, lewat tulisan kuungkapkan rasa kekecewaan ini. Lidahku terlalu keluh untuk berucap. Apalagi memang Aku tak cakap dalam beretorika dan mengungkpakan isi hati ini lewat lisanku. Sekali lagi, Aku terlalu kaku untuk berucap dengan kata-kata yang pas dan sesuai dengan apa yang Aku harapkan. Aku tak ingin membuang-buang energiku dengan terus berucap mendingan lewat tulisan saja. Agar mereka dapat membaca kapan dan dimanapun mereka berada. JIka lewat ucapan lisan mereka gampang untuk melupakannya. Namun jika lewat tulisan mereka dapat menyimpannya dan sewaktu-watu dapat membacanya kembali. Walau Aku tahu pelajar IPM di Jeneponto masih kurang yang berminat dalam hal tulis-menulis. Boro-boro mau baca melirik saja susah sekali. Boleh jadi benar kata orang bahwa rata-rata orang Indonesia Cuma melirik judul tulisannya saja, Kemudian sesaat, jauh dari pandangannya. Nasib ya nasib mengapa begini. Alamak, Mengapa Aku menyanyi. Tidak apa-apalah itu hanya sebagai pelipur lara dari rasa kekecewaanku. Katanya sih dengan mendengar lagu stress bisa hilang. Mendengar saja lagu stress bisa hilang apalagi dengan mendengarkan Murattal dan paling bagusnya lagi kita semua yang mengja dengan cara murattal untuk menenangkan jiwa yang tersakiti agar kita lebih dekat dengan Tuhan yang menciptkan kita semua.
            Sampai saat ini, Aku butuh petunjuk dari Kakanda-kakanda atau sesepuh IPM bagaimana membangkitkan gairah keber-IPMan mereka yang telah menjadi anggota IPM untuk mau berjuang di IPM. Sampai kini Aku ingin memaparkan analisis SWOT IPM dengan para personil PD IPM Jeneponto, naun itu semua jauh panggang dari api. Itu semua hanyalah angan atau impian yang seakan-akan membayangiku setiap hari. Cui, seperti saja orang jatuh cinta memikirkan si doinya. Jika dipikir-pikir IPM ini seperti halnya kekasih. Jika demiian, Aku ingin menjadikan IPM sebagai kekasih hatiku dan akan menjadi pujangga dalam setiap bait cintaku. Tidak apa-apalah daripada memikirkan anak orang lain yang belum tentu jodohku. Lebih baik untuk sementara waktu bahkan hingga akhir hayatku biarlah IPM selalu menjadi kekasihku yang sangat butuh perhatian dan kasih saying yang lebih. Itu Cuma bagi mereka yang mau berjuang di IPM. Tabe, bukan maksud riya’ tetapi itu hanya sebatas untuk bagaimana IPM ini menjadi organisasi pelajar garda terdepan di Kabupaten Jeneponto. Dan itu butuh pengorbanan yang tidak sedikit baik, tenaga, materi,pikiran bahkan jiwa yang akan dipertaruhkan untuk bagaimana IPM di Jeneponto bisa mencapai kejayaannya.
            Akhirnya, sedikit demi sedikit rasa kekecewaan itu menghilang lewat tulisan ini, juga kegelisahan yang menghampiri seakan telah menjauh dari diriku boleh jadi ia pergi karena Aku bisa mengalahkannya. Kiranya tulisan ini mudah-mudahan menjadi renungan kembali bagi setiap kader IPM Jeneponto untuk dapat terus merefleksi dari setiap rentetan kegiatan yang aan dilaksanakan walau sampai saat ini IPM Jeneponto belum melaksanakan raker. Tetapi sekali, mari terus ber-IPM agar IPM tetap jaya di tangan para pejuang sejati. Di tempat ini (baca:PUSDAM) akan menjadi saksi bisu dikala Aku menunggu kalian semua para pejuang sejati IPM. Hari ini, Selasa, 27 Juni 2017. Tempat Aku menunggu kedatangan kalian sobatku. Kecewa bagiku itu sudah biasa. Mari Bermuhasabah
           
           

Selasa, 13 Juni 2017

MANA NYALIMU BER-IPM?


Sandi Ibnu Syam

 
Sebuah benda terus mengitari sudut-sudut ruang menerbangkan sesuatu yang tak terlihat bentuknya bundar dengan pegangan besi yang kokoh menempel di dinding berwarna hijau muda. Itulah kipas angin. Di ruang yang luasnya kira-kira 4x7 di dalamnya ada sebuah tv, dispenser dan gallon,  baskom, gelas, sendok, meja, kursi, buku catatan, alat peraga, jam dinding, sebuah almari tempat penyimpanan berkas-berkas penting, papan tulis, lemari dan lain-lain.
            Di tempat inilah Aku biasa membaringkan tubuh yang lelah atau sekedar istirahat sejenak. Nyatanya itu adalah sebuah kantor. Sebuah tempat untuk pertemuan atau rapat bagi orang-orang yang tak kenal lelah mengurus umat demi keberlangsungan hidupnya dan demi sebuah penyelamatan nyawa yang hampir tak tertolongkan. Ya, mereka Aku sebut pejuang sejati, mereka anggota SSR (Sub-Sub Recipient) Aisyiyah Jeneponto.
            Di luar sana masih terasa mendung, sesekali Aku mendengar suara-suara mesin yang lewat di jalan. Pohon-pohon seakan-akan tertunduk patuh pada pencipta-Nya tak ada di antara mereka yang ingin menggoyangkan daunnya walau sehelai saja. Boleh jadi mereka sementara bertasbih dengan Tuhan-Nya. Kulihat jam dinding telah menunjukkan pukul 06.20 yang berwarna putih merek DELTA.
            Sehabis shalat subuh hingga detik ini. Suasana hatiku masih terbawa arus oleh kejadian kemarin lalu tepat tanggal 12 Juni 2017. Sebuah momentum bagiku dalam merefleksi sebuah pergerakan pelajar dimana Aku bagian yang ada di dalamnya. Pergerakan Pelajar itu bernama IPM (Ikatan Pelajar Muhammadiyah) adalah organisasi yang bergerak di bidang dakwah khusus kalangan pelajar.
            Baru kali ini Aku mengadakan sebuah kegiatan yang membuat diriku pilu tak berkesudahan dan tak tertahankan rasa di hatiku. Jika ini adalah sebuah ajang unjuk gigi nyatanya pun tidak. Kegiatan ini direncanakan sekitar satu bulan yang lalu telah diadakan sosialisasi ke sekolah-sekolah Muhammadiyah untuk ikut meramaikan kegiatan tersebut. Undangan telah tersebar dimana-mana. Namun, pada akhirnya kegiatan tersebut bagai apa ya Aku tak bisa membayangkan bagaimana kejadian tersebut. Aku tidak bisa membuat sebuah perumpamaan yang cocok dalam memberikan ilustrasi. Sebab memang Aku bukanlah orang yang mempunyai keahlian itu semua.
Tak habis pikir harapan itu hampir sirna begitu saja, rasa kecewa, sedih, gelisah, tangisan, berkecamuk dan menjadi satu. Tubuhku ikut lemas dan lunglai apalagi memang tubuhku kecil semakin tambah kecil lagi. Pikiranku tak terkendali, syaitan kayaknya langsung merasuki tubuhku dan berpikir yang bukan-bukan. Tetapi ku berharap setitik cahaya itu masih ada dalam jiwaku hingga akhirnya Aku masih bisa mengendalikan diriku. Sebab memang Aku juga puasa sehingga ini menjadi penopang dalam mengontrol diri. Andaikan saja Aku masih kecil apapun yang ada di depanku hancur lebur dan sebuah menjadi berantakan. Hatiku terus meronta dan beringas ingin memukul meja, ingin melempar kursi, ingin apalagi ya. Aku tak tahu lagi.
Naluriku pun muncul, air mata ini jatuh tertumpah Aku segera masuk di PUSDAM duduk di kursi dan alhasil butiran-butiran mutiara di mataku ini tumpah melewati wajahku. Hanya Aku sendiri dan hanya mereka yang tahu keadaan yang menimpa diriku. Tak banyak yang tahu berapa harga dan jiwa ini kuperjuangkan untuk membangun organisasi ini. Aku tak bermaksud ingin di puji karena pujian itu hanyalah kepada Allah. Aku hanya membutuhkan orang-orang yang mempunyai rasa kecintaan kepada organisasi ini. Nyatanya toh hanya sebagian kecil saja yang betul-betul berjuang di organisasi ini.
Hari itu mulai pagi hingga menjelang siang tak ada batang hidung yang ingin mendaftar untuk ikut kegiatan tersebut. Aku konfirmasi lewat telpon hasilnya nihil. Aku terus meminta petunjuk kepada salah satu kakanda yang terus memberikan dukungan dalam kegiatan tersebut. Tetapi apalah dayaku. Aku hanyalah manusia biasa yang tak sempurna. Semua kegiatan Aku batalkan. Titik. Aku mulai menulis di HP-ku sebuah sms untuk memberitahukan kepada semua orang bahwa kegiatan tersebut dibatalkan.
Jika hari ini MATAHARI telah memancarkan cahayanya ke seantero bumi. Maka mereka yang berada dibawahnya akan diberikan kehangatan CINTA. Dan Aku sangat berharap Aku masih diberi kehangatan CINTA oleh Tuhan untuk berbuat sesuatu yang lebih baik. Aku tahu tak ada gading yang tak retak seperti itulah diriku jua. Saat ini, kejadian kemarin masih basah diingatanku. Sebuah fenomena yang tak kuharapkan terjadi tetapi nyatanya kejadian tersebut betul-betul terjadi.
Aku sangat malu pada semua pihak terutama kader dari IPM Gowa yang datang jauh-jauh hanya untuk mengikuti PKM TM II. Alhasil mereka menemukan kekecewaan yang luar biasa walau mereka tak ungkapkan tetapi Aku tahu mereka sangat kecewa dengan apa yang telah terjadi. Aku tak tahu lagi harus berbuat apa dan bagaimana. Semua seakan-akan sirna sudah. Tak terbayangkan, banyak yang bertanya, ada apa? Kenapa bisa terjadi?. Bibirku seakan keluh tak bisa menjawab dengan jawaban yang pas bagi mereka. Aku hanya mencoba melakukan yang bisa membuat mereka berhenti bertanya.
Jika Aku mengangkat sebuah tema yang menurutku cukup menggugah orang yang membacanya. Maka bukan hanya gugahan yang Aku butuhkan tetapi manifestasi dari tema tersebut. Ya, sebuah karya nyata untuk IPM Jeneponto. Semua itu hanyalah omong kosong belaka. Katanya, ada yang mau ikut tetapi sampai acara mau dimulai hingga Aku batalkan hanyalah dua orang yaitu Sekretaris Umum dan Ketua Bidang Kader dalam hal ini Wahyu dan Niar.
Merekalah yang Aku harapkan bisa menjadikan mereka punya nyali dalam berIPM. Apakah mereka punya nyali. Saya yakin dan percaya mereka punya. Mengapa demikian? Buktinya mereka datang dan hadir sebagai peseta TM II. Maafkan Aku Bu Niar kamu sangat kecewa dan hatimu meronta agar TM II diadakan. Sekali lagi Aku mohon maaf. Semua ini diluar kemanpuanku sebagai ketua. Aku beberapa personil saja yang bergerak, ada wahyu, hasrullah dan Aku sendiri. Mana bisa berjalan maksimal jika hanya kami bertiga. Padahal banyak loh nama yang terpampang di SK. Mereka semua hanyalah nama bukan aksi. Itu yang tidak Aku inginkan sama sekali. Jika ada yang protes silahkan. Datang padaku. Tunjukkan batang hidunmu di depanku Aku tak takut.
Oh tidak, kalian semua hanya omong kosong belaka. Aku menulis dan berbicara ini dengan penuh murka yang teramat dalam. Aku hanya bisa tuliskan lewat tulisan ini mudah-mudahan kalian semua membacanya. Atau siapa saja. Aku tuliskan ini sebagai pesan untuk kalian yang masih punya jiwa IPM dalam dada kalian. Sekarang ini Aku tak lagi membutuhkan omongan kalian yang hanya punya konsep tetapi Aku beri nilai 0 (nol) besar. Aku sadar bahwa tulisan ini hanyalah sebagai pelipur laraku.
Sekali lagi, tulisan ini mudah-mudahan kalian semua punya militansi dan loyalitas dalam berIPM. Namun, semua itu hanyalah impian dan mimpi yang semu seperti fatamorgana di ujung saja. Mana nyalimu berIPM.
Rasa terima kasihku pada Seorang sosok yang masih ingin IPM Jeneponto bangkit dan Berjaya kusebut namanya Bang Lawa. Ya, beliau bernama lengkap Muh. Syahrir Sarea. Aku tak bermaksud mengkultuskan namanya. Tetapi beliaulah yang terus memberikan suppor bagaimana IPM Jeneponto Jaya. Betul sekali yang dikatakan oleh Kakanda Syahrul “setiap kepemimpinan itu ada kemunduran dan kejayaan dan mudah-mudahan ditanganmu kejayaan itu ada”. Aku berusaha terus membuktikan kata-kata itu bahwa Aku bisa berbuat dan IPM Jeneponto jaya kembali. Tetapi sampai kini. Semangat itu hampir sirna dan boleh jadi Aku ingin rehat sejenak berpikir untuk berbuat atau tidak.
Semua harus tahu, bahwa boleh jadi tak lama lagi Aku akan pergi meninggalkan Jeneponto dan ke daerah lain yang akan ditunjuk oleh PWM Sulsel dan Pimpinan PUT Unismuh Makassar. Sampai detik ini hatiku masih kalut dan tak tahu harus berbuat apa. Aku teringat semua pesan singkat “Ikuti kata hatimu”. Jika demikian, Maka setelah ramadhan Aku hendak menghadap Pimpinan PUT Unismuh Makassar untuk mencari tempat lain selain Jeneponto.
Semua harus tahu, bahwa Muhammadiyah di Jeneponto hanyalah semua nama dan konsep yang tak pernah diaplikasikan, ruhnya telah hilang entah kemana. Tetapi masih ada harapan dari Aisyiyah yang terus bergerilya dan terus bergerak agar Muhammadiyah tetap ada.
Semua harus tahu, bahwa sampai detik ini PUSDAM masih dalam perbaikan. Boleh jadi ini juga yang menjadi kendala di dalam setiap kegiatan. Tetapi syukur Ketua PDM  terus mengupayakan agar PUSDAM dalam periodenya untuk merampungkan semuanya. Jika kita lihat masih tak layak pakai. Untung masih ada ruang disampingnya yang sampai saat ini ditempati rapat.
Sekali lagi, bahwa tulisan ini hanyalah untuk menjauhkan rasa gelisah, malu, kecewa, sedih, dan lagi naluriku muncul kembali. Aku mengeluarkan butiran mutiara-mutiara indah di pipiku sebagai rasa pelampiasan dari apa yang Aku alami. Masih adakah yang peka dengan apa yang Aku lakukan hari ini. Semua harus tahu. Semua itu Aku lakukan bukan untuk Aku, dirimu, dirinya. Tetapi MUHAMMADIYAH.
Akhirnya, tulisan ini jadi juga. Dan Aku berharap tulisan ini akan abadi sepanjang zaman walau raga dan jiwaku telah terpisah. Aku ingin merawat keabadian dengan zaman. Semua harus tahu inilah salah satu caraku melepas keresahan di hatiku.
Satu lagi, Aku hampir lupa bahwa ternyata militansi kader dalam gerakan baik di Muhammadiyah, Aisyiyah, Pemuda, Nasyiah, IMM, HW, Tapak Suci dan khusus IPM masih kurang. Itu menjadi PR untuk kita semua.



Rabu, 07 Juni 2017

AKULAH SI PELAJAN KAKI

Ismayanti Syam(Mahasiswa UNM semester 4)
Akulah si Pejalan Kaki
Mikir tuk dipikir Ada Uang Tak Banyak
Dikasih mah bersyukur tdk Yach Elus dada
Banyak teman Ok lah
Kalaw banyak di syukurin aja. 


Tp apa masa iya Harus setiap waktu mereka Ada. Tdk.. mereka jg Punya kesibukan masing2
Menunggu Sudah pekerjaan Dan menganggapnya sebagai takdir. Akulah si Pejalan kaki Kuat lemah di hati. Aqlah si Pejalan kaki Yg berfikir kolot tentang Ekonomi. Aqlah si pejalan Kaki Dua arah milihnya satu. Aqlah si Pejalan kaki punya jarak tempuh dalam satu jam sampai rumah. Aqlah si pejalan kaki Petualang mlm pun selalu atw sering menyertai. Aqlah si pejalan kaki hanya bisa berkata dalam hati kapan bisa punya motor. Aqlah si pejalan kaki berharap Semua akan baik2 saja. Aqlah si pejalan kaki yg ingin mendaki gunung. Aqlah si pejalan kaki pernah takut tak bisa jalan kaki. Aqlah si pejalan Kaki dari A.P PETTARANI sampai Bumi Taeng Permai. Aqlah si pejalan kaki Semoga tak ad yg sepwrti saya.

Aqlah si Pejalan Kaki.
22-10-2020

Selasa, 30 Mei 2017

NARASI KEHIDUPAN



 
Sandi Ibnu Syam

Dimulai dari huruf demi huruf menjadi rangkaian kata. Rangkaian kata itupun menjadi sebuah kalimat dan akhirnya menjadi paragraph. Dari setiap paragraph membentuk   menjadi halaman dalam sebuah lembaran kemudian menjadi lembaran-lembaran yang sarat akan makna dari narasi tersebut. Tak mudah untuk menuliskan konsep yang telah tertanam dalam otak dan pikiran kita. Konsep biasanya hanya sebatas retorika belaka jika tak mampu kita tuliskan.
Sama halnya dengan apa yang menjadi harapanku ingin mengabadikan zaman lewat tulisan. Namun, itu masih sulit untuk Aku wujudkan dalam sebuah tulisan. Aku tak cakap bernarasi lewat lisan apalagi narasi lewat tulisan. Aku masih belum mampu merangkai kata yang baik dan bijak untuk dibaca dan didengarkan oleh orang lain. Aku bukanlah seorang yang pandai bersyair yang mampu menggugah hati seseorang. Aku bukanlah seorang orator ulung yang mampu mempengaruhi orang lain di atas mimbar. Aku bukanlah seorang pujangga cinta mampu memikat wanita. Dan Aku bukanlah seorang bijak yang mampu melunakkan hati menjadi tentram. Tetapi, Aku adalah diriku sendiri yang ingin mempunyai secerca kreatifitas dan ingin berkarya nyata lewat tulisan ini.
Mengolah kata dalam lisan dan tulisan masih begitu sulit untuk Aku lakukan dan memang tak mudah perlu proses dari semua itu. Proses membawa sebuah perubahan yang signifikan dalam hidupku. Aku bukanlah orang kaya yang mampu membeli segala apa yang diinginkan. Aku hanyalah orang sederhana yang yang mempunyai impian besar dalam hidupku. Aku hanya berusaha menjadi pribadi yang dapat bermanfaat dengan alam sekitarku baik keluargaku, kerabat, kolega, dan siapapun itu. Aku hanya terus berusaha sesuai dengan kemampuanku tak lebih dan tak kurang.
Aku ingin menuliskan sebuah cerita dalam narasiku. Aku pikir apakah Aku mampu menuliskan hal itu atau malah sebaliknya. Intinya Aku hanya berikhtiar mencapai angan yang tak kesampaian. Mimpi yang masih terkubur dalam benakku. Impian yang masih sebatas konsep tak terjewantahkan dalam karya nyata. Aku seaka terobsesi sekali dengan tema yang diangkat oleh Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah Sulawesi Selatan periode 2016 – 2018. Dengan beberapa kata kunci dari tema tersebut seperti kata “optimalisasi”,“Daya Kreatif”, “berkemajuan” dan “berkarya nyata”. Selama ini memang masih jarang dan sangat terbatas yang ingin betul-betul berkarya nyata dalam hidupnya. Apakah karena motivasi dalam mengarungi hidup itu tidak terlalu bermakna.
Kehidupan ini semakin bergulir dengan berpacu kecepatan waktu, ruang, gerak dan segala aspek yang mengelilinginya. Narasi kehidupan ini bagai tak tentu arah yang bias saja diterjang ombak yang besar dengan jurang yang sangat dalam. Alamak, ngerihnya kehidupan ini yang telah terkontaminasi oleh berbaagai kepentingan belaka. Mengejar karir, harta, tahta dan termasuk wanita. Sebuah itu adalah perhiasan dunia yang mampu membuat seseorang mabuk kepayang tak berperih.
Sejalan dengan itu, narasi kehidupan ini mulai amburadul tak beraturan system disana disini diganti jika tak cocok dengan kelompok tertentu. Inilah betapa rumitnya narasi kehidupan ini bagai macet ditengah jalan. Narasi kehidupan itu hampir hilang bersama bayangannya. Narasi kehidupan itu hampir ditelan waktu. Nyatanya, narasi kehidupan itu tersangkut di sebuah tempat yang sangat dalam. Hanya orang yang mempunyai keberanian yang bias mendapatkannya. Hanyalah mereka yang berani berkorban demi orang banyak. Hanylah mereka yang ingin menyisihkan waktunya walau hanya sejenak saja. Hanyalah mereka yang tak putus asa mengarungi nasibnya. Dan bagi mereka yang masih mempunyai harapan untuk mendapatkan narasi kehidupan itu.
Semua itu karena lekang oleh waktu, jarak dan ruang yang mengelilingi kita semua. Apakah kita bisa membuat narasi kehidupan itu dengan baik atau malah sebaliknya. Tentunya itu semua hanyalah waktu yang bisa menjawab dari apa yang menjadi tanggungjawab kita bersama. Hari ini masih begitu sulit merangkai narasi kehidupan tersebut. Masih ada saja hal yang menjadi tantangan dan hambatan yang menjadi penghalang dari apa yang mesti dilakukan oleh kita. Masih ada saja yang ingin memutus tali mata rantai kita dalam bergerak tetapi itulah setitik narasi kehidupan kita.
Banyak yang menyangka bahwa orang yang narasi kehidupannya baik nyatanya mempunyai keterbatasan dalam geraknya. Apakah telah berakhir. Nyatanya belum masih banyak hal yang memang menjadi pekerjaan rumah untuk diselesaikan dan itu butuh proses panjang atau pendek tergantung bagaimana mengelola waktu menjadi baik dari apa yang telah menjadi rencana bersama. Bahkan ada juga yang ingin membuat narasi kehidupannya sendiri. Sebab Tuhan mengatakan hal itu dalam Kitab-Nya yang agung. Tinggal bagaimana narasi kehidupan itu menjadi baik.
 Entahlah apakah itu akan terwujud atau tidak. Sekali lagi hanya persoalan waktu dan usaha yang bisa dilakukan melalui doa-doa kita agar narasi kehidupan tersebut tak lekang oleh waktu. Boleh jadi hari ini, besok atau itu akan terwujud suatu saat nanti dimana saat yang tepat dan benar dalam aktivitas yang dilakukan. Sekali lagi tak mudah untuk meraih kebahagiaan dengan narasi kehidupan yang baik dan bijak dalam mengambil sebuah tindakan.
Aku baru tersadarkan bahwa narasi itu masih panjang dan Aku masih butuh kekuatan untuk meraihnya. Aku masih tetap disini berdiam sejenak apakah Aku bisa atau tidak. Aku akan selalu berdoa agar narasi kehidupan itu masih bisa Aku dapatkan meski hanyalah setitik dari narasi kehidupan yang ada. Memang, harus Aku akui bahwa tiada keberhasilan tanpa ada sebuah pengorbanan baik itu pikiran, tenaga, materi dan lain-lainnya yang bisa mengnartkanku untuk meraih secerca harapan tersebut.
Akhirnya sampai disinilah kutuliskan narasiku untukmu, untuknya dan untuk kita semua. Aku tak berharap lebih jika memang suatu saat nanti itu tak terjawabkan. Aku hanya memohon kepada Tuhan agar dikuatkan hatiku dandilapangkan hatiku menerima segala apa yang menjadi resiko dalam setiap keputusanku. Tersadarku dalam hidupku. Aku hanyalah manusia biasa yang masih banyak kekurangan dan keterbatasan. Terkadang congkak dan ambisisus dalam sikapku. Tetapi Aku senantiasa mencoba tersadar dari apa yang menjadi tanggungjawabku sebagai khalifah di bumi Tuhan sebagai bagian dari narasi kehidupanku dengan sedikit senyuman paling manis dan merekah kepada alam semesta.

MERAWAT KEGELISAHAN

Sandi Ibnu Syam
(Ketua Umum PD IPM Jeneponto)

Jika Aku harus hijrah kembali maka Aku akan lebih matangkan hatiku ikhlas. Sebab itulah satu-satunya mengharap ridha-Nya. Memang tak mudah mengambil sebuah keputusan yang tepat dari segala apa yang telah kita lakukan. Jalan terjal selalu meghampiri kita namun seiring dengan itu jalan lain itupun selalu ada. Hanya satu hal yaitu dengan keyakinan kita kepada sang Khaliq bahwa segala apa yang telah terjadi karena sunnatullah walau harus disadari ada usaha yang kita lakukan.
Dilematis itu selalu menghantui diriku, diri ini seakan goyah tak berperih selalu saja ada sesuatu yang mengganjal, nyatanya itu sebuah keragu-raguan. Dan keragu-raguan itu datangnya dari bisikan syaithan. Kategori syaithan pun ada dua macam. Syaithan dari bentuk jin makhluk ghaib tak kasat mata dan syaithan dari bentuk manusia yang kasat mata. Ini dapat kita sinyalir dari sebuah ayat dalam Al-Qur’an yang terdapat pada Qur’an Surah An-Nas ayat 6 yang berbunyi, “Dari godaan Jin dan manusia”,
Ayat di atas mengisyaratkan kepada kita sebagai manusia untuk selalu berhati-hati dalam mengambil sebuah keputusan. Apakah keputusan itu tepat atau malah sebaliknya kurang tepat. Hanya ada satu hal yang bias kita lakukan dengan senantiasa yakin kepada Allah swt. atas segala apa yang kita lakukan dengan terus memohon dengan petunjuk-Nya.
Ada satu hadits yang terdapat dalam Hadits Arbain An-Nawawiyah hadits ke-11 tentang meninggalkan sesuatu yang meragukan. Hadits itu berbunyi, Dari Abu Muhammad Hasan bin Ali bin Abu Thalib ra., cucu dan kesayangan Rasulullah saw. Berkata: Saya hafal dari Rasulullah saw, “Tinggalkanlah apa yang meragukanmu dan kerjakanlah apa yang tidak meragukanmu.” (HR. Tirmidzi dan Nasa’I, Tirmidzi berkomentar, “ini adalah hadits hasan sahih.”)
 Kiranya hadits di atas bias kita lakukan dimana dan kapanpun kita berada serta segala aktivitas yang akan kita lakukan. Persoalan keraguan itu selalu saja menghampiri siapa saja baik kalangan bawah, menengah dan kalangan atas. Sebenarnya, ragu, gelisah, sedih, apapun itu semua itu hanya satu dari sekian ujian yang Allah berikan kepada hambanya. Terkadang Allah menguji hambanya dengan kesenangan, kesedihan dan kesabaran. Tiga hal itu berpacu dalam satu melodi cinta, bahwa Allah begitu dekat dengan kita. Nyatanya kitalah seorang manusia terkadang lupa dan kita seakan-akan lupa kepadanya.
Jika demikian, ada satu hal yang mestinya seorang hamba harus tahu, boleh jadi kita pernah melakukan satu kesalahan (baca:dosa) atau beberapa kesalahan terhadap sang Khaliq lalu ia menimpakan kepada kita sebuah musibah. Dalam Al-Qur’an beberapa ayat menjelaskan hal itu tentang musibah yang menimpa diri masing-masing hamba. Itu terjadi ketika apa yang pernah kita lakukan itu telah kita lupakan lalu kemudian Allah menimpakan musibah tersebut.
Ujian atau musibah itu sesuatu yang pasti akan menimpa siapa, dimana dan kapanpun itu. Telah jelas dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 155-156, bunyinya, “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan, harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu apabila orang-orang ditimpa musibah, mereka berkata, “Inna lillah wa inna ilaihi raji’un (sesungghnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali.”
Mari terus berbenah hati, tiada yang dapat membolak-balikkan hati seorang hamba kecuali Allah. Yah, kembali ke jalan Allah dengan jalan yang lurus bukan jalan yang sesat dan bukan pula jalan yang dimurkai-Nya. Istiqamahkan hati kita kepada Allah, kita harus yakin bahwa Allah adalah Pemberi rezeki, jodoh, kesehatan, kesempatan dan lain-lainnya. Mari kita lapangkan dada kita sebagaimana Nabi Muhammad saw . dilapangkan hatinya oleh Allah yang terdapat dalam Qur’an Surah Al-Insyirah ayat 1, bunyinya, “Bukankah Kami telah melapangkan dadamu(Muhammad)?,
Ayat ini menandakan bahwa seorang hamba hatinya harus lapang(baca:luas) sebab hati umpama wadah atau tempat untuk meletakkan sesuatu. Jika wadah itu sempit tidak akan menampung sesuatu itu, namun jika wadahnya luas maka wadah tersebut akan menampung segala sesuatunya. Sekali lagi mari lapangkan dada kita segala apa yang terjadi disana ada sebuah petunjuk Allah bahwa masih ada secerca harapan. Sebab hamba yang ketika musibah menimpanya Allah sangat rindu mendengar rintihan, keluhan hambanya. Malaikat akan turun ke bumi melihat hamba Allah yang merasa kekurangan baik jiwa, harta, motivasi kemudian Malaikat menghadap Kepada Allah untuk melaporkan bahwa ada hamba-MU yang tertimpa masibah dan senantiasa menyebut nama-Mu.
Segala penyakit baik fisik mapun psikis ada obatnya, tinggal bagaimana obat tersebut kita temukan dengan mencari dimana obat tersebut berada. Intinya, tidak ada kata putus asa sebab putus asa hanya bagi mereka yang ingkar terhadap nikmat Allah. Telah jelas dalam Qur’an Surah Yusuf ayat 87 bunyinya, “Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang kafir,”.
Marilah kita untuk terus berusaha agar rahmat Allah selalu mengelilingi kita. Agar rahmat tersebut kita jaga dan tentu Allah akan memberikan rahmat-Nya kepada kita semua. Semua itu tidak akan tercapai jika bukan dari pribadi hamba tersebut. Sebab hanya kita masing-masing yang dapat mengubah semua itu. Sebagaimana dalam firman Allah Qur’an Surah Ar-Rad ayat 11, bunyinya, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah nasib mereka,”. Apakah ini tidak jelas, tentu jelaslah.
Intinya seorang hamba harus senantiasa mengingat Allah swt. “Maka ingatlah kepada-Ku. Akupun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan jangan kamu ingkar kepada-Ku.(QS.Albaqarah:152). Mengapa demikian, “Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah yang mendapat petunjuk,”(QS.Al-Baqarah:157).  Sebuah petunjuk Tuhan kepada manusia jika mereka ingat dan bersyukur kepada Tuhan kita Allah swt. dan mudah-mudahan kita semua tidak mendustakan segala nikmat yang Allah berikan kepada hamba_Nya. “Maka nikmat yang manakah yang kamu dustakan?”. Oleh karena itu, seorang hamba Allah janganlah lupa kepada-Nya apalagi jika seakan-akan lupa kepada-Nya maka Allah akan melupakan untuk diri kita masing-masing.
“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.”(QS.Al-Hasyr:19). Ngeri juga yah. Tiada yang yang pantas kita ucapkan kecuali Maha suci Allah, Tuhan semesta Alam. Kiranya ini sebagai pengingat bagi mereka yang lupa. Sebagai penerang obor bagi mereka yang diliputi rahmat dan sebagai renungan bagi mereka yang ingkar dan sombong akan kekuasaan Allah.
Tulisan di atas hanyalah untuk merawat kegelisahan yang menimpa diriku dengan menulis untuk mengabadikan zaman. Tak lebih dan tak kurang hanya sebagai pelipur laraku dalam setiap kegundahan karena Aku yakin Allah bersama orang-orang yang sabar dan semoga ini sebagai kabar gembira dari Allah sebagaimana dalam firman-Nya, bunyinya, “Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “ Tuhan kami adalah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), “janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati, dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu”.
Aku berharap kepada Allah, dengan segala musibah yang menimpaku selama ini semoga itu menjadi penggugur dosa-dosaku baik yang sengaja Aku lakukan maupun yang tidak sengaja Aku lakukan. Kiranya inilah caraku merawat kegelisahanku dan mengabadikan zaman dengan cara menuliskan isi hatiku yang tak mampu Aku utarakan lewat lisan. Sekali ini hanyalah caraku mengolah hati agar menjadi tenang dengan mengingat Allah swt. dengan mengingat Firman Allah, “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentramdengan mengingat Allah. Ingatlah,hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram,”(QS. Ar-Rad:28).